perturbed

107 2 0
                                        

"no lover leaves a rose garden without blood on their hands"

——————

Haura mendongakkan kepala ke atas memandang papan besar bertuliskan Mayapada Hospital yang berdiri megah di hadapannya. Langit kala itu sangat jernih dan cerah seolah memberi kesan kontras pada bangunan rumah sakit yang menjulang tinggi menantang awan itu. Tapi di bawah langit cerah itu hatinya justru merasa kalut. Dengan kenyataan ia berada di rumah sakit sekarang bukankah artinya memang ada hal buruk yang terjadi? Haura kembali melihat ponselnya memastikan nama rumah sakit dan alamatnya sesuai dengan yang William informasikan kemarin. Benar, kalian tidak salah lihat. Kabar buruk datang dari William kemarin pagi. Lelaki itu menghubunginya dan bertanya apakah hari ini tepat hari jumat Haura memiliki waktu luang untuk menemui ibunya yang tengah dirawat inap di Rumah Sakit atas permintaan ibu William sendiri.

Tepat saat Haura mendengar kabar tersebut hatinya mencelos. Ia membeku sejenak ketika William dengan nada lirihnya menyatakan bahwa ibunya sudah dirawat di rumah sakit sejak seminggu lalu—atau lebih tepatnya 5 hari setelah pentas drama selesai. Setitik perasaan bersalah menyelimutinya, ia merasa begitu bersalah karena bersikap abai dan tidak lagi bertukar kabar setelah putusnya hubungan antara ia dan William—dengan kenyataan seharusnya ia masih menaruh peduli pada Ibu dan Ayah William meski hanya sekedar menanyakan kabar. Seperti yang kita tahu, ibu dan ayah William sudah menganggap Haura layaknya keluarga dan sungguh kurang ajar sikap Haura yang berani menyangka putusnya dengan William adalah bentuk putusnya hubungan dengan orang tua William juga.

Langkah kecil Haura memasuki mulut rumah sakit berpintu kaca yang otomatis tergeser kesamping dengan sensor pendeteksi gerak. Saat melangkah masuk pandangannya disuguhi interior rumah sakit yang sangat megah nan luas, atap yang tinggi dan dinding kaca di sisi kanan yang menampilkan langsung pemandangan di luar gedung. Lantai dasar ini cukup ramai, beberapa perawat dan dokter berlalu lalang membawa alat-alat pemeriksaan, catatan atau bahkan membawa pasien dengan kursi roda. Di ujung sana pegawai lain juga tengah mendorong troli makan berbahan stainless steel tersebut menuju lift untuk segera didistribusikan ke pasien. Haura sontak melirik jam tangan di tangan kirinya, berpikir sepertinya memang sudah jadwal makan siang bagi pasien rawat inap.

Haura melangkah agak cepat mengejar lift sebelahnya yang hendak menutup itu, beruntungnya seseorang menahan lift tersebut sehingga Haura masih sempat naik dan tidak perlu menunggu lift selanjutnya. Tangannya menekan nomor 12 sesuai dengan instruksi yang William katakan di hari sebelumnya.

Koridor lantai 12 cukup sunyi, sesekali Haura berpapasan dengan satu atau perawat yang tengah membawa alat-alat pemeriksaan. Lantai 12 ini tidak seramai lantai dasar, hanya segelintir orang yang berlalu lalang dan berpapasan dengannya. Ia bahkan bisa mendengar suara ketukan sepatunya yang sedikit menggema di koridor yang lengang ini. Matanya menyisir ke kanan dan ke kiri memeriksa setiap nomor ruangan yang tertulis di atas pintu. Mata haura memicing ketika dari jarak lima meter ia menangkap nomor yang dimaksudkan William.

Tangan Haura hendak menggeser pintu ruangan sebelum pintu tiba-tiba tergeser dari dalam  menampilkan sosok William yang berdiri setengah kaget di ambang pintu. Haura sontak mundur perlahan, menyadari posisi keduanya teramat dekat dan hampir saja bersentuhan muka. William berdehem canggung, menunggu Haura mundur sehingga ia bisa keluar dan menutup pintu. Selama sepersekian detik itu mereka hanya terdiam membisu, apalagi Haura yang tengah menata hatinya kembali karena sempat salah tingkat dengan posisi tadi.

"A-ah, kau sudah datang?" basa-basi William

"Aku belum memberitahu ibuku soal hubungan kita," tembak William langsung kepada intinya. Tidak membutuhkan waktu lama bagi Haura mengerti arah pembicaraan William. Pasti ada hubungannya dengan bagaimana Haura bersikap pada William nanti di hadapan ibunya William. Mungkin itu juga yang membuat William terlihat buru-buru keluar ruangan untuk mencegah Haura masuk lebih dulu.

ReasonCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang