home run

104 2 0
                                        

"how much time does it take to realize that missing people doesn't bring them back?"

———

Haura memiringkan kepala menjepit ponselnya di antara telinga dan bahunya dengan tangan yang sibuk menyortir barang-barang ke dalam koper pink berukuran sedang. Lusa adalah agenda keberangkatan sekolahnya untuk study tour ke Bali setelah diskusi panjang yang dilakukan satu angkatan berbulan-bulan lalu. Agenda study tour ini terlaksana di masa liburan akhir semester yang sebenarnya cukup menguras energi bagi Haura dan siswa lain yang baru saja selesai mengakhiri remedial dramanya seminggu lalu.

"Kau bawa sendal juga?"

"Kita ke Pantai, kau mau pakai heels?"

"Benar juga. Oh! aku bawa baju 8, menurutmu berlebihan?"

"Kau mau study tour apa kabur?"

"Kurang ajar!"

Haura menjeda sebentar, menaruh ponselnya di tepi ranjang dan menjangkau barang-barang yang terletak di luar kamarnya untuk kemudian di masukkan ke koper. Hal tersebut berjalan terus selama 15 menit hingga 20 menit ke depan sambil sesekali memeriksa list barang contekan dari Julie.

Dia tersenyum lega setelah memasukkan barang terakhir ke koper. Beralih menatap ponsel yang masih menghitung detik sambungan telepon antara dirinya dan Jovan. Haura menekan tombol loudspeaker.

"Kau duduk dengan siapa?"

"Agam, kau?" tidak berselang lama laki-laki itu sudah menjawab pertanyaan-nya.

"Julie," jawab Haura lesu yang langsung dimengerti oleh Jovan.

"Kau mengkhawatirkan sesuatu?"

"Kau tahu rasanya membenci seseorang tapi di sisi lain kau merindukan momen itu?"

"Kumatikan teleponnya jika kau berbiara tentang William lagi!" keluh Jovan yang sudah muak dengan cerita repetitif Haura. Rasanya gadis itu tidak pernah absen menyebut nama William sehari. Apa mulut gadis itu gatal jika tidak menyebut nama William?

"Bukan! Maksudku Dhania, Meline dan Keisha. Aku membenci mereka karena ternyata mereka hanya pura-pura menerimaku sebagai teman karena aku kekasih William, tapi di sisi lain bukankah momen itu terasa nyata? Aku merindukannya. Rasanya aneh bertengkar dengan teman yang sebenarnya kita tidak punya permasalahan apa-apa."

Sebut Haura naif, tapi jika memang boleh berterus terang ia tidak pernah sekalipun berpikir sekotor itu dan menganggap mereka sekedar teman hanya karena mereka juga teman William. Haura merasa setiap senyum yang ia lemparkan begitu tulus, waktu yang ia habiskan untuk ada di samping mereka begitu berarti. Tapi inikah yang ia dapatkan? Kenyataan bahwa selama ini mereka tidak pernah menganggap Haura teman? Apa ia tidak selayak itu untuk dijadikan teman sungguhan?

Soal drama itu, Haura memang kesal dengan Keisha yang tiba-tiba datang, tindakannya sungguh meremehkan drama ini sekaligus anggota lain yang berdarah-darah sejak hari pertama tapi apakah Keisha tahu saat ia ditarik oleh William untuk keluar Haura menatapnya sedikit sendu? Sedikit hancur? Karena ternyata perselisihan itu meninggalkan sedikit rasa bersalah di hatinya, berpikir apakah Haura terlalu meninggikan nadanya di depan teman yang dulu diam tenang mendengarkan curhatan soal William, di depan temannya yang dulu menyemangatinya saat ia tidak lulus satu mata pelajaran ujian? Pantaskah Haura sekasar itu?

"Jika aku tidak pernah putus dengan William dan rumor itu tidak terjadi apakah mereka menganggapku teman sungguhan? Maksudku mereka tidak punya salah apa-apa padaku dan kupikir aku tidak punya salah kepada mereka juga. Benar, kan?" tambah Haura.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: 2 days ago ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

ReasonCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang