Gue bukan anak durhaka yang akan diam aja kalau liat ayah sakit.
Tenggorokan Langit kering, ia menulis pesan ke Michelle untuk mengambil minum sebentar. Sedangkan telponnya ia biarkan menyala dan ia bawa. Ketika menuruni tangga, ia bertemu dengan Laut. Hal itu membuat Langit bingung karena hanya Laut seorang diri.
Kemudian Langit menulis di note ponselnya. Ia memiliki perasaan tidak enak, karena tidak ada Senja dan ayahnya.
"Ayah ke mana?"
"Ayah di rumah sakit, sakit jantungnya kambuh lagi." Laut membalas itu dengan sedih.
Firasatnya sebagai seorang anak ternyata benar. Entah kenapa mendengar itu membuat Langit sedih dan khawatir. Ia ingin melihat keadaan ayahnya. Padahal mereka pergi meninggalkannya tadi, tapi ketika mendengar ayahnya sakit membuat hatinya tak bisa untuk tidak iba.
"Keadaan ayah gimana? Dia baik-baik aja."
"Belum tau kak," balas Laut. Senja belum menghubunginya lagi.
"Gue ke sana, ya?"
"Jangan kak hujan tadi, lagian nanti ayah malah marah kalau lo dateng, kayak waktu itu." Laut khawatir, ia tidak mau Langit kenapa-napa di luar hujan, bukan hanya itu. Respon sang ayah pada Langit sangatlah buruk, bahkan pernah mengusir Langit ketika Langit menjaga Ayah di rumah sakit.
"Cuma hujan air gak apa-apa selagi gue bisa ke sana gue bakal liat ayah." Langit tak peduli hujan atau ia akan diusir ayahnya lagi. Ia hanya ingin melihat keadaan ayahnya di sana. Ia sangat khawatir. Berharap ayahnya baik-baik saja. Meski Langit dulu juga pernah seperti ini, ketika ia menjaga ayahnya disaat sakit. Ayahnya malah mengusirnya.
"Hati-hati di jalan, maaf ya kak, tadi kita pergi tanpa lo."
Mendengar itu Langit hanya tersenyum kecil. Ia sudah terbiasa dengan hal itu. Jadi untuk apa meminta maaf. Memang bukanlah hal biasa, jadi ia rasa tak masalah.
Laut terdiam memandang kepergian Langit. Padahal ayahnya sudah jahat sama Langit. Tapi kenapa Langit masih perhatian sama ayah ketika sakit. Sedangkan ayah ketika Langit sakit dan hampir mati malah bahagia.
Langit tersadar kalau ia masih telponan tadi dengan Michelle. Lebih tepatnya Michelle yang mengoceh sendirian. Sedangkan dirinya hanya mendengarkan saja.
Langit.
- Aku matiin, aku mau pergi dulu ke rumah sakit, jantung ayah aku kumat.
Michelle.
- Ayah kamu sakit, cepet sembuh ya
- Tapi ini hujan Langit, kamu gak apa-apa? Apalagi kamu gak ada kendaraan.
Langit.
- Aku naik taksi
Michelle
- Yaudah hati-hati di jalan
Setelah mengirimi pesan itu Langit mematikan panggilannya. Ia langsung keluar dan memesan taksi. Langit akui ia memang bodoh tapi dia gak akan pernah jadi anak durhaka. Kalau mendengar ayahnya sakit, ia juga akan merasakan sakit. Ia beruntung karena masih memiliki uang dari hasil kerja kemarin. Paling gak ia bisa melihat ayahnya baik-baik saja, walaupun kehadirannya tidak akan pernah diterima oleh ayahnya.
***
Langit turun dari kendaraan umum yang ia naiki. Lalu ia berjalan hendak menyebrang ke arah rumah sakit. Ia melangkah dengan tertatih-tatih karena kakinya yang masih diperban. Derasnya hujan tak menghentikan niatnya untuk pergi ke rumah sakit

KAMU SEDANG MEMBACA
Langit juga anak ayah | Tamat
Teen Fiction"Gue gak pernah minta dilahirin, di dunia." -Langit. "Anak ayah bukan hanya Laut dan senja saja, tapi yang ayah sayang hanya mereka, langit juga nggak pernah minta untuk terlahir cacat." Langit seorang anak disabilitas yang tidak bisa berbicara, mem...