14. Perintah

1.3K 184 26
                                    

Kevin dan Harry sudah sedia menjalankan misinya demi sang pangeran. Sejujurnya Kevin sendiri takut karena lawannya kali ini adalah raja Dareth. Mereka bisa tamat jika ketahuan oleh salah satu prajurit nya.

Jaylen sendiri setia menunggu kabar dari mereka. Nampaknya Jaylen kini benar benar gusar akan surat Reeve sampai mengorbankan pengawalnya untuk maju jauh ke kota Aurorise.

Maron yang tau rencana adiknya, kini menemui Jaylen yang sibuk di area belakang istana. Jaylen tengah berlatih pedangnya dan mencoba beberapa persenjataan baru yang baru dikirim oleh kerajaan Nyxshire.

"Apa-apaan maksudmu membahayakan dua pengawal mu?!" Maron datang tiba-tiba dengan emosi yang begitu membara. Suara bariton itu terdengar keras dengan nada bertahan yang lantang.

"Apa?" Jaylen malah hanya membalasnya ketus tanpa tau betapa marahnya kakaknya kali ini.

"Kau membahayakan Kevin dan Harry!" Maron membentak Jaylen berharap Jaylen bisa berhenti dan mendengarkan perkataannya.

"Lalu apa urusannya dengan mu?!" Jawabnya ketus.

"Kau masih bertanya, atau kau memang dungu? Tentu saja aku khawatir dan ini urusan ku!"

"Aku ada putra mahkota Jaylen!"

"Tugas ku tak sekedar menjadi pangeran yang bisa pergi kemanapun aku mau, seluruh kerajaan adalah tanggung jawab kedua ku!"

"Jika terjadi sesuatu pada mereka apa kau bisa menjamin jika kerabat dan para warga tidak menuntut kerajaan huh?" Omelnya pada Jaylen yang kini meletakan pedangnya pada tempat khusus.

"Hanya tugas kecil mengapa begitu marah? Aku enggan jika melihat Reeve akan di lantik sama dengan ku!" Balas nya masih ketus.

"KAU HARUS BERGERAK SENDIRI, APA SETELAH BERTEMU REEVE KAU MENJADI PENGECUT?!" 

Jaylen geram dengan perkataan itu. Bisa-bisanya kakaknya mengatainya pengecut sedangkan Jaylen saja adalah pemburu kelas kakap.

"Jaga bicara mu!" Jaylen menatap sengit ke arah Maron dengan mengambil bilah pisau kecil.

"Suruh mereka pulang, atau kau akan tahu akibatnya!" Ancam Maron membuat Jaylen diam tak berkutik.

Maron meninggalkan adiknya dengan perasaan jengkel dan dongkol di hatinya. Nafasnya memburu mengetahui kelakuan adiknya semakin hari semakin membuat kerajaan berantakan.

Jaylen dengan amarahnya kini melempar bilah pisau kecil itu dengan cepat dan kencang ke salah satu pohon, membuatnya menancap sempurna disana. Matanya benar-benar di selimuti amarah dengan raut datar diwajahnya.

"Arhh sial kau Reeve!" Umpatnya.

Malamnya Jaylen mengirimkan surat untuk Kevin dan Harry agar segera kembali atas perintah raja. Jika tidak Jaylen sendiri yang kini akan habis babak belur oleh ayahnya.

Harry dan Kevin pun lantas pergi dari kekuasaan Aurorise, meninggalkan kerajaan itu dengan tangan kosong tanpa jawaban apapun. Jaylen yang kini tengah marah pun hanya bisa melampiaskan nya pada pedang yang selalu dia bawa.

Di tepi danau ia berlatih sendirian dengan telanjang dada, untuk menuntaskan segala emosinya. Jaylen di hantui oleh surat terakhir yang Reeve kirimkan membuatnya begitu keras kepala pada diri nya sendiri.

"Arhgggg." Erangnya menebas satu pohon didepannya. Nafasnya begitu memburu, menampakan seberapa besar emosi yang kini tengah meluap dalam dirinya.

Tak lama ada suara langkah kaki yang membuat Jaylen sigap dan waspada. Pergerakan di antara semak-semak membuatnya memasang kuda-kuda untuk bersiap menyerang, jikalau itu hewan buas.

PRINCE OF VERDENTIA [NOREN] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang