18. Kesempatan...

1.4K 189 50
                                    

Reeve duduk di area belakang sendirian, sambil memainkan jepitan angsa yang dia buat sendiri dari bulu yang berada di pedang Jaylen sebelumnya. Dia mengingat moment itu, rasanya selalu aneh bagi Reeve kala mengingat akan sesuatu yang berbau bulu angsa. Seperti ada yang spesial dalam kata itu.

Dareth yang melihat anaknya duduk sendirian pun menghampirinya dan duduk bersamanya.

"Mengapa murung, tak seperti biasanya?" tanya nya pada sang anak.

"Tidak... Namun... Ayah.."

"Ya?"

"Siapa calon ku yang ayah katakan?" tanya nya agar tak membuat hatinya kian gundah.

"Kau ingin tahu?" Reeve mengangguk antusias, "Tentu saja!"

"Kau akan tahu nanti, dia yang akan menjaga mu, dia yang bertekad dan dia yang begitu mengagumi ..."

"Mengagumi apa?" Reeve penasaran dengan ucapan ayahnya yang terjeda itu.

"Kau akan tahu nanti, mungkin ajaa dia yang akan membawa perubahan...sudah jangan memikirkan hal itu, masih ada waktu satu tahun untuk merenungi siapa calon mu." Dareth lantas pergi dan malah lebih meninggalkan benak tanya pada pikiran Reeve.

Hingga sore dirinya masih setia duduk disana tanpa melakukan apapun. Bahkan sang ratu Eileen pun tak bisa menggubris anaknya yang masih setia pada bangku taman belakang. Seperti nya ada yang mereka sembunyikan dari Reeve. Namun apa?

Jaylen yang baru saja selesai dari area pelatihan dengan baju yang begitu berantakan pun, tak sengaja melihat Reeve di area belakang dekat dengan area pelatihan. Sosok itu terduduk sendirian sambil menundukkan kepalanya begitu nampak sedih.

"Kenapa?" tanya nya tiba-tiba membuat Reeve lantas mendongak melihat Jaylen.

"Tidak ada."

"Ck, kau bau, mandilah sana!" Pinta Reeve dengan seolah menutup hidungnya.

"Apa? Wajar aku baru saja berlatih bukan bermain bulu!" Ejeknya karena Reeve yang sedari tadi memegangi jepitan bulu angsanya.

"Ck."

Jaylen berjongkok dibawah bangku Reeve dan menyetarakan tingginya dengan sosok itu. Jaylen menatapnya begitu lekat dengan Reeve yang kini malah malu dengan wajah merahnya.

"Apa boleh aku mengambil satu kesempatan?" tanya nya pada Reeve.

"Kesempatan apa yang kau maksud pangeran?"

"Kesempatan untuk bisa membuktikan pada raja Dareth jikalau aku mampu."

"Apa maksud mu?" Reeve belum paham akan maksud dari ucapan Jaylen itu.

"Akan ku buktikan, aku mempu menjaga mu sebagai seorang pangeran." Jaylen bangkit dan duduk di kursi lain.

Reeve terdiam atas ucapan itu. Reeve seperti yakin jika Jaylen kini terang terangan telah mengungkapkan bahwa dia mencintainya dan siap menjaganya, sebagai pengeran dan sebagai calon putra mahkota dengan pangkat pemimpin pasukan bersenjata. Jaylen sendiri mendongakkan kepalanya ke atas sambil menutup matanya. Membiarkan tubuhnya yang merasa lelah sejenak beristirahat pada bangku itu.

Sosok manis itu hanya bisa diam memaku melihat setiap inci pergerakan Jaylen. Sosok itu bukan sosok jahat atau sosok yang begitu liar seperti apa yang dia lihat pertama kali. Sisi lain Jaylen membuat Reeve penasaran dan kian penasaran. Apalagi tentang keterkaitan dirinya dengan batu biru dan Jaylen.

Kalung yang selalu Jaylen pakai juga membuat Reeve ingin mengulik nya. Kalung yang sama persis seperti miliknya. Namun itu berbeda ukuran, dan beda pada pengaitnya.

PRINCE OF VERDENTIA [NOREN] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang