"Gue gak pernah minta dilahirin, di dunia." -Langit.
"Anak ayah bukan hanya Laut dan senja saja, tapi yang ayah sayang hanya mereka, langit juga nggak pernah minta untuk terlahir cacat."
Langit seorang anak disabilitas yang tidak bisa berbicara, mem...
Aku pakai jeno untuk karakter langit karena nyesuain sifat langit yang keras dan pemarah tapi berhati lembut kalau pakai jaemin kurang cocok.
Aku nonton di thinking watermelon kalau anak yg berkebutuhan khusus kalau dari kecil dikerasin dia bakal tumbuh jadi pribadi yg keras dan takut atau ngk percaya sama orang, kayak tokoh cewek di drama itu yang tuli dan bisu dia suka marah2 atau lempar2 barang. Jadi sosok Jeno cocok peranin hal ini.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sosok Michelle terinspirasi dari KARINA yang sabar dan ramah, selain itu juga dia pantang nyerah.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
MICHELLE
***
Disaat kita harus ngertiin perasaan banyak orang, tapi tidak ada yang mau mengerti perasaan kita, sakit sekali rasanya.
Michelle dan Letta berada di Gramedia. Michelle minta ditemani untuk membeli buku. selain itu juga Michelle ingin bertanya perihal langit. Ia merasa kasian setelah kejadian Langit dimarahi oleh bapak-bapak tadi siang di halte. Ia baru dekat dengan Leta saja, mereka juga duduk sebangku.
"Kamu beli buku apa?"
"Aku beli buku punyanya kak Luluk Hf."
"Kamu suka baca Mariposa?"
"Iya, gemesin bangetkan Acha yang nggak pernah nyerah ngejar Iqbaal walaupun ditolak terus." Kalau mengingat perihal Acha dan Iqbaal ia jadi teringat dengan ia dan Langit. Ia yang tetap berusaha untuk berteman dengan Langit, meski sering diomelin atau diusir oleh Langit.
"Iya bener, aku juga suka. Tapi belum punya yang Mariposa dua."
"Nanti aku pinjemin, habis aku baca, ya."
"Makasih, Michelle kam memang terbaik."
"Nanti habis ini mampir makan ramen, ya?"
Tiba-tiba Michelle ingin sekali makan ramen. Perutnya terasa lapar. Membayangkan ia makan ramen pasti sangatlah enak, ditambah kuahnya yang nikmat dan pedas.
"Boleh." Letta tidak menolak, ia bisa makan apa aja, jadi tak masalah. Mereka sudah berada di Gramedia lebih dari satu jam. Mereka sedari tadi mencari beberapa buku untuk dibeli. Banyak sekali novel, jadi mereka bingung.