Dalam pelukan itu, mereka merasa bahwa untuk pertama kalinya, semua rasa sakit dan keraguan perlahan memudar, digantikan oleh harapan dan cinta yang akhirnya bisa mereka akui. Hari itu, cahaya matahari yang masuk melalui tirai seolah menjadi saksi awal yang baru bagi mereka berdua.
Matahari beranjak naik,wonyoung masih terlelap di pelukan sunghoon. Tangannya melingkar posesif di pinggang laki-laki itu. Wajahnya bersembunyi di balik ceruk leher sunghoon.
Sunghoon memainkan surai wonyoung,sesekali mengecup pipi dan puncak kepala istirnya.
"Kita beneran nggak kerja hari ini?" Tanya sunghoon serak ketika ia merasakan wonyoung bergerak di pelukannya. Melonggarkan jarak di antara mereka.
Kini gadis itu mendongak menatap ke arahnya dengan mata setengah terbuka. Wajah it terlihat menggemaskan di mata sunghoon. Ingin sekali menerkam istrinya siang ini,tetapi mengingat aktivitas merwkanyang cukup berlebihan tadi malam membuatnya mengurungkan niat.
Tatapan sunghoon berlari ke arah bibir ranum,yang sedikit bengkat. Leher yang di beri tanda kepemilikan,dan garis bahu yang indah. Sunghoon menarik napas dalam. Merasakan gejolak di dalam dirinya semakin meningkat. Melihat wonyoung yang kelelahan,ia memutuskan untuk mandi,namun wonyoung tak melepaskan pelukannya..malah makin menempel ke sunghoon. Ia menghirup napas dalam-dalam,mencium aroma sunghoon yang khas, maskulin namun tetap lembut di saat yang bersamaan.
"Jangan kemana-mana,harinini kamu nggak boleh pergi kerja. Nggak boleh kemana-mana." Lirih wonyoung. Sunghoon terkekeh kecil.
"Aku nggak akan kemana-mana wony,tapi aku harus tetap mandi kan?" Wonyoung menggeleng kecil sambil memanyunkan bibirnya. Sunghoon mencium bibirnitu gemas. Ciuman singkat yang berhasil membuat wonyoung kembali menarik tengkuk sunghoon dan kembali menyatukan bibirnya. Ia dengan gerakan amatir mencium,menyesap,mengigit bibir itu. Sunghoon pasrah,ia membiarkan wonyoung menguasainya.
Sunghoon menahan napasnya, membiarkan Wonyoung memimpin meski gerakan gadis itu penuh rasa canggung. Tangannya secara refleks melingkari pinggang ramping Wonyoung, mempererat jarak di antara mereka. Ia membalas ciuman itu perlahan, memastikan Wonyoung merasa nyaman dan tersampaikan seluruh rasa yang membuncah di dadanya.
Sentuhan mereka penuh kelembutan, tanpa tergesa-gesa. Sunghoon tahu betul bahwa ini bukan hanya sekadar momen fisik; ini adalah ungkapan rasa yang selama ini mereka simpan dalam-dalam. Dengan hati-hati, ia membelai punggung Wonyoung, membisikkan namanya di sela-sela napas mereka yang mulai memburu.
"Wony..." suara Sunghoon terdengar serak, hampir seperti desahan. "Kamu tahu kan, betapa aku mencintaimu?"
Wonyoung membuka matanya perlahan, menatap dalam ke mata Sunghoon yang penuh dengan kehangatan. Ia mengangguk pelan, lalu menyandarkan dahinya ke dada pria itu. "Aku tahu... dan aku juga mencintaimu, Hoon. Sangat."
Sunghoon tersenyum lebar, begitu lembut hingga seakan dunia mereka hanya dipenuhi kebahagiaan. Ia mengecup puncak kepala Wonyoung lagi, seakan ingin memastikan gadis itu mengerti betapa berartinya dia dalam hidupnya.
Mereka kembali terdiam, membiarkan kehangatan tubuh masing-masing menjadi pelindung dari dunia luar. Cahaya matahari yang masuk melalui celah tirai memperindah suasana, menciptakan atmosfer hangat di kamar mereka. Wonyoung melonggarkan pelukannya sedikit, menatap Sunghoon dengan pipi merona.
"Kamu harus mandi, tapi habis itu jangan lama-lama, ya. Aku nggak mau ditinggal lama," ucap Wonyoung dengan suara manja.
Sunghoon tertawa kecil, merasakan detak jantungnya yang berdetak lebih cepat hanya karena mendengar nada bicara Wonyoung. "Aku mandi dulu, tapi kalau kamu nggak mau lepasin aku, kita mandi bareng aja." Ia mengedipkan mata dengan jahil, membuat Wonyoung memukul dadanya pelan dengan wajah yang semakin memerah.
"Kamu tuh..." Wonyoung menggeleng pelan, tapi senyumnya tak mampu disembunyikan. Ia akhirnya melepaskan pelukannya, membiarkan Sunghoon bangkit dari tempat tidur.
Sunghoon bangkit dengan enggan, menatap Wonyoung seolah-olah meninggalkan gadis itu untuk mandi adalah hal yang paling sulit di dunia. Sebelum melangkah ke kamar mandi, ia berbalik, memberikan satu kecupan singkat di dahi Wonyoung.
"Aku nggak akan lama,sayang."
Wonyoung hanya mengangguk sambil tersenyum kecil, merasa hatinya dipenuhi rasa nyaman dan cinta yang melimpah.
Wonyoung masih terbaring di tempat tidur setelah Sunghoon masuk ke kamar mandi. Udara pagi yang hangat menyelimuti ruangan, tapi rasanya berbeda tanpa kehadiran Sunghoon di sisinya. Denting air yang jatuh dari pancuran terdengar seperti panggilan. Ia mencoba memejamkan mata, tetapi kerinduannya justru semakin mendalam.
Ia bangkit perlahan, menyingkap selimut, dan melangkah ke arah kamar mandi. Pintu kaca yang sedikit berembun membingkai bayangan tubuh Sunghoon yang kokoh, berdiri di bawah pancuran. Sesekali, Sunghoon menyisir rambut basahnya ke belakang dengan tangannya, dan aroma sabun maskulin yang samar sampai ke hidung Wonyoung.
Tanpa ragu, Wonyoung membuka pintu kamar mandi. Sunghoon yang sedang menikmati air hangat berbalik mendengar suara pintu. Matanya sedikit melebar ketika melihat Wonyoung berdiri di sana, hanya mengenakan jubah mandi putih yang menggantung longgar di tubuhnya. "Wonyoung..." panggilnya pelan, seolah tak yakin apa yang ia lihat nyata.
"Aku nggak bisa sendirian terlalu lama," ujar Wonyoung lirih sambil melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya.
Sunghoon hanya memandangnya, terdiam sejenak. Air dari pancuran terus mengalir di atas tubuhnya, tapi perhatian Sunghoon sepenuhnya tertuju pada Wonyoung. Gadis itu melepaskan jubahnya dengan gerakan pelan, membiarkannya jatuh ke lantai. Ia kemudian masuk ke dalam pancuran, berdiri tepat di hadapan Sunghoon.
Tangannya terulur, menyentuh dada Sunghoon yang basah. Sentuhan itu membuat pria itu menelan ludah, napasnya terasa berat. "Kamu tahu ini bisa berbahaya, kan?" tanyanya pelan, tapi ada senyuman kecil di sudut bibirnya.
"Kalau itu sama kamu, aku nggak takut," jawab Wonyoung dengan jujur, matanya menatap lembut ke arah pria itu.
Sunghoon menarik Wonyoung ke dalam pelukannya. Air hangat yang mengalir di antara mereka terasa seolah membersihkan semua sisa kelelahan dan jarak yang pernah ada. Ia menundukkan kepala, mengecup kening Wonyoung dengan penuh kasih. "Kamu selalu tahu caranya bikin aku nggak bisa berkata-kata," gumamnya.
Mereka berdiri di sana, saling mendekap. Sunghoon perlahan mengambil sabun dan mulai menggosokkan busa ke bahu Wonyoung, tangannya bergerak lembut dan hati-hati, seolah takut menyakitinya. Wonyoung hanya diam, menikmati sentuhan itu, matanya terpejam sementara kepalanya bersandar di dada Sunghoon.
Ketika giliran Sunghoon mencuci rambut Wonyoung, gadis itu terkikik kecil karena geli. "Tangan kamu kasar," ucapnya sambil tertawa pelan.
"Tapi aku kan hati-hati," jawab Sunghoon sambil tersenyum, bibirnya kembali mengecup ujung kepala Wonyoung.
Setelah selesai, Wonyoung mengambil handuk dan membantu Sunghoon mengeringkan rambutnya. Mereka saling tertawa, saling mengejek kecil tentang bagaimana rambut Sunghoon terlihat berantakan, dan akhirnya saling memandang dalam diam.
"Aku mencintaimu," ucap Sunghoon tiba-tiba, suaranya rendah namun penuh ketulusan.
Wonyoung tersenyum, matanya berkaca-kaca. "Aku juga mencintaimu," jawabnya.
Sunghoon menarik Wonyoung ke pelukannya lagi, memberikan ciuman lembut di bibir gadis itu. Hari itu, kamar mandi kecil itu menjadi saksi cinta mereka, momen di mana tidak ada yang lebih penting selain kebersamaan mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bound by duty
RomanceAku nggak bakal nikah sama kamu, sekalipun tinggal kamu satu-satunya perempuan di bumi. _Park Sunghoon Sampai kiamat pun aku nggak bakal nikah sama kamu _Jang Wonyoung
