Verdentia kini tengah mengadakan beberapa kompetisi pencalonan warganya untuk bisa masuk dan berlatih didalam area kerajaan, sekaligus menjadikan mereka tentara terkuat yang akan datang. Dengan ramainya warga Verdentia terutama para laki laki itu berbondong-bondong mencalonkan dirinya.
Ada lebih dari 2000 warga yang mencalonkan dirinya. Namun kerajaan hanya akan menerima setengah dari mereka yang lolos dalam ujian tahap pertama bersama Jaylen.
Ujiannya kini adalah berlari sambil memburu beberapa burung di hutan. Siapapun yang mendapatkan burung lebih dari 5 dia akan di nyatakan lolos. Ujian pertama menyisakan 1700 warga dan masih ada beberapa test yang akan Jaylen lakukan.
Test yang Jaylen lakukan bukan semata mata hanya mengetes mereka apakah bisa dalam ujian ini. Namun juga mengetes langsung daya, kecepatan, kekuatan, dan fokus mereka untuk bisa berlatih lebih lanjut didalam kerajaan. Dengan tanpa atasan kini Jaylen memantau mereka semua di dalam hutan.
Tubuhnya yang tegap membuat beberapa calon kian takut namun juga gencar agar bisa masuk dalam kerajaan. Jubah yang sebelumnya sosok itu gunakan dia tautkan pada pinggangnya.
Ujian fokus yang tengah di ujinya kini adalah menangkap beberapa buah yang Jaylen lemparkan menggunakan ketapel. Selain berguna untuk kecepatan dan fokus, ini juga akan berguna jika suatu saat akan terjadi peperangan.
Disini banyak sekali yang gugur. Beberapa buah yang Jaylen lemparkan terlalu cepat dan kadang malah mengenai kepala mereka membuat nya benjol dan kemerahan. Jaylen hanya diam dan acuh kala banyak peserta yang gugur. Dia tak butuh pasukan lemah untuk menjaga Verdentia. Sisa 1200 peserta dari total 2000 warga.
Jaylen memberikan mereka jeda untuk istirahat hingga besok. Dia tak mau calon kandidat dan orang yang masih berstatus warganya mati kelelahan karena pelatihannya. Jaylen kembali ke istana, dan masuk kedalam kamarnya. Dia bisa melihat jika beberapa luka di tubuhnya kian tersamarkan karena waktu. Jaylen lantas mandi dan membersihkan dirinya. Menaruh pedang berharganya pada tempat yang dia khususkan.
"Jejak ini..." Lirihnya melihat bekas bulu angsa yang dia paksa cabut untuk si manis. Tak terasa senyuman lebar muncul di wajah datarnya membuatnya mengingat pertemuan pertama yang konyol bersama pangeran manis itu.
Jaylen segera berganti pakaian usai mandi. Mengenakan pakaian layaknya seorang pangeran. Dengan warna pakaian coklat serta beberapa hiasan di tubuhnya membuat gagah dan tampan pangeran itu. Dia kembali menautkan kedua pedang nya di kedua sisi pinggang kakinya.
Duduk di taman kerajaan yang terdapat sang adik yang asik bermain dengan beberapa hewan.
"Banci." Ketusnya mengalihkan Jexy yang tadinya sibuk bermain.
"Apa? Ck, lihat Carver menyukainya makanya aku suka dengan hewan ini.." balasnya.
Apa yang di katakan ibundanya memang benar, terkadang Jexy bisa terlihat sangat kekanak-kanakan dan juga terlihat dewasa dalam satu waktu yang berbeda.
"Dimana Maron?" tanya nya ketus duduk di kursi tepat di samping Jexy.
"Dia tengah pergi ke Ghalerixt, menemui tunangannya. Dia bilang Haylen tengah membutuhkan nya karena sesuatu." Adu nya pada sang Kakak.
Haylen Sanfenix adalah putra mahkota pertama dari kerajaan Ghalerixt. Anak tunggal dari raja Jhoan Ghabana dan Ratu Thea Van Ghabana. Sekaligus tunangan Maron Smith yang telah melakukan pelantikan putra mahkota bersamanya beberapa tahun silam.
Makanya kini sisa Jaylen lah yang harus melakukan pelantikan sebelum acara pernikahan Maron di adakan. Jaylen menemani adik kecilnya yang masih sibuk mengelusi hewan berbulu mirip kucing itu.
"Bagaimana pangeran kerajaan Aurorise kak?" Tanya Jexy begitu polos dan penasaran.
"Cantik."
"Putri atau pengeran?" Jexy di buat bingung dengan ucapakan kakaknya.
"Pangeran yang cantik..." Lirihnya. Jexy yang mendengar itu mengangguk.
Nampaknya kakanya itu luluh akan satu pesona yang tak Jexy ketahui siapa sosok pangeran cantik yang Jaylen sebut.
