Seminggu telah berlalu sejak kejadian di rumah sakit, dan perlahan, kondisi ayah Wonyoung mulai membaik. Serangan jantung yang mendadak itu telah mengguncang keluarga mereka, terutama Wonyoung, yang merasa sangat bersalah atas pertengkaran mereka sebelum kejadian tersebut. Kini, ayahnya dipindahkan ke ruang rawat biasa, namun ia masih lemah dan harus tetap duduk di kursi roda. Meskipun begitu, hal ini menjadi sedikit kelegaan bagi Wonyoung—setidaknya, ayahnya masih hidup, meskipun perasaan bersalah itu terus menghantuinya.
Pernikahan yang tadinya menjadi mimpi buruk kini menjadi kenyataan yang tak terelakkan. Semua sudah diatur oleh kedua keluarga, dan Wonyoung tahu bahwa ia tak punya pilihan lain. Demi kesehatan ayahnya, ia akhirnya setuju untuk menikahi Sunghoon. Keputusan ini membuatnya merasa kosong, namun ia berusaha menutupi kesedihannya demi orang-orang di sekitarnya.
Hari itu tiba lebih cepat dari yang ia harapkan. Upacara pernikahan mereka berlangsung di hotel bintang lima yang elegan namun terasa dingin. Hotel mewah itu dihiasi bunga-bunga putih yang menjalar di sepanjang aula, mengelilingi altar yang tampak megah di bawah lampu kristal besar yang menggantung di tengah ruangan. Suasana hening, hanya dihadiri oleh teman-teman terdekat Wonyoung dan Sunghoon, keluarga inti, serta beberapa kolega penting dari kedua keluarga. Tidak ada pesta besar atau sorak-sorai bahagia seperti yang biasanya terjadi pada pernikahan lain. Hanya keheningan yang mencekam, seolah semua orang tahu bahwa ini bukanlah momen yang benar-benar diinginkan oleh kedua mempelai.
Wonyoung berdiri di ruang persiapan, mengenakan gaun pengantin yang dipilihkan oleh ibunya. Gaun itu cantik, dengan renda putih yang melingkari tubuhnya, namun terasa seperti beban. Setiap lapisan kain membuatnya merasa semakin tenggelam dalam perasaan yang tak ingin ia hadapi. Di cermin, ia melihat pantulan wajahnya yang pucat dan lelah. Mata Wonyoung yang biasanya bersinar kini tampak kosong. Bibirnya tersenyum tipis, namun senyum itu terasa dipaksakan.
“Ibu tahu ini berat untukmu, tapi kamu melakukan hal yang benar,” ujar ibunya lembut dari belakang, meletakkan tangan di pundak Wonyoung.
Wonyoung hanya mengangguk pelan tanpa mengatakan apa-apa. Di dalam hatinya, ia ingin menangis, namun ia tahu ini bukan saatnya menunjukkan kelemahan. Demi ayahnya, ia harus bersikap seolah semuanya baik-baik saja. Dia menarik napas dalam, mencoba menenangkan dirinya, dan menatap bayangan ibunya di cermin dengan senyum yang nyaris tak terlihat.
“Kamu sudah siap?” suara kakaknya tiba-tiba terdengar dari pintu. Wonyoung menoleh dan melihat kakaknya, yang sudah mengenakan setelan jas rapi, siap mengantarnya ke altar. Ayahnya tak bisa menjalankan tugas itu, karena ia masih terlalu lemah untuk berdiri. Jadi, kakaknya mengambil alih peran tersebut.
Wonyoung berdiri perlahan, mencoba mengatur napasnya. Tangannya gemetar saat kakaknya menyodorkan lengannya untuk ia genggam. “Aku siap,” jawabnya pelan, meskipun hatinya berteriak sebaliknya.
Sementara itu, di aula utama, Sunghoon berdiri di depan altar, mengenakan setelan hitam yang membuatnya terlihat semakin gagah. Namun di balik wajah tampannya, ada rasa lelah yang tak bisa disembunyikan. Senyumnya tampak kaku, seperti ia harus memaksakan diri untuk tampak tenang di hadapan semua orang. Ia menyadari betapa tidak masuk akalnya semua ini—pernikahan yang seharusnya menjadi momen paling bahagia dalam hidupnya kini hanya terasa seperti formalitas yang dipaksakan.
Mata Sunghoon menyapu ruangan. Di deretan kursi depan, ia melihat ibunya yang tersenyum puas, yakin bahwa perjodohan ini adalah keputusan terbaik untuk keluarga mereka. Sementara itu, di sisi lain, ia melihat ayah Wonyoung yang duduk di kursi roda, wajahnya pucat namun tampak penuh harapan. Di mata ayah Wonyoung, Sunghoon bisa melihat keinginan yang kuat agar pernikahan ini berjalan dengan lancar—seolah ini adalah satu-satunya hal yang bisa membuat hidupnya lebih panjang.
Sunghoon menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debaran di dadanya. Ia tahu Wonyoung tidak menginginkannya, dan ia pun merasa serupa. Namun, situasi ini membuatnya tak punya pilihan. Demi keluarganya, demi menjaga harmoni di antara kedua keluarga, ia harus melangkah maju.
Ketika pintu besar aula perlahan terbuka, semua mata tertuju ke arah pintu. Wonyoung melangkah masuk dengan kakaknya di samping, mengapit lengannya dengan erat. Mereka berjalan perlahan menuju altar, diiringi alunan musik klasik yang lembut namun terasa jauh dari suasana bahagia. Setiap langkah yang Wonyoung ambil terasa berat, seolah ia sedang melangkah menuju takdir yang tak ia inginkan.
Sunghoon berdiri tegak, matanya tertuju pada Wonyoung yang semakin mendekat. Meski ia berusaha tersenyum, wajahnya tetap tak bisa menyembunyikan perasaan campur aduk di dalam hatinya. Wonyoung tampak cantik dalam gaun pengantin itu, namun Sunghoon tahu bahwa di balik kecantikan itu, ada beban besar yang sedang dipikul oleh gadis itu. Ia bisa melihat tatapan lelah di mata Wonyoung, yang tampak seperti menahan perasaan sesak yang tak terucapkan.
Ketika Wonyoung akhirnya tiba di hadapannya, kakaknya menyerahkan tangan Wonyoung kepada Sunghoon. Sunghoon menggenggam tangan Wonyoung dengan hati-hati, namun tidak ada kehangatan di antara mereka. Sentuhan itu terasa dingin, dipenuhi oleh ketidakpastian dan keraguan.
Upacara berlangsung singkat, dengan pendeta yang memimpin jalannya pernikahan. Kata-kata sakral yang seharusnya penuh makna hanya terdengar seperti rangkaian kalimat yang harus diucapkan. Sunghoon dan Wonyoung saling menatap selama upacara, namun di balik tatapan itu tidak ada cinta yang sejati. Hanya dua orang yang dipaksa untuk bersama oleh keadaan, berusaha bertahan di tengah badai perasaan yang berkecamuk di dalam diri mereka.
Ketika tiba saatnya untuk mengucapkan janji pernikahan, Wonyoung menarik napas panjang sebelum mengucapkan kata-kata yang tak ingin ia ucapkan. “Aku, Jang Wonyoung, berjanji untuk…,” suaranya sempat bergetar, namun ia berhasil mengendalikan diri. “...mencintaimu dan menghormatimu dalam segala keadaan.” Kalimat itu terasa seperti kebohongan yang ia harus katakan demi ayahnya, demi keluarganya, dan demi Sunghoon yang berada di hadapannya.
Sunghoon menatap Wonyoung dengan perasaan campur aduk. Ia tahu bahwa Wonyoung tidak tulus, namun ia tak bisa menyalahkannya. Ia sendiri merasa serupa. Ketika giliran Sunghoon tiba untuk mengucapkan janji, ia pun melakukannya dengan suara datar, berusaha terlihat tegar meskipun di dalam hatinya ada perasaan yang berlawanan. “Aku, Park Sunghoon, berjanji untuk mencintaimu dan menghormatimu dalam segala keadaan, baik dalam suka maupun duka.” Kata-kata itu terasa hampa, seolah mereka berdua sedang membaca naskah yang sudah dituliskan oleh orang lain.
Setelah janji diucapkan, mereka bertukar cincin, simbol pernikahan yang seharusnya penuh arti. Namun, bagi Wonyoung, cincin itu hanya sebuah benda yang memberatkan jari manisnya, seperti beban lain yang harus ia pikul. Ketika Sunghoon menyematkan cincin di jarinya, ia merasa hatinya semakin tenggelam dalam lautan perasaan yang tak bisa ia ungkapkan.
“Sekarang, aku nyatakan kalian sebagai suami istri. Anda boleh mencium pengantin wanita,” kata pendeta dengan nada yang resmi.
Sunghoon menatap Wonyoung sejenak, lalu perlahan mendekatkan wajahnya. Ciuman itu singkat, hanya sekadar formalitas di hadapan tamu yang hadir. Tidak ada kehangatan, tidak ada cinta yang terpancar dari sentuhan bibir mereka. Hanya dua orang yang terjebak dalam pernikahan yang tak mereka inginkan.
Setelah upacara selesai, mereka berjalan menyusuri lorong dengan tamu-tamu yang memberikan tepuk tangan pelan. Di antara tepuk tangan itu, Wonyoung menoleh ke arah ayahnya yang duduk di kursi roda, tersenyum bangga meski wajahnya masih tampak lelah. Wonyoung tahu bahwa ini adalah alasan satu-satunya ia bersedia menjalani pernikahan ini—demi melihat senyum di wajah ayahnya yang rapuh.
Sunghoon berjalan di sampingnya, berusaha menjaga senyum ramah di wajahnya meskipun dalam hatinya ia merasa
KAMU SEDANG MEMBACA
Bound by duty
RomantizmAku nggak bakal nikah sama kamu, sekalipun tinggal kamu satu-satunya perempuan di bumi. _Park Sunghoon Sampai kiamat pun aku nggak bakal nikah sama kamu _Jang Wonyoung
