drawn-out attention

68 2 0
                                        

"it starts to linger"

——————

"Serius Anetta sedang dalam perjalanan kesini?" tanya Julie girang. Gadis itu menatap ponsel Haura yang menunjukkan riwayat pesan dengan Anetta. Haura mengangguk gugup dengan seulas senyum lega ketika notifikasi itu masuk. Ia pikir drama ini akan berjalan tanpa Anetta karena jika memang Anetta tidak ikut serta tidak ada yang menggantikan perannya. Semua orang sudah mendapatkan tugas yang cukup pelik dan rasanya tak tega Haura menyuruh anggotanya secara acak untuk mengganti peran Anetta.

Sempat ia berpikir dramanya akan kacau karena kejadian 2 hari lalu. Ternyata Anetta masih nekat melakukan pentas ini di tengah rumitnya permasalahan Anetta.

"Tapi tidakkah kau khawatir ibunya akan meledak seperti sebelumnya?" kekhawatiran Julie itu sudah Haura pikirkan sejak tadi.

"Benar, aku khawatir tapi jika aku akan menghadapi ibunya lagi setidaknya perasaanku lega karena Anetta sudah melakukan pentas ini. Aku hanya perlu pasrah."

"Hey, jangan terlalu pasrah juga. Kau harus membela dirimu."

Ada saat dimana Haura berani menjatuhkan harga dirinya jika itu memang untuk sesuatu yang lebih berarti. Jika jalan mendapatkan nilai sempurna itu tidak mulus tapi bisa membuatnya meraih validasi ayahnya bukankah itu lebih penting? Ia rela diinjak orang asing, asal bukan ayahnya. Asal bukan ayahnya yang menginjak harga dirinya saat itu.

"Ya lain kali aku akan lebih tegas," Haura tersenyum, tetap menerima saran itu sebagai bentuk kemajuan dalam dirinya. Mungkin benar, ia harus lebih tegas perihal lain.

Jam tangan Haura menunjukkan pukul 09.00 pagi yang artinya 1 jam lagi pentas drama dari kelas 2-1 usai. Haura bergerak resah kesana-kemarin sambil memandang jam tangannya dan keadaan sekitar yang masih setengah siap. Beberapa anggota masih melengkapi aksesoris kostumnya, menjernihkan suaranya, menghapal gesture-nya termasuk Anetta yang masih dalam perjalanan. Dialog Haura pada drama memang sedikit, mengingat ia merangkap sebagai ketua, pembaca narasi dan lebih bergerak aktif di backstage membuat Haura lebih mengkhawatirkan performa anggota lain daripada dirinya. Seperti, akankah mereka berhenti gugup saat di atas panggung? Apakah lampu sorot itu tidak menyilaukan dan mengganggu pandangan? Apakah ribuan siswa yang duduk rapi di depannya tidak mengintimidasi? Atau Akankah Bu Riana memberikan penilaian yang bagus terutama dirinya sebagai ketua? Sungguh hanya itu yang Haura pikirkan.

Backstage yang setengah redup itu tidak menghalangi ekor mata William yang menangkap kegelisahan ketua kelompoknya. William berdiri tak jauh dari posisi Haura yang mondar-mandir diri di mulut panggung hanya untuk mengintip sejauh mana performa kelas 2-1 sudah berjalan. William menyender pada dinding curi-curi pandang memperhatikan Haura ditemani Zetta di sampingnya yang masih komat-kamit menghapal adegan terakhir dalam naskah. Ias sudah mendengar kabar Anetta—yang secara tidak sadar menimbulkan setitik kelegaan dalam hatinya juga, karena ternyata William mulai menaruh rasa peduli dengan berjalannya drama ini sebagaimana Haura memperdulikan dramanya juga. Sudut bibirnya tak sadar tersenyum tipis menyaksikan Haura yang setengah lega dan setengah gugup itu. Entah setan mana yang merasuki pikirannya hingga di titik dimana William menganggap senyum itu mulai terlihat menawan. Menciptakan ketenangan yang William tidak sadari karena tiba-tiba saja hatinya mencelos lega. Apa ia sudah menerima Haura sebagai teman di saat beberapa minggu sebelumnya William begitu benci melihat wajah mantan kekasihnya itu.

Tunggu?!

Sial!

William tersadar dan langsung menampar pipinya tiba-tiba. Ia kira pikirannya berhenti di narasi di mana ia mulai mengangap Haura teman. Ternyata setan itu mengelabui pikirannya untuk membayangkan juga kemungkinan bahwa William jatuh cinta pada Haura.

ReasonCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang