14

234 25 2
                                        

Cahaya matahari menembus celah gorden, menciptakan kilauan lembut di dalam apartemen. Wonyoung perlahan membuka matanya, merasakan kehangatan pagi yang menyelimuti tubuhnya. Setelah beberapa saat memejamkan mata, ia bangkit dari tempat tidur dan merapikan selimut. Kakinya melangkah ringan menuju dapur, ingin memulai hari dengan sedikit aktivitas.

Saat Wonyoung memasuki dapur, ia mendapati Sunghoon yang sudah terbangun lebih dulu, sedang berdiri di depan lemari es, mengintip isinya dengan ekspresi kebingungan.

“Pagi,” ucap Wonyoung dengan suara serak khas baru bangun tidur.

Sunghoon menoleh, sedikit terkejut tapi tersenyum melihat Wonyoung. “Pagi. Aku lagi nyari sesuatu buat sarapan, tapi sepertinya aku nggak terlalu paham.”

Wonyoung mengulum senyumnya Tampa sadar saat melihat wajah kebingungan sunghoon, berjalan mendekat. “Aku juga nggak sering masak, tapi kali ini kayaknya aku pengen bikin sesuatu yang simpel.”

Sunghoon mengangguk, senang dengan ide itu. “Aku bisa bantu apa?”

Wonyoung membuka lemari es dan mengambil beberapa bahan: telur, keju, dan sayuran. “Gimana kalau omelet? Sederhana tapi enak.”

Sunghoon memandang bahan-bahan di tangan Wonyoung dan tersenyum. “Omelet sounds good.”

Wonyoung menyeringai sambil mengeluarkan wajan dari laci. “Oke, tapi kamu harus siap-siap kena kritik kalau nggak sesuai ekspektasi.”

Mereka mulai bekerja sama di dapur. Sunghoon memotong sayuran dengan hati-hati, sementara Wonyoung memanaskan wajan dan mengocok telur. Di antara kegiatan itu, sesekali wonyoung mencuri pandang ke arah sunghoon. Ketika Sunghoon salah memotong bawang terlalu tebal, Wonyoung tak bisa tidak protes.

“Bawangnya kayak dadu, Sunghoon. Ini mau bikin omelet atau sup?” ejek Wonyoung sambil melirik potongan bawang di papan potong.

Sunghoon menghela napas pendek, memasang ekspresi berpura-pura tersinggung. “Aku nggak setrampil itu di dapur.”

Wonyoung tersenyum kecil, mendekatinya sambil mengambil pisau dari tangannya. “Sini, biar aku bantu. Lain kali kamu potong lebih tipis, gini.”

Sunghoon memperhatikan gerakan tangan Wonyoung yang cekatan, dan tanpa sadar ia tersenyum.  Ada sesuatu yang menenangkan dalam cara Wonyoung menangani semua hal dengan tenang. Mereka melanjutkan memasak dalam keheningan yang nyaman. Namun ketika wonyoung sibuk dengan wajannya tiba-tiba sunghoon diam-diam mendekat, dan sebelum Wonyoung sempat menyadarinya, ia merasakan lengan Sunghoon melingkari pinggangnya dari belakang.

"Kamu ngapain?" Tubuh Wonyoung langsung menegang, napasnya seketika tertahan. Sensasi hangat tubuh Sunghoon yang menyentuh punggungnya membuat seluruh tubuhnya merespons dengan cara yang tidak ia duga.

“Yeji sedang merekam kita,” bisik Sunghoon pelan di telinganya.

Wonyoung menoleh sedikit, dan memang benar.Yeji berdiri dengan ponsel yang ia pegang. Wonyoung merasa gugup, tetapi Sunghoon tampak sangat tenang. Seolah-olah ini semua adalah hal biasa.

“Hoon jangan-jangan Yeji sengaja di suruh ke sini buat jadi mata-mata?” wonyoung berbisik curiga.

"Aku nggak yakin,tapi kemungkinan iya," gumam Sunghoon, mendekatkan bibirnya ke telinga Wonyoung.

Wonyoung berusaha menahan napas, detak jantungnya semakin cepat. Ia merasakan napas Sunghoon yang hangat menyentuh kulit lehernya, dan hal itu membuat wajahnya terasa panas. Ia tahu ini hanya akting, hanya cara mereka bermain-main di depan Yeji, tapi kenapa perasaannya jadi seperti ini? Kenapa jantungnya berdetak seperti ini. Ini tidak normal. Lalu pikirannya kembali mengingatkan pada realita.

