Malam nya usai Jexy di rawat oleh para dokter kerajaan, kini sosok kecil itu masih tertidur pulas di atas ranjang Jaylen. Dengan Reeve yang juga berada di sana bersama ratu Eileen.
"Mengapa dia minum air kelapa?" tanya Jaylen lembut karena sebelumnya saat dia menatapnya terlihat Reeve begitu ketakutan.
"I-itu karena aku menawarinya... Maaf.." lirihnya dengan menunduk lalu menoleh memandangi Jexy yang masih menutup mata.
"Huhff..." Jaylen tak bisa marah pada Reeve. Dia lantas menatap Reeve yang kini berbalik ke arahnya.
"Tidak apa, bukan salah mu, kau tak tahu, ku harap Jexy baik baik saja." Angguk Jaylen, membuat sang ratu Eileen melihatnya begitu hangat.
"Reeve ... Sudah Jexy baik-baik saja, kau jangan begitu sendu ya sayang..." lirih sang ratu lalu meninggalkan ruangan itu.
Hanya tersisa keheningan antara mereka bertiga. Jaylen tak membuka suaranya karena dia juga bingung harus berbuat apa kali ini.
"Umm dimana pedang mu?" tanya Reeve tak melihat pedang milik Jaylen dimana pun.
Jaylen yang baru menyadari jika dia meninggalkan pedangnya pun panik dan langsung bergegas kembali ke area pembuatan pedang.
Dia masih melihat beberapa tukang yang masih mengerjakan beberapa pedang disana, membuat Jaylen harus bertanya dimana pedang miliknya.
"Disana yang mulia..." Lirih salah satu tukang menunjukan pedangnya yang kini malah tergores dengan apik. Nampaknya mereka memperbaiki beberapa cacat pada pedangnya hingga membuatnya nampak seperti baru. Walau bekas hiasan bulu yang tercabut masih begitu membekas dan enggan dia perbaiki.
Lantas setelah mengambil pedangnya dia kembali dan melihat jika Reeve malah ketiduran tepat di samping Jexy dengan posisi kurang mengenakan. Dia memindahkan Reeve ke tengah kasur membuat kasur itu kini tak bisa dia tempati.
Jaylen memandangi wajah manis Reeve yang terkena pantulan cahaya bulan. Begitu cantik dan manis dalam satu waktu. Bulu mata yang panjang dengan mata yang indah membuat Jaylen benar benar terpesona.
"Tak boleh ada yang memilikimu selain aku!" Lirih Jaylen berucap sebelum akhirnya keluar menuju balkon kamarnya untuk menikmati suasana malam itu.
*****
Ditengah malam entah kini sudah pukul berapa, Reeve terusik dari tidurnya karena merasakan sesuatu yang berat dari arah pinggangnya. Samar-samar dia membuka matanya dan melihat jika dia tidur dalam posisi tepat di depan dada Jaylen yang tengah tertidur. Dia di peluk oleh Jaylen membuatnya memberontak namun, kala melihat kebelakang dia melihat jika ada Jexy yang masih belum bangun.
"Shh mengapa, ih lepaskan!" Lirihnya kesal karena Jaylen yang malah mempererat pelukannya.
Sampai Reeve menendang tubuh Jaylen membuat pangeran itu sontak jatuh ke bawah kasur miliknya.
"Akhhh shh.." ringis Jaylen setengah sadar.
"Kenapa kau ini?" tanya Jaylen dengan wajah yang masih mengantuk.
"Bandit sialan!"
"Pangeran!"
"Yaya, pangeran bandit sialan! Bisa-bisanya kau tidur memelukku di samping Jexy!" Ketus Reeve membuat Jaylen bangkit dan duduk di kursi dekat jendela.
"Bagaimana lagi? Kau yang tidur di kamar ku, dasar angsa pemarah." Reeve kesal dan mengacak acak rambutnya lalu turun dari kasur dan melenggang melewati Jaylen.
Belum sempat pergi jauh, tangannya di tarik Jaylen hingga Reeve duduk di pangkuannya. Sosok manis itu membelakkan matanya dan bergerak gelisah untuk melepaskan diri dari kukungan Jaylen.
"Lepas, dasar pangeran bandit!"
"Gak akan!"
"Lepas! Biarkan aku pergi ke kamar ku!" Ketusnya.
"Tetaplah disini," ucap Jaylen lirih dengan kini menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang empu.
Rasa geli menyertai Reeve, membuatnya kini diam sambil menjauhkan wajah Jaylen dari lehernya. Cukup lama akan posisi keduanya sambil lirih lirih Jaylen bertanya cukup serius kepada Reeve.
"Siapa calon mu...?" tanya nya lirih karena tenggelam dalam leher Reeve. Sang empu yang seperti mendapat bisikan pun menoleh melihat Jaylen dengan ekspresi wajah yang sulit di jelaskan.
"Aku...aku... Ada seseorang pangeran.." jawabnya lirih dengan kini pasrah akan posisinya yang tengah di peluk dari belakang oleh Jaylen.
"Sungguh? Siapa pangeran itu..?" suara Jaylen tak seperti biasanya, nampak seperti sosok yang murung dan begitu hilang perasaan. Reeve diam sejenak sebelum akhirnya duduk menghadap ke samping dan tepat kini melihat wajah Jaylen begitu dekat.
"Kau akan tahu nanti.."
"Lalu apa tujuan ku berada disini, Reeve?" tanya Jaylen pada sosok itu, membuatnya mengernyit keheranan.
Reeve yang ditatap dengan mata penuh pertanyaan itupun melihat asal ke sekeliling penjuru kamar menghindari kontak mata dengan Jaylen. Reeve tak bisa menjawab pertanyaan itu, karena dia sendiri juga belum rela jika pangeran yang ayahnya katakan akan datang dan menjadikannya putra mahkota.
Apalagi saat kini perasaannya pada sosok besar yang tengah memangku nya begitu abu-abu. Antara badai dan hujan itulah perasaan Reeve terhadap Jaylen. Belum ada sinar mentari yang benar benar mencoba muncul untuk memberhentikan badai dan hujan yang belum usai.
"Maaf membawa mu, keluar gerbang saat itu..." Jaylen tak lagi merengkuh pinggang Reeve, kini tangan nya memegang kedua tangan Reeve penuh ketulusan.
"Tidak masalah, walau aku tak ingat apapun kejadian di luar gerbang, yang penting sekarang, aku baik-baik saja." Angguk Jaylen lalu melepaskan Reeve agar bisa bangkit dari pangkuannya.
Dia melenggang pergi keluar dari pintu kayu yang begitu besar, meninggalkan rona bayangan yang di pantulkan oleh sinar bulan. Jaylen masih setia duduk di kursinya tanpa menyusul Reeve atau kini mencegah pergi. Dia tak tahu, ucapan ibundanya seolah begitu sulit dia lakukan.
Disaat seperti ini, bukan waktu untuk menyerah, jika Jaylen mencintainya maka dia harus berjuang untuk itu. Siapapun pangeran yang akan meminang Reeve nantinya, dia yakin bahwa dirinya akan berdiri lebih layak di bandingkan sosok itu di depan raja Dareth. Itu pasti.
Esoknya, Jaylen mulai kembali mengambil alih pelatihan. Dengan Jexy yang kini tengah di rawat oleh ratu Eileen. Jaylen menunda kembali kepulangan Jexy karena kondisinya yang belum stabil. Benar, Jexy memang tidak boleh memakan makanan yang sembarangan walaupun hanya sekedar buah atau daging, anak itu begitu sensitif dan rentan sakit, makanya ratu Arion selalu membedakan makan untuk anak bungsunya itu. Diam diam sosok manis itu melihat dari lantai dua di balik tiang, akan Jaylen yang dengan wajah tegas nya yang tengah mengampu para prajurit.
Berbeda dengan wajahnya semalam yang nampak begitu sendu. Dia merasa bersalah seolah telah menyakiti sosok yang selalu membuat nya kesal itu. Walau begitu, sejak bersama Jaylen Reeve lebih sering menunjukkan ekspresi nya walau hanya sedikit, sama seperti Jaylen.
"Maaf... Ini bukan kehendak ku..." Lirih nya lalu pergi bersama satu pelayan di belakangnya.
𓂃 ࣪˖ ִֶָཐིཋྀ ִֶָ ࣪˖ ִֶָ𓂃 𓂃 ࣪˖ ִֶָཐིཋྀ ִֶָ ࣪˖ ִֶָ𓂃
Malm prennn jadi nih double up nyaaa tq udh req ehekkkkk, besok up lagi xixixixiii
See u in the next chapter babay💚💚
Jangan lupa follow dan ikuti akun medsos ku ya...
Tt: norenixx
Ig: norenixx
Twt: norenixx

KAMU SEDANG MEMBACA
PRINCE OF VERDENTIA [NOREN]
RomanceJaylen Verden Smith sang pangeran berdarah dingin yang selalu berpegang teguh pada sumpahnya yakni tak akan berlutut kepada siapapun dan apapun tahta nya kecuali pada sang Ayahanda dan Ibundanya. Namun Pangeran Reeve Aurolarick lah satu satunya pan...