Malam ini hujan deras mengguyur, angin dingin menyelinap lewat celah jendela. Gracia duduk di tepi tempat tidur Zee, menyiapkan obat yang harus diminum anaknya sebelum tidur.
"Zee, cepetan sayang. Gausah lama-lama di dalam kamar mandinya." panggil Gracia.
"Iya, maaa."
Dari arah kamar mandi, Zee muncul dengan wajah yang segar, bekas percikan air masih terlihat di pipinya. Ia mengenakan piyama hangat dan sandal rumah.
"Sini."
Zee tersenyum melihat Gracia yang duduk sudah menunggunya sambil menepuk kasur menyuruhnya untuk segera duduk.
"Aku masih harus minum obat? Sampai kapan sih, mah?" rengek Zee bertanya.
"Sampai obat ini habis, sampai kamu sembuh."
"Aku udah sembuh lho."
"Aamiin, tapi masih tetep harus minum obatnya. Nurut sama mama ya? Yuk minum sekarang, nih." Gracia langsung menyuapkan satu persatu obatnya, Zee menelan menurut saja.
"Udah."
Gracia mengangguk puas, lalu meraih tangan Zee untuk memeriksa suhu tubuhnya. "Kamu semakin lebih baik. Tapi tetap harus istirahat yang cukup ya, gak boleh beraktivitas yang berat-berat dulu, lari-lari kayak tadi kejar mama juga nggak boleh." peringat nya.
Zee tersenyum. "Mama perhatian banget sih, aku udah gede tauu. Makasih ya."
"Heem."
"Eh, kamu beneran nggak mau makan lagi? Tadi dikit banget lho."
"Engga,"
"Aish, yaudah."
Zee terus melirik Gracia yang kini tengah menaruh minyak telon ke meja sambil melangkahkan untuk mematikan lampu.
"Bobo gih, baca doa dulu tapi."
"Tapi aku masih belum ngantuk,"
"Hmm terus mau apa? Mau mama cium dulu?"
"Ih enggak, mau um... apa ya, itu aja deh,"
"Itu apa?"
"Ceritain tentang masa kecil aku lagi dong." cicit Zee gemas.
"Oh... jadi anak mama ini mau di dongeng in, boleh-boleh."
"Tapi yang sedih, ada nggak?"
Kedua alis Gracia terangkat, wanita itu menatap tak percaya Zee. "Seriusan? Ya... ada sih."
"Serius, mah. Biar aku nya cepet bobo kalo denger yang sedih-sedih."
"Mana bisa gitu sih, sayang."
"Bisaa, ayo cepet cerita."
"Okay..."
-2011
Pagi buta di tahun 2011, udara dingin terasa menusuk. Di luar, hanya terdengar sayup-sayup suara deru angin yang menerpa dedaunan.
Gracia membuka matanya perlahan, matanya terasa berat setelah malam yang panjang. Ia melirik ke samping, melihat bayi berumur 2,5 tahun yang masih terlelap di bawah selimut tebal. Wajah kecil itu damai, meski semalam telah membuatnya begadang karena tangisan yang tak kunjung henti.
Tangan mungilnya menggenggam erat tangan kiri Gracia. Wanita itu tersenyum tipis, gemas sekaligus sayang.
"Anak ini kalau tidur kayak malaikat. Tapi kalau bangun? Tingkahnya nggak abis-abis," pikirnya sambil menahan tawa.
Perlahan, Gracia melepaskan tangan Zee dan mencoba menarik tangannya. Tapi baru saja tangan itu lepas, Zee menggeliat kecil, alisnya mengerut, dan mulutnya mulai bergerak seolah mau menggumamkan sesuatu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Beloved S2
RastgeleCinta dan kasih sayang yang di miliki oleh Gracia hanya boleh di berikan untuk Zeevara.
