✍️📚❣️HAPPY READING ❣️📚✍️
_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _
*•*•*•*
Cahaya mentari pagi perlahan menerobos gorden di balik jendela, menyinari sepasang ayah dan anak yang tertidur pulas dengan posisi saling berpelukan.
"Eughh...," Lenguhan panjang mulai terdengar dari salah satu pria itu.
Derick mengerjab pelan mencoba menetralisir sinar matahari yang masuk ke retinanya.
Setelah nyawanya terkumpul sempurna, duda sembilan anak itu, menoleh ke kanan dimana tempat putra bungsunya tertidur pulas dengan berbantalkan lengannya.
Melihat wajah damai sang putra yang tertidur pulas, seulas senyum manis terbit pada sudut bibir Derick. Mendekatkan wajahnya pada wajah sang anak, Derick kemudian mengecup singkat kening putranya itu.
Cup...
Setelahnya Derick menjauhkan wajahnya dan melirik jam weker di atas nakas yang menunjukkan jam 07.23 . Sontak saja Derick membulatkan matanya melihat jarum jam menunjukkan jam 7, Derick bergegas turun dari ranjang dan tergopoh-gopoh keluar dari kamar putranya.
Derick tergopoh-gopoh memasuki ruang dapur tanpa memperhatikan kondisi di sekitarnya.
"Dad," panggil Dex yang terkejut dengan Derick yang tiba-tiba muncul di balik pintu dapur.
"Dex, menyingkirlah daddy harus segera membuat sarapan untuk kalian." Ujar Derick seraya menggeser tubuh Dex dengan sedikit kasar.
"Dad, kami sudah membuat sarapan Daddy tidak perlu khawatir." Cetus Dex pelan.
"Tunggu, apa?? Kenapa kalian tidak membangunkan daddy?" Protes Derick menghentikan langkahnya.
"Kami sengaja karena daddy pasti sangat kelelahan setelah menjaga Ray semalaman." Jawab Dex santai.
"Hufft...," Derick menghela nafas berat mendengar jawaban putranya, pria itu kemudian berbalik arah mengikuti Dex menuju meja makan.
"Morning dad," sapa Der dan Dax bersamaan.
Derick tersenyum tipis dan mengangguk pelan, dengan tatapan yang tidak lepas dari putra bungsunya yang tampak pucat dan mata pandanya.
Perlahan Derick melangkah mendekati Rex yang tampak tidak berselera dengan sarapannya. Mengulurkan tangannya hendak mengelus surai sang putra bungsu, Derick malah dikejutkan dengan Dax yang tiba-tiba menahan lengannya.
Menatap tajam putra sulungnya itu, Derick melepaskan lengannya dari cengkeraman Dax.
"Kenapa?" Derick mengernyit heran dengan tingkah putranya itu.
Dex menggeleng pelan dan melirik sekilas Rex yang tampak tidak memperdulikan sekitarnya. "Jangan sekarang, dad."
Derick menghela nafas, kemudian menarik kursi dan duduk seraya memperhatikan putra bungsunya.
"Kalian sudah memanggil yang lain?" tanya Dex pada kedua adiknya yang dijawab anggukan kecil oleh keduanya.
Tak lama kemudian, derap langkah kaki yang terdengar tidak beraturan mulai mendekati ruang makan. Lucas, Ryo, dan Lon datang dengan penampilan rapinya.
"Pagi semuanya," ujar ketiganya kompak.
"Pagi," balas Derick dan anaknya.
"Dimana yang lain?" tanya Lucas seraya menarik kursi di hadapan Dex, begitupun dengan Ryo dan Lon yang duduk berhadapan dengan Der dan Dax.
"Kamarnya," Der berujar pelan.
"Hey, baby. Ada apa, kenapa baby terlihat cemberut hm?" tanya Lon menyadari wajah cemberut sang adik namun sang empunya hanya diam tidak menghiraukan pertanyaan sang Ace.
KAMU SEDANG MEMBACA
Daddy's Rays Of love
RandomMenceritakan kisah tentang seorang pria berusia 35 tahun yang sangat menginginkan anak dari pernikahannya namun harapannya harus kandas karna sang istri menolak mentah-mentah untuk melahirkan seorang anak demi menjaga penampilan tubuhnya. Hingga sua...
