✍️📚❣️HAPPY READING ❣️📚✍️
_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _
*•*•*•*
Deg...
Mata Ray melebar seketika, seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Bibirnya terbuka sedikit, tetapi tak ada kata-kata yang mampu keluar. Darah seakan membeku di nadinya, dan jantungnya berhenti sejenak sebelum mulai berdegup kencang seperti drum. Wajahnya memucat, dengan alis yang terangkat tinggi, menciptakan garis-garis tegang di dahinya. Sesaat, dia hanya berdiri mematung, matanya terpaku pada sosok yang berdiri di depannya.
"Dad-Daddy...?" suaranya bergetar, hampir tidak terdengar, seolah Ray ragu apakah ini mimpi atau kenyataan. Napasnya terputus-putus, sementara pikirannya berkecamuk mencari penjelasan—tapi tidak ada yang masuk akal. Dia mundur setengah langkah, seakan tubuhnya secara refleks berusaha melindungi diri dari sesuatu yang mustahil.
Lututnya melemas, hampir membuatnya terjatuh, dan dadanya terasa berat, diisi oleh gelombang emosi yang tak bisa ditahan—antara bahagia, takut, dan kehilangan yang mendadak kembali menyeruak.
Mata mereka bertemu. Dalam tatapan itu, kesedihan beberapa hari terakhir bercampur dengan secercah harapan yang lahir dari keajaiban. "Ini benar-benar Daddy...?" ujar Ray dengan suara bergetar, antara tangis dan tawa, seakan tak lagi peduli apakah yang terjadi ini logis atau tidak.
Begitupun dengan Lex, Len, Mex, dan Mel berdiri mematung beberapa langkah di belakang Ray. Saat nama “Daddy” keluar dari mulut sang adik, tubuh mereka terasa seperti dihantam badai besar. Waktu seolah melambat, dan perasaan mereka terperangkap antara harapan dan ketakutan akan kebenaran yang baru saja muncul di hadapan mereka.
Lex yang biasanya angkuh dan kejam justru terlihat paling terpukul. Bola matanya melebar, menatap sosok di depan dengan ekspresi penuh keterkejutan. "Ini tidak mungkin..." gumamnya pelan, kedua tangannya terkepal erat di sisi tubuhnya, seakan berusaha menahan luapan emosinya agar tidak tumpah begitu saja. Rahangnya mengeras, namun bibirnya bergetar, seolah berusaha menyangkal kenyataan di depan mata. "Bagaimana bisa,..." lanjutnya dengan suara yang nyaris tak terdengar. Tapi tubuhnya tak bergerak, seakan dibelenggu oleh rasa takut bahwa semua ini hanyalah fatamorgana.
Sementara itu, Len berusaha menyembunyikan keterkejutannya dengan tertawa kecil, tapi senyumnya terlihat getir dan penuh kebingungan. "Hah... Ini cuma mimpi buruk aneh lagi, kan?" gumamnya, suaranya parau seperti orang yang nyaris kehilangan akal. Ia melangkah maju setengah hati, tapi lututnya bergetar hebat.
Tangan kirinya mencubit lengannya sendiri, berharap rasa sakit itu bisa membangunkannya—tapi rasa sakit itu nyata. Wajahnya yang selalu ceria kini tampak rapuh, seakan seluruh dunia di sekelilingnya telah hancur dan terbalik dalam hitungan detik. "Daddy... beneran kamu?" tanyanya dengan suara nyaris tak berdaya.
Mex, yang biasanya paling keras kepala dan dingin, kini **menatap kosong, seolah otaknya tak bisa memproses apa yang dilihatnya. "Tidak mungkin... Tidak mungkin," bisiknya berulang-ulang, seperti mantra yang tak mampu menghilangkan sosok pria di hadapannya.
Tangannya gemetar, berusaha meraih sesuatu—tapi tak ada yang bisa dipegang untuk menstabilkan dirinya. Dadanya naik-turun cepat, dan dia menyadari bahwa dia telah menahan napas terlalu lama. Matanya mulai basah, meski dia dengan keras kepala menolak mengakui bahwa air mata itu nyata. "Ini semua pasti tipuan, kan? Tidak mungkin Daddy di sini..." ucap Mex dengan nada tajam yang malah memperlihatkan ketakutannya sendiri.
Mel, berdiri terpaku dengan wajah pucat. Tangannya mencengkeram ujung baju Lex, mencari pegangan dari rasa panik yang tak terbendung. Mata besarnya berkaca-kaca, dan bibirnya mulai bergetar tanpa suara.
KAMU SEDANG MEMBACA
Daddy's Rays Of love
De TodoMenceritakan kisah tentang seorang pria berusia 35 tahun yang sangat menginginkan anak dari pernikahannya namun harapannya harus kandas karna sang istri menolak mentah-mentah untuk melahirkan seorang anak demi menjaga penampilan tubuhnya. Hingga sua...
