Setelah balas singkat dari pesan Saga, Arra menaruh ponselnya dikantong celananya lalu mencuci tangan sebelum ia kembali.
Saat Arra kembali, Bima tidak ada dikursinya. Arra celingak-celinguk mencari keberadaan Bima, namun meski begitu ia tetap duduk dan melanjutkan makan siang tadi sambil menunggu Bima.
Karena Bima lama tidak datang, Arra sudah selesai makan. "Bima mana, 'sih?" tanyanya pada diri sendiri.
Sudah bosan dan badan mulai pegal-pegal, Arra berinisiatif untuk meninggalkan Bima saja, ia pun segera pergi naik ke lantai atas untuk ke kamarnya.
Sebuah informasi saja, dimeja lobby ini hanya ada makanan Bima jadi Arra tidak segan meninggalkan ini semua.
Arra menekan tombol naik lifnya.
"Mbak? Lagi hamil ya?" tanya seseorang disampingnya.
Sontak Arra menoleh. "Eh iya, Mbak," jawab Arra sambil tersenyum.
"Oohh, aura mba cantik banget, kayaknya anaknya cowo deh," katanya lagi.
Arra tersenyum malu. "Mbak bisa aja, emang iya ya kalo auranya bersih, cantik, itu anaknya cowok? Terus kalo semisal anaknya cewek?"
"Kalo anaknya cewek biasanya sih ibunya suka dandan gitu, terus suka pake baju warna soft gitu, eh tapi ini mbak nya nggak dandan aja udah cantik banget gini," puji wanita itu sambil tersenyum.
"Ya ampun bisa aja, eh naik yuk," ajak Arra.
Wanita itu mengangguk.
"Nginep di kamar nomor berapa?" tanya Arra.
"Oh di 15," jawabnya.
Arra langsung mengerutkan keningnya. "Kamar 15? Beneran?"
Wanita itu mengangguk lagi. "Kenapa, mbak?"
"Ooh nggak, hm.. kita selantai kebetulan, itu maksudnya he-he," kata Arra sedikit canggung.
Jadi maksudnya ini si Bima nginep sama pacarnya bareng? Astaghfirullah Bim. gumam Arra dalam hati.
"Oh! Ih bagus dong kalo gitu, kamu nomor berapa emang?" tanya wanita itu.
"13, yuk." Mereka pun keluar lift.
"Eh! Kak Bim! Abis dari mana?"
Arra menolehkan kepalanya ke arah Bima, lalu beralih ke wanita yang ada disebelahnya.
Kak Bim? tanya Arra dalam hati.
"Abis dari bawah," jawab Bima, lalu ia menghampiri Arra. "Ra, maaf yaa, tadi aku ketemu klien gitu, dia nggak bisa lama-lama jadi aku keluar buat nemuin dia, oh iya ini adik aku namanya Bianca."
"Astaga, adik kamu???! Ya ampun belum kenalan tadi, padahal udah ngobrol agak panjang," kata Arra.
"Aku Arra." Arra mengulurkan tangannya.
"Bianca." Bianca tiba-tiba menepuk pundak Bima. "Kak! Ini Kak Arra udah punya suami loh, kakak jangan naksir ya, kelihatannya kayak naksir gitu pas bilang maaf."
Arra hanya tersenyum kikuk. "Nggak mungkin kok, Bi, tenang aja."
Bima menggaruk tengkuknya. "Nggak, Dik, apa sih kamu. Udah yuk ke kamar," ajak Bima. "Ra, aku ke kamar dulu ya."
"Dahh Kak Arra!"
Arra menganggukkan kepalanya lalu melambaikan tangan singkat pada mereka berdua.
drrt drtt drrt
Bukan pesan masuk, melainkan telfon masuk.
Arra menghela napasnya lalu mengangkat telfon itu.
"Halo?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Nikah Muda
RomansaSQUEL MY POSSESSIVE BOYFRIEND ❗Hanya ganti judul, isi cerita tetap sama🕊️ Cerita ini ringan, tanpa adanya konflik berat. Kalau kurang suka, bisa skip, yang suka bisa dibaca yaa!🌷 Kisah cinta seorang Arrabelle yang tidak pernah berjalan mulus, kein...
