Jaylen Verden Smith sang pangeran berdarah dingin yang selalu berpegang teguh pada sumpahnya yakni tak akan berlutut kepada siapapun dan apapun tahta nya kecuali pada sang Ayahanda dan Ibundanya.
Namun Pangeran Reeve Aurolarick lah satu satunya pan...
Mentari pagi muncul, mengintip melalui jendela yang besar dan ditutupi oleh gorden transparan putih. Mengulik bagaimana dua pasangan itu tidur dalam posisi saling berpelukan semalaman. Entah kini berada di kamar siapa yang jelas posisinya begitu terlihat manis dan romantis.
Menyambut pagi dengan pelukan hangat, itulah kata yang cocok untuk keduanya. Sang empu melenguh, mendapati mentari kian menyoroti matanya yang tertidur membelakangi sang dominan.
Merasa berat di bagian pinggangnya, hingga ia tersadar akan sesuatu dan langsung bergegas hendak melarikan diri. Namun tangan sang dominan lebih kuat mendekapnya hingga kembali ke posisi semula.
"Diam lah ini masih pagi." Suara bariton yang serak khas seorang dominan yang baru saja bangun membuat si manis bergidik ngeri.
Pakaian mereka masih utuh namun, si manis masih mencoba mengingat apa yang keduanya lakukan semalam. Sampai wajahnya memerah semu, malu jika semalam mereka menghabiskan waktunya untuk berciuman dan bermanja di tengah cahaya bulan hingga tertidur.
"BANDITTTT!!" teriak Reeve, membuat Jaylen mau tak mau membuka matanya dan langsung melihat Reeve membelakangi cahaya dengan kilauan rambut yang terpancar.
Cantik.
"Kenapa berteriak hm?" Kembali suara itu membuat seluruh bulu halus di tubuh di manis meremang bangkit. Sensasi merinding dan geli dia rasakan bersamaan.
"Apa yang kau lakukan di kamar ku?" Ujarnya panik sambil mendekap selimut di dadanya.
"Tidur, apalagi?" Jawabnya begitu enteng.
"Ck, pangeran kau mempunyai kamar sendiri, tidurlah di kamar mu!!" Sentaknya.
Jaylen memandang tegas dan tajam ke arah Reeve. Bukan maksud tatapan itu Jaylen marah pada si manis, namun sosok itu masih mencoba menetralkan pandangannya agar bisa terbuka sepenuhnya.
"Siapa yang semalam mengigau untuk memeluk mu, dasar angsa?!" tanya Jaylen teringat Reeve yang tertidur usai berciuman dengannya karena kelelahan. Sosok itu mengigau dan tak mau melepaskan Jaylen yang berakhir tidur sambil memeluknya.
"S-siapa? B-bukan aku!" Elaknya.
Jaylen segera mendekat dan mengukung tubuh itu yang tersekat oleh selimut di dada di manis.
"Perlu ku ulang kejadian semalam hmm?" Wajah khas Jaylen, dengan rambut berantakan yang Reeve lihat dari bawah sungguh membuatnya gila. Pikirannya tak sejalan, dia mengakui bagiamana tampannya Jaylen dengan rambut berantakan itu.
Walau seperti bandit dan pengemis jalanan, wajahnya tak bisa di pungkiri jika dia benar benar gen keturunan raja.
"Ti-tidak perlu!" Jaylen terkekeh geli karena melihat raut memerah Reeve yang terus memandanginya.
Jaylen bangkit dan duduk di tepi kasur. Membiarkan si manis masih dengan pikiran anehnya. Jaylen melirik kebelakang lalu menatap netra Reeve yang nampak tersipu malu.
"Jangan berpikir aneh, aku tak mungkin melakukan hal itu pada mu." Jaylen mendongak lalu berdiri dan melepaskan baju nya.
"Mengapa membuka baju mu?" tanya nya tanpa melihat tubuh bagian atas Jaylen yang terpajang begitu saja.
"Gerah, mandilah, aku akan kembali ke kamar ku," ucapnya. Sebelum itu tangan besarnya mengulur untuk mengacak surai si manis.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.