Ini. Hanya. Akting.

Wonyoung berusaha menyadarkan dirinya. Namun lengan sunghoon yang melingkar di perutnya terasa benar.

Sialan! Wonyoung mengumpat dalam hati.

“Aku rasa aktingnya terlalu serius,” ujar Wonyoung pelan, mencoba menyembunyikan rasa gugup yang kian menjalar.

Sunghoon tersenyum kecil, lalu tanpa peringatan, ia memeluk Wonyoung lebih erat. Kedua lengannya menekan pinggang Wonyoung dengan lembut namun penuh keyakinan, membuat gadis itu tak bisa bergerak. Sunghoon menundukkan kepalanya, semakin mendekatkan wajahnya ke leher Wonyoung, membuat gadis itu merasakan getaran halus dari napasnya.

“Yeji masih di sana?” tanya Wonyoung dengan suara pelan, hampir berbisik.

Sunghoon melirik sekilas ke arah pintu dapur, lalu kembali mendekatkan bibirnya ke telinga Wonyoung. “Nggak lagi.”

Namun, momen itu berubah menjadi sesuatu yang lebih serius ketika Sunghoon tidak segera melepaskan pelukannya. Wonyoung menunggu, berharap Sunghoon akan mundur, tapi pria itu tetap berada di tempatnya, napasnya terasa semakin dekat.

“Sunghoon,omelette nya hangus!!" 

Wonyoung langsung tersadar dan dengan cepat melepaskan diri dari pelukan Sunghoon. Ia bergegas mengambil spatula, asap tipis mulai mengepul. Dengan sedikit panik, ia mengaduk omelet yang sudah mulai kehitaman di tepiannya.

"Astaga! Sunghoon, lihat apa yang kamu lakukan," keluh Wonyoung dengan nada cemas.

Sunghoon terkekeh kecil di belakangnya, tidak tampak menyesal sama sekali. “Aku hanya membantu menciptakan kenangan sarapan pertama kita supaya terlihat bagus di laporan yeji.” ujarnya pelan.

Wonyoung menggeleng pelan, mencoba fokus pada omelet di depannya, meskipun hatinya masih berdebar keras karena momen tadi. “Kenangan omelet gosong, maksudmu?”

Mereka saling memandang sejenak, kejadian yang terjadi di antara mereka terasa berbeda. Apa yang tadinya dianggap hanya permainan atau akting di depan Yeji tadi, entah kenapa terasa menganggu di kepala wonyoung. Akting sialan. Umpatnya dalam hati ketika melihat wajah sunghoon yang tetap tak terlihat merasa bersalah karena telah membuat jantungnya bekerja lebih keras. Sunghoon terlihat sibuk menyiapkan piring setelah omelette gosong itu di ganti dengan yang baru. Wonyoung kembali fokus memasak. Mencoba menenangkan pikirannya. Ia dan sunghoon kembali berjarak.. laki-laki itu fokus menyusun beberapa side dish di meja, seperti kimchi dll.

Mereka berdua akhirnya selesai menata meja makan, duduk bersama di meja makan kecil di dekat jendela. Meskipun sarapan mereka mungkin bukan yang terbaik, percakapan ringan dan tawa yang mengisi ruangan membuat suasana jadi lebih hidup.

Sunghoon melirik Wonyoung yang sedang mengunyah omeletnya pelan, lalu berkata dengan nada bercanda.

Mereka tertawa bersama, namun dalam tawa itu, tersimpan sesuatu yang tak terucapkan. Baik Wonyoung maupun Sunghoon merasakan ada sesuatu yang mulai berubah. Suasana apartemen yang lebih hidup dan membuatnya nyaman.

Ternyata menimbulkan sedikit rasa takut di kepala wonyoung. Ia takut ketika ia terlalu nyaman sesuatu akan terjadi. Kalimat terakhir sunghoon tentang syarat pernikahan mereka. Jangan jatuh cinta. Ia takut perlahan dengan kehadiran yeji,dan semua hal sederhana yang sunghoon lakukan. Membuatnya goyah.

Bound by dutyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang