PERTENGKARAN & KERJASAMA

2K 81 0
                                        

      ✍️📚❣️HAPPY READING ❣️📚✍️
_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _

*•*•*•*

Pagi hari ini terasa jauh lebih mencekam daripada yang seharusnya. Langit kelabu, seolah enggan memberi ruang bagi cahaya matahari untuk menembus kabut tebal yang menyelimuti sekitar. Udara dingin menyelusup tajam ke kulit, tidak seperti kesejukan pagi biasanya, melainkan dingin yang penuh dengan ancaman, membuat setiap tarikan napas terasa berat bagi Lex, Len, Mex, dan Mel.

Pagi hari yang seharusnya diisi dengan momen sarapan bersama keluarga,malah digantikan dengan perang keluarga yang tidak ada habisnya.

Ray,pemuda itu berdiri di pertengahan tangga mansion dengan tatapan datar yang menyorot ke Lex dan Mex yang berdiri di ujung tangga.

"Kamu mau kemana Ray,kenapa membawa ransel sebesar itu??"Mex menelisik penampilan Ray dari atas sampai bawah yang serba hitam dan sebuah ransel di punggungnya,membuat sang empunya risih.

"Bukan urusan kalian."Balas Ray ketus.

"Dek,kamu mau kemana sepagi ini??"Lex bertanya dengan nada khawatir.

"BUKAN URUSAN KALIAN,kalian kejam bukan tuli."Sindir Ray pedas.

,Mex mendekatkan diri ke Ray, menyipitkan mata. “Kamu tidak bisa pergi begitu saja, Ray. Setidaknya jelaskan dulu kamu mau kemana!”

Ray tetap tak bergeming, hanya menarik napas panjang, kemudian berbalik hendak melangkah turun. Namun, Mex dengan cepat menahan lengannya, menahan Ray agar tidak melangkah lebih jauh.

“Lepaskan Mex!” Suara Ray terdengar lebih kasar sekarang, menggema di tangga yang sepi. Tangannya mencoba melepaskan diri dari cengkeraman Mex, tapi Mex tak bergeming.

“Apa kamu pikir bisa lari dari masalah begitu aja?” Mex mendesis, wajahnya merah karena emosi. “Kita di sini, berusaha keras mempertahankan semuanya, tapi kamu malah memilih kabur?!”

“Mex, berhenti!” Lex akhirnya bersuara, suaranya tegang. “Ray pasti punya alasan, jangan buru-buru menuduh.”

Mex melempar pandangan kesal ke Lex, tapi tak sedikitpun melepaskan genggamannya. “Kalau punya alasan, jelaskan dong! Jangan diam-diam pergi seperti seorang pengecut!”

Ray akhirnya meledak. “Pengecut? Kalian nggak tahu apa-apa tentang apa yang aku rasakan! Kalian sibuk dengan urusan kalian sendiri, tapi saat aku mencoba melakukan sesuatu untuk diriku sendiri, kalian malah menghalangi? Kalian nggak peduli kecuali itu menyangkut kalian!”

Lex maju beberapa langkah, mencoba menjadi penengah. “Ray, kita cuma khawatir. Kami peduli padamu, itu sebabnya kami—”

“Peduli?” Ray menatap Lex dengan mata yang penuh kekecewaan. “Kalian nggak peduli. Kalau peduli, kalian nggak akan membiarkan ini terus terjadi. Aku nggak akan jadi sandera dalam perang keluarga ini.”

Mex mendengus, matanya membara. “Perang keluarga? Ini tentang tanggung jawab! Kita semua terjebak di sini, dan kamu cuma mau kabur?”

Ray tersenyum sinis. “Terjebak? Atau kalian yang memilih tetap di sini, pura-pura bahwa kalian melakukan ini demi kebaikan semua orang? Aku nggak mau jadi bagian dari kebohongan ini lagi!”

Dengan gerakan tiba-tiba, Ray melepaskan diri dari cengkeraman Mex dan berlari menuruni tangga. Mex, yang masih diliputi emosi, segera menyusulnya, tapi Lex menahannya. “Biarkan dia pergi, Mex.”

Mex menatap Lex dengan tajam, masih penuh amarah. “Ace serius? membiarkan dia pergi begitu saja?”

“Kita tidak bisa terus memaksanya,” jawab Lex dengan nada lirih. “Kalau kita paksa, dia hanya akan semakin menjauh. Kita harus memberikan dia ruang.”

Daddy's Rays Of loveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang