Camellia Shannon Philips sangat terpukul setelah mengetahui pria yang dinikahinya selama ini hanya memanfaatkannya. Berselingkuh dan terang-terangan mengatakan tidak mencintainya setelah merampas seluruh harta milik Camellia, suaminya Samuel pun me...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Atensi mata itu membulat sempurna, ia terkejut saat terbangun dalam pangkuan pria itu, kedua tangan Felix memeluknya erat. Tak berhenti terus menatapnya dengan khawatir napasnya ikut memburu.
"Uh...Apa kau baik- baik saja? Apa yang kamu mimpikan, umh?" tanyanya dengan lembut membelai pipi Camelia yang terasa hangat.
Saat itu, Camelia tidak mempercayainya telinganya. Ia masih terlihat kaku dengan mata yang terus menatap lekat wajah Felix yang dipenuhi kekhawatiran, mata memperlihatkan seseorang yang sangat jatuh cinta padanya.
"Aku bermimpi buruk—"
"Tentang apa?" sambung Felix, ia terus mengusap pipi Camelia sedikit merunduk mengecup puncak kepala wanita itu. "Ceritakan padaku jika kau tidak keberatan."
Camelia merasa jauh lebih tenang, napas juga tak lagi terburu- buru. "Tentang kematianku," jawabnya meremas lengan kemeja Felix. "Aku takut...Sangat takut Felix," lirihnya dengan bulir panas yang mengalir dikedua matanya.
Kedua mata Felix terlihat menyala, rahangnya mengeras. Giginya gemeretak melihat wanitanya menangis dan mengatakan ketakutannya secara terbuka. "Dengarkan aku Camelia, tidak ada yang bisa mencelakai dirimu. I never kill other people, but if they touch mine I will kill them!!"
Camelia tidak menjawab apapun bibirnya tertutup rapat, ia takut melihat kemarahan itu di mata Felix. Kedua tangannya yang meremas lengan kemeja pria itu, kini berpindah keduanya dikalungkan pada leher Felix yang mengangkat tubuhnya turun dari ranjang membuka pintu tanpa mengatakan apapun. Camelia hanya menyembunyikan wajahnya di dada keras yang begitu kokoh untuk melindunginya dari segala ancaman yang mungkin akan terjadi, Felix terdengar beberapa kali menarik napas dalam- dalam serta berhembus kasar.
"Kau akan pindah ke dalam kamarku. Sudah aku katakan, kamar itu ranjangnya jelek bahkan membawa mimpi buruk padamu."
Camelia merasa seperti diperlakukan layaknya anak kecil yang tak ingin disalahkan. Ia yang bermimpi buruk, tapi benda mati yang tak berdosa itu terpaksa disalahkan. Matanya melihat ruangan yang luas dua kali lebih luas dari kamar sebelumnya. Saat tubuhnya dibaringkan tepat di atas ranjang yang empuk, Camelia berpikir keras apakah kamar ini juga di tempati oleh Elisa?
"Apalagi yang membuatmu berpikir keras, mi amor?" tanya Felix yang berdiri dihadapannya. Pria itu melepaskan jam mahalnya, serta jemarinya begitu cekatan melepaskan semua kancing- kancing kemeja yang membalut tubuh kokoh. Sekarang sungguh terlihat nyata dan besar sama seperti saat Camelia melihat Felix dari kejauhan saat pria itu berdiri di balkon—kali ini sungguh jelas seakan sedang mensucikan matanya.
Camelia menggeleng. "I'm fine."
Felix mendengus melipat kedua tangannya didepan dada. "No. You're not look fine...please talk to me," ucapnya memajukan langkah lalu merunduk tapi tidak membiarkan tubuhnya terjatuh di ranjang yang sama.