slowly

93 2 0
                                        

"I Just want a day where it feels like i'm not falling apart anymore"

——————

"Kenapa? Kenapa kau menatapku begitu?"

Ucup yang di samping Raya langsung merebut ponsel Raya karena gadis itu sepersekian menit membisu membuat semua orang penasaran. Setelah Ucup berhasil melihat apa yang ada di ponsel ia membeku juga, ponsel tersebut kembali direbut oleh Agam yang berada di sampingnya. Siklus yang terus menerus terjadi hingga ponsel tersebut berhenti di

"Ada apa? Kenapa kalian menatapku seperti itu?"

Kini Jovan merebut ponsel tersebut, untungnya lelaki itu sudi menunjukkan layarnya juga pada Haura sehingga ia bisa mengamati jelas kegelisahan orang-orang di hadapannya ini. Haura refleks menutup mulut ketika melihat foto tersebut. Ia dan Jovan saling berpandangan sekilas, Jovan juga menganggap situasi ini membingungkan. Ya, itu adalah sebuah foto dimana Haura dan Lukas tengah berdiri di koridor ruang guru yang sepi setelah Bu Riana memanggil setiap ketua kelompok drama dari 3 kelas.

"Apa yang kau lakukan dengan Lukas disini?" tanya Raya memecah hening.

"Aku bersumpah ini tidak seperti yang kau pikirkan!"

Masih ada raut keraguan di wajah Raya. "Aku tidak bermaksud membahas hubungan kalian berdua, tapi William pernah mengumumkan bahwa kau yang selingkuh. Apa orang itu Lukas?"

"Bukan! Itu bukan Lukas! Aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Lukas!" Haura ingat, di dalam foto ini mereka membicarakan tentang William yang sempat menghajar Lukas di tengah hujan dan laki-laki ini hanya mengajukan negosiasi untuk William meminta maaf. Sungguh hanya itu. Tangan Haura menggeser melihat foto selanjutnya yang menunjukkan Haura dan Lukas berada di satu ruangan yang sama hanya berdua.

Haura menghela napas kesal. Kenapa kedua foto itu tergambar seolah-olah mereka sedang melakukan pertemuan yang memang terlihat seperti sedang merencanakan kencan diam-diam alias selingkuh. Siapa yang berani mengambil gambar ambigu di saat Haura dan Lukas tengah berdua saja? Haura bersumpah beberapa detik sebelum ini ada Gisela dan Bu Riana. Mereka hanya keluar sebentar dan kembali ke ruangan.

"Raya, kau salah paham. Kau tahukan Lukas juga penanggung jawab drama 2-3?"

Raya tidak lantas merespon pembelaan diri dari Haura, ia justru menoleh menatap William yang sepertinya setengah bingung dengan situasi. "William benarkah itu?"

Haura menggerutu dalam hati. Kenapa Raya harus meminta validasi pada William? Lelaki itu tidak akan tahu atau bahkan peduli kegiatan apakah antara dirinya dan Lukas meski kenyataannya itu bukan kegiatan yang mencurigakan. Kini semua mata menatap William penuh tanda tanya, berharap memberikan jawaban yang aman.

William terdiam sejenak. Saat ini ada banyak bisikan dalam kepala yang mendistraksi jawabannya. Jika William menjawab iya, bukankah artinya William bisa mendekati Raya karena secara tidak langsung hubungan mereka akan renggang. Tapi tentu saja terlalu berisiko untuk Haura karena fitnah itu terlalu jauh. Bukankah sudah cukup William menuduhnya selingkuh? Tapi jika William menjawab tidak, kapan lagi kesempatan semacam ini datang? Kesempatan dimana William akhirnya bisa berperan sebagai pahlawan yang selalu ada untuk Raya. Bola mata William tak sengaja bertemu dengan mata Haura, dan entah kenapa saat melihat sorot mata yang memukau itu hasrat untuk mendapatkan Raya yang dulu sempat menggebu-gebu kini seketika hilang. Seketika lenyap menjadi hasrat yang baru.

"William benarkah itu? Saat kau menangkap basah Haura selingkuh lelaki itu bukan Lukas?" tanya Raya sekali lagi. William tersadar, menatap Raya yang mengajukan pertanyaan. Hal tidak masuk akal lagi-lagi merasuki pikirannya. Tidak, hal tersebut tidak boleh mendistraksi tujuan yang sudah dari awal William tetapkan. Yakni mendapatkan Raya.

ReasonCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang