Seburuk apapun Langit di mata ayah, Langit juga anak ayah, dia darah daging ayah.
Langit hendak mengembalikan buku matematika yang ia pinjam ke perpustakaan. Ia merasa aneh, karena Michelle mengikutinya, mungkin kebetulan saja. Selesai mengembalikan buku, ia pergi ke rak buku novel. Ia tak memiliki uang untuk membeli novel, dari pada ia beli bajakan. Lebih baik ia meminjam di perpustakaan itu lebih baik, karena membeli bajakan itu merugikan penulis.
Ketika itu Langit melihat sebuah novel milik Pidi baiq yang berjudul Dilan 1990, ia mengambil buku tersebut. Ia jarang membaca novel prihal percintaan, biasanya ia baca novel tentang politik yang ditulis tereliye, fantasi, keluarga atau novel tema selain percintaan. Entah kenapa baru kali ini, ia tertarik membaca novel tentang percintaan.
"Kamu suka baca novel juga?"
Langit terkejut mendapati Michelle datang entah dari mana itu. Gadis itu mengejutkannya.
"Iya." Langit membalas menggunakan bahasa isyarat.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Langit.
Michelle mengggerakan tangannya untuk berbicara. "Ngikutin kamu, aku udah bilang kemarin. Kalau aku gak akan nyerah sampai kamu mau nerima aku jadi anggota kelompok kamu. Aku bakal ngikutin kamu terus seperti spongbobo yang selalu noror squidward, dengan perkataan selama-lamanya."
Mendengar itu Langit tersenyum miris, ia merinding. Jika Michelle menguntit dirinya terus menerus.
"Gue nggak mau anak-anak mikir macam-macam tentang kita. Gue nggak mau jadi pusat perhatian. Jadi stop ikutin gue. Gue mau sendiri aja."
"Pliss, aku belum dapat temen kelompok. Aku nggak peduli sama orang-orang yang bilang apapun tentang kita."
Langit menghembuskan napas, ia rasa percuma berbicara dengan Michelle gadis itu tidak suka penolakan. Semakin di tolak pasti akan semakin mengejarnya. Maka dari itu ia akan menerima dari pada Michelle melakukan tindakan yang lebih gila lagi.
"Ngeyel dibilangin, yaudah kita latihan buat kelompok kalau gue selesai latihan taekwondo."
"Makasih, Langit. Aku baru tahu ternyata kamu suka taekwondo, ya. Hebat kamu keren sekali!!"
Baru kali ini ada yang memuji Langit tentang hobinya yang suka taekwondo. Walaupun Langit sering menang lomba atau turnamen. Tidak ada yang pernah memuji atau sekedar mengucapkan selamat mau itu keluarga atau teman. Langit menggelengkan kepala, ia tak boleh terpengaruh dengan Michelle, jangan sampai Langit jadi respect sama Michelle, siapa tahu ada niat terselubung Michelle mendekatinya. Siapa tahu Michelle hanya pura-pura dan mau mengerjainya.
"Biasa aja."
"Keren tau di kelas kita aja nggak ada yang bisa taekwondo."
"Iya."
"Kamu tadi berangkat kok nggak naik bus, padahal aku nungguin kamu."
Langit terdiam, ia harus berangkat dan pulang sekolah jalan kaki dari rumah. Uang yang ia miliki terbatas. Jadi ia harus berhemat untuk dua hari ke depan. Sebelum masa hukumannya habis. Uang yang ia miliki kemarin, ia pakai untuk mengantarkan ayahnya ke rumah sakit tadi malam. Ya, walaupun berakhir miris Senja yang mendapatkan pujian.
"Bukan urusan lo, berisik banget jadi cewek. Dasar jamet!"
Setelah mengatakan itu menggunakan note yang ia tulis, Langit pergi. Ternyata melelahkan sekali menghadapi seorang Michelle. Gadis itu susah dibilangin untuk menjauh dari dirinya dan seolah-olah ingin tahu hidupnya. Semoga saja setelah ia mengatai gadis itu jamet, Michelle menjauh dari dirinya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Langit juga anak ayah | Tamat
Teenfikce"Gue gak pernah minta dilahirin, di dunia." -Langit. "Anak ayah bukan hanya Laut dan senja saja, tapi yang ayah sayang hanya mereka, langit juga nggak pernah minta untuk terlahir cacat." Langit seorang anak disabilitas yang tidak bisa berbicara, mem...