29

248 26 0
                                        

Keesokan harinya, setelah momen emosional di apartemen, Wonyoung berada di tempat kerja Sunghoon untuk acara makan malam. Ia harus menunggu Sunghoon beberapa menit lagi karena Sunghoon sedang rapat di ruangan lain, dan Wonyoung memanfaatkan waktunya untuk duduk di meja Sunghoon. Dia merasa penasaran dan sedikit terhibur melihat bagaimana Sunghoon menyusun barang-barang di mejanya.

Saat merapikan beberapa kertas yang terserak, tanpa sengaja Wonyoung menjatuhkan sebuah buku catatan kecil yang terselip di tumpukan dokumen. Buku itu tergelincir ke lantai dan saat Wonyoung membungkuk untuk mengambilnya, laci meja Sunghoon yang sedikit terbuka menarik perhatiannya.

Dengan rasa ingin tahu, Wonyoung membuka laci paling bawah itu. Di dalamnya, dia menemukan beberapa barang pribadi Sunghoon, termasuk selembar foto yang setengah tersembunyi di antara buku-buku lama. Ketika Wonyoung menarik foto itu keluar, matanya langsung terpaku. Di foto itu, terlihat seorang wanita yang sangat mirip dengannya—tapi jelas bukan dirinya. Wanita itu tersenyum cerah, dengan Sunghoon yang berdiri di sebelahnya, keduanya tampak akrab dan penuh kebahagiaan. Di bagian belakangnya tertulis nama Kim minju.

Perasaan aneh mulai mengalir dalam diri Wonyoung. Siapa wanita ini? Mengapa Sunghoon menyimpannya di laci, tersembunyi seperti ini? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di benaknya. Dia tahu ada sesuatu yang tidak pernah diceritakan Sunghoon padanya. Dengan perasaan campur aduk, Wonyoung memasukkan kembali foto itu ke dalam laci dan menutupnya rapat-rapat, seolah-olah dia belum pernah menyentuh apa pun.

Namun, sepanjang hari itu, pikiran Wonyoung terus berkutat pada wanita dalam foto tersebut. Dia tak bisa mengabaikan rasa cemas yang mulai tumbuh—apakah Sunghoon masih menyimpan perasaan untuk wanita itu? Dan kenapa wanita itu terlihat begitu mirip dengannya?

Malam itu, ketika Sunghoon pulang dan mereka duduk bersama di ruang tamu, Wonyoung mencoba bertanya dengan hati-hati. “Sunghoon… kamu pernah cerita tentang pacar pertamamu ke yeji kan?” tanyanya dengan nada ringan, meski dalam hatinya ia menahan kecemasan.

Sunghoon tampak terkejut dengan pertanyaan itu, namun laki-laki itu Dnegan cepat menguasai ekspresi wajahnya. Ia kemudian terlihat bingung. “Hmm…aku pernah cerita ke yeji?”

Wonyoung mengangguk, berusaha menyembunyikan kegelisahannya. “Waktu kita makan malam,bareng yeji."  Sunghoon tampak berpikir sejenak. Lali laki-laki itu mengangguk, tanpa menjelaskan lebih lanjut. Wonyoung tahu dia harus menunggu waktu yang tepat untuk benar-benar menanyakan tentang wanita di foto itu.

Beberapa hari kemudian, Wonyoung kebetulan bertemu Taesan di kafe. Wonyoung segera menghindar. Ia tak ingin berurusan dengan Taesan lagi.

Namun laki-laki itu segera mengejar langkah dan meminta maaf saat laki-laki sudah berdiri di depannya. Wonyoung membuat muka.

"Jangan pernah bicara padaku Han Taesan."Wajah Taesan langsung berubah, “Aku minta maaf soal itu,semua kelakuanku karena pengaruh alkohol, wonyoung. Aku benar-benar menyesal.”

"Apapun alasannya,aku tak mau berurusan dengan lagi. Jadi tolong....menjauhlah." wonyoung berjalan cepat. Taesan tak menyerah.

“Tampar aku jika itu yang bisa membuatmu lebih baik,pukul aku wonyoung. Tapi tolong jangan minta aku untuk jaga jarak. "

"Just...go." lirih wonyoung. Taesan menghela napas panjang sebelum akhirnya menjawab, “Aku minta maaf wonyoung. Aku nggak tau apa yang harus kulakukan supaya kamu mau maafin aku.”
Setelah percakapan terakhir dengan Taesan yang tidak menyenangkan, Wonyoung kembali ke rutinitasnya di kantor. Namun, beberapa hari kemudian, suasana di tempat kerjanya mulai berubah. Kejadian-kejadian aneh mulai terjadi, membuatnya merasa tak nyaman.

Siang itu, ketika Wonyoung sedang menuruni tangga menuju ruang rapat, dia merasa ada seseorang yang mengawasinya dari belakang. Detik berikutnya, sebuah dorongan tiba-tiba membuatnya kehilangan keseimbangan. Kakinya terpeleset, dan dia jatuh berguling di tangga. Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya, terutama di pergelangan kakinya yang menghantam anak tangga terakhir dengan keras.

Bound by dutyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang