Sunghoon memeriksa suhu tubuh Wonyoung sekali lagi sebelum berjalan ke dapur. Tanpa banyak bicara, ia mencari bubur instan yang ia tahu akan mudah dimakan oleh Wonyoung. Ia memasaknya dengan tenang, setiap langkah terasa sangat berhati-hati. Tak ada obrolan, tak ada suara, hanya denting perlahan dari panci yang ia gunakan.
Setelah beberapa menit, Sunghoon membawa mangkuk bubur yang masih mengepul ke kamar, melihat Wonyoung sudah tampak lebih tenang. Ia membantu Wonyoung duduk perlahan, menyelimutinya dengan lembut, dan menyerahkan mangkuk bubur itu tanpa berkata apa-apa. Wonyoung menatapnya sejenak, merasa aneh dengan perhatian yang diberikan sunghoon. Meski lelah, hatinya terasa hangat.
Sunghoon berdiri, lalu merapikan selimut di sekitarnya. Ketika Wonyoung selesai makan, Sunghoon mengambil mangkuknya dan meletakkannya di atas meja. Perlahan, ia membantu Wonyoung berbaring di tempat tidur, memastikan posisinya nyaman.
Sunghoon beranjak untuk keluar kamar setelah itu, namun suara lembut Wonyoung menghentikannya. “Sunghoon, tunggu.”
Ia menoleh pelan, menatapnya dengan ekspresi tenang, menunggu kata-kata selanjutnya.
Wonyoung menggigit bibirnya sebentar sebelum berkata, “Aku minta maaf... tentang kemarin. Kita bertengkar... dan aku tahu itu salahku.”
Sunghoon hanya diam, namun matanya menunjukkan bahwa ia mendengar setiap kata yang Wonyoung katakan. Ia tidak menginterupsi, hanya berdiri di sana dengan sabar.
“Aku tak seharusnya marah seperti itu,” lanjut Wonyoung dengan suara lemah.
"Aku juga minta maaf," Ujarnya.
Sunghoon memandangi Wonyoung yang masih terbaring di ranjang, napasnya tak teratur karena menahan rasa sakit di perutnya. Wajahnya pucat, tubuhnya tampak lemah setelah menghabiskan sebagian besar hari itu dengan demam. Tadi, saat ia meminta maaf, ia terlihat rapuh, tapi kini ada sesuatu yang berbeda—sebuah keraguan yang tampak jelas di matanya.
“Sunghoon…” panggil Wonyoung lagi dengan suara pelan. Ada nada ragu dalam suaranya yang membuat Sunghoon berhenti tepat di ambang pintu. Ia menoleh kembali, menatap Wonyoung yang terlihat gelisah.
“Ada apa?” tanyanya lembut, menghampirinya lagi dengan langkah perlahan.
Wonyoung menarik napas, seolah mencari keberanian untuk mengungkapkan sesuatu yang membuatnya malu. “Aku... aku datang bulan hari ini.”
Sunghoon tampak bingung sejenak, belum sepenuhnya menangkap maksud dari perkataan Wonyoung. Namun, ketika ia melihat Wonyoung yang berusaha menahan sakit sambil memegangi perutnya, tiba-tiba ia mulai mengerti.
“Perutku...," wonyoung ragu. Namun karena rasa nyeri yang terus membuatnya uring-uringan. Akhirnya ia mengenyampingkan egonya. Lalu berkata ",biasanya kalau di rumah, ibu yang akan memijatnya... supaya rasa sakitnya berkurang,” lanjut Wonyoung, suaranya lebih pelan, dan pipinya memerah. “Tapi sekarang...”
Kalimatnya terhenti, tapi Sunghoon bisa merasakan ketidaknyamanan di balik kata-katanya. Ia tahu betul betapa sulitnya bagi Wonyoung untuk mengakui hal seperti ini, apalagi memintanya melakukan sesuatu yang biasa dilakukan ibunya. Ia bisa merasakan keengganan Wonyoung, tapi ia juga tahu bahwa rasa sakit yang dialaminya tidak bisa diabaikan.
Untuk sesaat, Sunghoon terdiam. Ia tidak pernah melakukan sesuatu seperti ini sebelumnya. Pijatan? Itu jelas berada di luar zona nyamannya. Ia tidak tahu caranya, dan pikiran untuk menyentuh Wonyoung dengan cara itu membuatnya merasa sedikit kikuk. Tapi melihat Wonyoung yang terus menggigit bibirnya dan meringis setiap kali rasa sakit menyerang, Sunghoon mengesampingkan keraguannya.
Dengan langkah perlahan, ia duduk di tepi ranjang, tepat di sisi Wonyoung. Jarak mereka terasa begitu dekat, tapi kehadirannya tidak terasa mengancam—hanya hangat dan sedikit canggung . Wonyoung menoleh sedikit, menatap Sunghoon dengan mata yang masih penuh keraguan dan rasa malu.
“Aku... mungkin tidak akan sebaik ibumu, tapi aku akan mencoba,” ucap Sunghoon akhirnya, suaranya rendah dan lembut.
Wonyoung hanya mengangguk kecil, seolah tidak punya pilihan lain selain percaya pada Sunghoon. Ia perlahan menggeser tubuhnya sedikit, membuat posisi perutnya lebih mudah dijangkau. Sunghoon merasakan detak jantungnya meningkat, ia merasa gugup, tapi ia berusaha untuk tetap tenang.
