Wonyoung merasa seperti berada di surga kecilnya bersama Sunghoon. Dengan tangan Sunghoon yang terus merawatnya dengan lembut, seolah memastikan bahwa setiap inci tubuhnya diselimuti kehangatan dan cinta.
Setelah mandi, mereka kembali ke kamar dengan langkah ringan. Sunghoon membungkus tubuh Wonyoung dengan handuk, lalu mengeringkan rambut panjangnya dengan penuh kesabaran. Wonyoung memandangnya dalam diam, menyadari betapa beruntungnya ia memiliki pria seperti Sunghoon.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Sunghoon sambil tersenyum, matanya mencuri pandang ke arah Wonyoung.
Wonyoung menggeleng, senyum tipis menghiasi wajahnya. "Nggak ada. Aku cuma bersyukur aja... karena aku punya kamu."
Ucapan sederhana itu membuat Sunghoon terdiam sejenak, dadanya terasa hangat. Ia menatap Wonyoung dalam-dalam, lalu mengecup ujung hidungnya. "Dan aku bersyukur karena kamu ada di hidupku, Wony."
Hari itu mereka memutuskan untuk tidak bekerja, menikmati waktu yang jarang mereka miliki bersama. Sunghoon membuatkan sarapan sederhana, sementara Wonyoung mengatur meja makan dengan sentuhan manis. Mereka menghabiskan waktu di balkon, berbagi cerita tentang mimpi dan rencana masa depan mereka, sambil menikmati angin pagi yang sejuk.
Ketika mereka selesai mandi, Wonyoung dengan tubuh yang dibalut piyama sutra sederhana namun elegan, duduk di tepi ranjang sambil memesan sepiring buah dari layanan hotel. Sunghoon yang sudah mengenakan kaus hitam longgar dan celana pendek kasual, duduk di sofa yang berada di dekat balkon, mengamati istrinya dengan tatapan lembut.
Tak lama kemudian, pelayan hotel mengantarkan sepiring buah segar yang disusun dengan cantik. Wonyoung membawanya ke arah sofa tempat Sunghoon duduk. Alih-alih duduk di kursi sebelahnya, ia langsung melangkah mendekat dan tanpa basa-basi duduk di pangkuan Sunghoon.
"Kamu nggak keberatan, kan?" tanya Wonyoung dengan senyum jahil sambil menyuapkan sepotong stroberi ke mulutnya sendiri.
Sunghoon hanya mengangkat alis sambil terkekeh kecil. "Keberatan? Aku malah senang." Tangannya otomatis melingkar di pinggang Wonyoung, menariknya lebih dekat.
Wonyoung mulai menyuapkan sepotong buah ke arah mulut Sunghoon. "Coba ini, manis banget," ujarnya sambil menyodorkan anggur ke bibir pria itu.
Sunghoon membuka mulutnya tanpa melepaskan pandangan dari mata Wonyoung. Ia mengunyah perlahan, kemudian berkomentar, "Kamu benar, manis. Tapi nggak semanis kamu."
Wonyoung memutar bola matanya, berpura-pura terganggu, meskipun pipinya sedikit memerah. "Gombalan kamu siang-siang gini nggak bikin aku jadi lebih manis, tahu."
"Tapi bikin aku makin cinta," balas Sunghoon cepat sambil menyentuh dagu Wonyoung, mengangkat wajahnya sedikit agar bisa mencuri satu kecupan lembut di bibirnya.
Wonyoung tertawa kecil, menyuapkan lagi sepotong melon ke mulut Sunghoon. "Jangan banyak bicara, makan aja. Kamu butuh energi buat hari ini."
Sunghoon menelan buahnya sambil terus memandang Wonyoung dengan penuh perhatian. "Kalau energiku habis, itu karena kamu, Wony. Kamu bikin aku nggak bisa berhenti memikirkan kamu."
Wonyoung mendengus pelan, meski senyum kecil tak lepas dari wajahnya. Ia mengambil sepotong kiwi, menggigitnya, lalu bersandar lebih nyaman di dada Sunghoon. "Aku suka momen kayak gini," gumamnya pelan.
Sunghoon mengangguk, menatap langit biru di luar balkon sambil terus memeluk Wonyoung erat. "Aku juga. Kalau bisa, aku mau kayak gini terus sama kamu. Nggak usah ada yang ganggu, cuma kita berdua."
Wonyoung mengangguk kecil, mengerti apa yang Sunghoon maksudkan. Ia mengusap pelan lengan pria itu dengan ujung jarinya, merasakan kehangatan yang selalu membuatnya merasa nyaman dan aman.
Mereka berbincang santai tentang hal-hal kecil—tentang perjalanan mereka, rencana makan siang nanti, bahkan sekadar membahas bentuk lucu buah yang ada di piring. Sesekali, Sunghoon menyentuh pipi Wonyoung atau mengecup puncak kepalanya, dan Wonyoung hanya membalasnya dengan senyum lembut.
"Ngomong-ngomong," ujar Sunghoon tiba-tiba, "kita belum punya rencana buat sore nanti. Kamu mau ngapain?"
Wonyoung berpikir sejenak sambil mengunyah potongan mangga. "Aku nggak tahu. Mungkin kita bisa jalan-jalan di sekitar sini? Atau… kita di kamar aja, santai kayak gini."
Sunghoon tersenyum, mengusap punggung Wonyoung dengan lembut. "Pilihan kedua terdengar lebih menarik. Bisa habiskan lebih banyak waktu sama kamu."
Wonyoung terkikik kecil, menepuk dada Sunghoon. "Kamu ini ya, suka banget manjain aku."
"Bukan manjain," koreksi Sunghoon, "aku cuma ngasih apa yang kamu butuh—dan aku suka lihat kamu bahagia."
Wonyoung tersenyum kecil, merasa nyaman dengan kehangatan tubuh Sunghoon di bawahnya. Ia bersandar lebih dekat, membiarkan jemarinya yang halus bermain-main di dada pria itu. "Kamu tahu," ucapnya dengan nada menggoda, "nggak semua pria seberuntung kamu bisa punya istri yang cantik dan pintar kayak aku."
Sunghoon terkekeh, memiringkan kepala agar bisa menatap wajah istrinya lebih jelas. "Oh, aku tahu banget. Tapi tahu nggak? Aku juga nggak semua pria. Aku ini spesial."
Wonyoung memutar matanya, pura-pura tidak terkesan. "Spesial? Dalam hal apa, hmm? Gombalanmu? Atau… sesuatu yang lain?" ia bertanya dengan senyum licik, matanya menyipit penuh godaan.
Sunghoon menatap Wonyoung dengan pandangan yang berubah sedikit intens, lalu mendekatkan wajahnya ke telinga istrinya. "Kalau aku kasih tahu, nanti kamu nggak akan mau bangun dari pangkuanku."
Wonyoung terdiam sejenak, darahnya terasa menghangat mendengar bisikan itu. Ia menggigit bibirnya, lalu membalas dengan nada menggoda, "Oh ya? Coba kasih tahu aku. Aku penasaran sekarang."
Sunghoon tersenyum lebar, jemarinya perlahan naik dari pinggang Wonyoung ke punggungnya, mengusap pelan melalui bahan sutra piyama yang licin. "Aku spesial karena aku tahu persis gimana caranya bikin kamu—"
Sunghoon sengaja menggantungkan kalimatnya, membuat Wonyoung memandangnya dengan penuh rasa ingin tahu. "Bikin aku apa, Sunghoon?" desaknya, kini ganti dirinya yang menyodokkan dagu ke arah pria itu.
"Bikin kamu menyerah sepenuhnya sama aku," jawab Sunghoon akhirnya, suaranya dalam dan menggoda, matanya menatap langsung ke mata Wonyoung tanpa berkedip.
Wonyoung menelan ludah, senyum di bibirnya tetap bertahan meski wajahnya mulai memerah. "Kamu ini terlalu percaya diri, tahu nggak?" ujarnya, mencoba terdengar santai, meskipun suara detak jantungnya mulai berpacu lebih cepat.
"Tapi aku benar, kan?" balas Sunghoon sambil mengusap lembut rambut Wonyoung, jemarinya sedikit menyelip di belakang lehernya, menariknya lebih dekat.
Wonyoung tertawa kecil, mencoba menyembunyikan kegugupannya. "Kamu ini, ya... Sudah cukup menggoda aku siang ini. Kalau kamu terus begini, aku mungkin nggak akan sempat menikmati sisa buahnya."
Sunghoon menatap bibir Wonyoung sejenak, lalu mengangkat bahu santai. "Mungkin buahnya bisa menunggu. Aku lebih tertarik sama sesuatu yang lebih manis."
Tanpa menunggu jawaban, Sunghoon mendekatkan wajahnya, mencium Wonyoung perlahan namun dalam, membuat suasana di antara mereka semakin panas. Wonyoung tidak menolak, justru merespons dengan lembut, tangannya naik melingkar di leher Sunghoon.
Ciuman mereka semakin intens, seolah melupakan dunia luar. Sunghoon menarik Wonyoung lebih erat ke dalam pelukannya, dan Wonyoung dengan sendirinya membalas dengan lebih penuh rasa. Setelah beberapa saat, Wonyoung menarik diri perlahan, menatap Sunghoon dengan mata berbinar.
"Kamu ini," gumamnya pelan sambil menyentuh pipi Sunghoon, "benar-benar tahu gimana caranya bikin aku nggak bisa nolak."
"Itu kan keahlian khususku," jawab Sunghoon dengan senyum penuh kemenangan, menarik Wonyoung kembali ke pelukannya.
Wonyoung tertawa kecil, lalu berbisik lembut, "Tapi jangan salahkan aku kalau aku ingin lebih dari ini."
Mendengar itu, Sunghoon mengangkat alisnya, senyum kecil penuh godaan kembali menghiasi wajahnya. "Kalau itu permintaanmu, aku nggak akan pernah keberatan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Bound by duty
RomanceAku nggak bakal nikah sama kamu, sekalipun tinggal kamu satu-satunya perempuan di bumi. _Park Sunghoon Sampai kiamat pun aku nggak bakal nikah sama kamu _Jang Wonyoung