"Kau menyukainya?" Jaylen tak menjawab. Jawah datarnya masih sama terlihat begitu jelas dengan mata elang yang sibuk menatap kosong ke arah depan. Padahal dalam hatinya sendiri dia ingin sekali lagi menemui Reeve dan mengajaknya duduk di taman ini.
Jaylen memikirkan jika dia pasti akan bertemu kembali, apalagi sosok itu akan memimpin selama beberapa bulan disana. Apa Jaylen mampu meluluhkan hati Reeve yang juga sama batu nya dengan dirinya?
"Kau penasaran?" Angguk Jexy begitu antusias kala sang kakak kini membuka suaranya.
"Sangat penasaran, jarang ada putri atau bahkan pangeran yang kau anggap cantik dengan mulut kejam mu itu kak." Lirikan tajam Jaylen membuat Jexy hanya bisa cengengesan pasrah kala kakanya nampak hendak memarahinya.
"Bercanda hehe."
"Oh ya apa ibunda tau bagaimana rupa nya, kalau gitu aku mau bertanya pada bunda saja jika kakak tidak memberiku jawaban."
"Hanya Maron yang tahu.."
"Huh, menyebalkan!" Jexy cemberut dan melepaskan hewan kecilnya itu. Duduk di samping kakaknya dan meminta sesuatu pada sosok itu.
"Apa suatu saat ayahanda memperbolehkan aku mewarisi tahta sekaligus kekuasaan mu kak?"
"Huh?" Jaylen mengernyit keheranan dengan ungkapan adik bungsunya itu.
"Iya, aku ingin mewarisi sebagai pengeran yang memegang kekuasaan atas pasukan bersenjata dan para prajurit Verdentia." Senyumnya membayangkan angan angannya beberapa tahun kedepan.
"Kau ingin mewarisi ku?" Angguknya begitu antusias.
"Kenapa?"
"Aku ingin menjadi kuat, dan bisa melindungi setiap warga yang selalu kena gangguan para bandit jika tengah melakukan ekspor pangan."
"Aku juga ingin melindungi pangeran Cerver suatu saat nanti."
Jaylen diam menyimak penjelasan adik bungsunya itu yang nampak begitu gigih dan bertekad besar. Tak lama tangannya terangkat mengacak Surai ang adik berbaring berdiri. Setelahnya membuka kaitan pedang miliknya dan dia serahkan pada adiknya.
"Suatu saat itu akan menjadi milik mu... Aku berjanji."
"Sungguh?" Angguk Jaylen membuat Jexy tampak begitu senang. Anak itu memainkan satu pedang berwarna hitam dengan corak bulu hitam di sekelilingnya.
Anak itu nampak keberatan mengangkat benda besi panjang yang berat itu. Namun siapa sangka itu bisa membuat Jexy senang dan membuat kurva tipis tercetak jelas dalam bibir Jaylen.
"Kak ini sungguh berat, hahaha." Tawa nya senang.
"Satu pedang 5 kilo, dasar lemah." Ejek nya pada sang adik.
"Huhhh lihat jika aku sudah kuat nanti aku akan bisa mengayuh pedang ini lebih ringan dan memenggal mu!"
"Coba saja, sebelum itu aku yang akan memenggal mu.."
"Hahahaha" Jexy tertawa dengan kebodohan dirinya dan sang kakak. Jaylen tak tertawa namun muka sosok itu bisa terlihat jelas jika ia tengah tersenyum.
Jaylen merebut paksa pedangnya dan dia masukan kembali pada cover nya. Kembali ia kaitkan dan melenggang pergi ke dalam istana. Meninggalkan Jexy yang masih berbahagia kala bisa memegang pedang milik sang kakak.
"Apa ini permulaan ku untuk menjadi putra mahkota?" gumamnya terpikir jika dia akan memilih Reeve sebagai calon nya.
𓂃 ࣪˖ ִֶָཐིཋྀ ִֶָ ࣪˖ ִֶָ𓂃 𓂃 ࣪˖ ִֶָཐིཋྀ ִֶָ ࣪˖ ִֶָ𓂃
Hallo pren ada yang mau double up, duh duh harusnya semalem aku update tapi malah ketiduran.
Jadi untuk menebus kesalahan ku, hari ini dan siang ini aku double up, yeeeee.
Btw gimana bab kali ini, ya masih biasa lah yaaa krna gak ketemu Reeve xixixix.
Oke segini dulu see u in the next chapter Babay 💚 💐

KAMU SEDANG MEMBACA
PRINCE OF VERDENTIA [NOREN]
RomanceJaylen Verden Smith sang pangeran berdarah dingin yang selalu berpegang teguh pada sumpahnya yakni tak akan berlutut kepada siapapun dan apapun tahta nya kecuali pada sang Ayahanda dan Ibundanya. Namun Pangeran Reeve Aurolarick lah satu satunya pan...