Dengan gerakan hati-hati, Sunghoon mulai meletakkan tangannya di perut Wonyoung, tepat di bawah kemeja yang gadis itu. Sentuhan pertamanya sangat pelan, nyaris tak terasa. Ia mencoba menyesuaikan gerakannya, mengingat-ingat cara pijatan yang mungkin pernah ia lihat, tapi tanpa benar-benar tahu apa yang harus dilakukan.
Wonyoung, yang tadinya menahan napas saat Sunghoon pertama kali menyentuh perutnya, kini tampak sedikit lebih rileks, meskipun jelas masih ada rasa canggung di antara mereka. Ia menatap Sunghoon dari sudut matanya, memperhatikan setiap gerakan tangannya yang tampak kaku dan ragu.
“Apakah ini terlalu keras?” tanya Sunghoon dengan suara rendah, suaranya nyaris berbisik, takut mengganggu ketenangan yang mulai tercipta di antara mereka.
Wonyoung menggeleng pelan. “Tidak, ini baik-baik saja,” jawabnya, suaranya hampir seperti bisikan. Meski masih terasa kikuk, sentuhan Sunghoon mulai membuat rasa sakit di perutnya sedikit berkurang.
Mereka terdiam cukup lama, hanya terdengar suara napas mereka yang pelan di dalam ruangan. Suasana kamar yang tadinya dingin dan sunyi kini terasa sedikit lebih hangat, meski masih ada ketegangan tipis yang menggantung di udara. Matahari sore yang perlahan tenggelam di balik jendela mengisi ruangan dengan cahaya lembut, menciptakan bayangan samar di dinding.
Wonyoung mulai merasa lebih nyaman, meski rasa malunya belum sepenuhnya hilang. Setiap kali Sunghoon memijat perutnya, ada rasa hangat yang mengalir dari ujung jari Sunghoon ke seluruh tubuhnya, bukan hanya fisik tapi juga emosional. Kehangatan ini tidak seperti apa yang biasa ia rasakan saat ibunya memijatnya, ini terasa lebih dalam, lebih intim. Ia menutup matanya, berusaha untuk tidak terlalu memikirkan hal itu, tapi kenyataan bahwa Sunghoon ada di sini, di sampingnya, memberikan perhatian tanpa banyak kata, membuat hatinya berdebar.
Sunghoon, di sisi lain, masih merasa canggung. Tangannya bergerak pelan, sedikit gemetar karena ia tak tahu apakah gerakannya benar atau salah. Namun, melihat Wonyoung yang tampak lebih rileks membuatnya sedikit lega. Ia menyadari bahwa meskipun ia tak banyak bicara, tindakan kecil seperti ini mungkin lebih berarti bagi Wonyoung.
Setelah beberapa menit berlalu, Wonyoung akhirnya berbicara lagi, kali ini suaranya lebih lembut, hampir terdengar tenang. “Kamu tahu... aku tidak pernah berpikir kamu bisa melakukan hal seperti ini.”
Sunghoon tersenyum kecil, meskipun Wonyoung tidak bisa melihatnya karena matanya masih terpejam. “Aku juga tidak pernah berpikir aku akan melakukannya,” jawabnya, ada sedikit nada candaan di balik suaranya yang biasanya datar.
Wonyoung tersenyum tipis, meskipun rasa canggung masih ada di antara mereka. “Terima kasih... aku tahu ini pasti membuatmu tidak nyaman.”
Sunghoon menggeleng, meskipun ia tahu Wonyoung tidak melihatnya. “Tidak apa-apa. Jika ini bisa membuatmu merasa lebih baik, aku akan melakukannya.”
Kata-kata itu membuat Wonyoung terdiam. Meskipun ia merasa canggung karena situasinya, ada perasaan hangat yang menyelimuti hatinya. Sunghoon mungkin bukan orang yang banyak bicara, tapi tindakan kecilnya seperti ini selalu berhasil membuatnya merasa diperhatikan. Ia membuka matanya sedikit dan menatap Sunghoon yang masih dengan telaten memijat perutnya, wajahnya serius meskipun terlihat canggung.
“Aku lebih baik sekarang,” kata Wonyoung setelah beberapa menit. “Kamu bisa berhenti.”
Sunghoon menghentikan gerakannya perlahan, menarik tangannya dari perut Wonyoung dengan hati-hati, seolah takut membuatnya kesakitan lagi. Ia duduk di tepi ranjang, menatap Wonyoung yang kini tampak lebih tenang, meski wajahnya masih sedikit pucat.
“Kamu yakin sudah lebih baik?” tanyanya memastikan, meskipun ia bisa melihat bahwa Wonyoung tampak jauh lebih nyaman daripada sebelumnya.
Wonyoung mengangguk kecil. “Ya... terima kasih, Sunghoon.”
Sunghoon mengangguk singkat, seolah tak ingin memperpanjang momen ini. “Kamu butuh istirahat. Aku akan keluar,” ucapnya sambil bangkit dari tempat tidur, bersiap untuk meninggalkan kamar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bound by duty
RomanceAku nggak bakal nikah sama kamu, sekalipun tinggal kamu satu-satunya perempuan di bumi. _Park Sunghoon Sampai kiamat pun aku nggak bakal nikah sama kamu _Jang Wonyoung
