fighting

492 86 3
                                        

punya dua orang anak dengan jarak yang dekat sebenarnya membuat yeji pusing bukan main. apalagi ketika mereka tidak akur dan berkelahi seperti saat ini.

mempunyai dua anak laki laki yang tengah bertengkar rasanya emosi yeji benar benar diuji.

tadi yeji sedang mencuci piring ketika suara teriakan ethan terdengar disusul pukulan ethan kepada kakaknya yang menatap adiknya sambil melotot marah.

"kenapa berantem?" yeji menopang kedua tangannya dipinggang ketika anak anaknya disidang oleh jeno. bukannya diam, keduanya saling melirik.

"kenapa kalian saling pukul begini?" ethan yang masih kesal melemparkan tempat pensil miliknya tepat mengenai wajah kakaknya hingga kakaknya terjatuh saking kerasnya lemparan sang adik. "KAMU BUKAN MAMAS NYA DEDEK! AKU BENCI KAMU!"

"ETHAN" Jeno meninggikan suaranya ketika hal yang tidak pernah ia singgung sama sekali keluar dari mulut si bungsu. melihat papa dan mamanya sudah marah, ethan berlari ke kamar dan membanting pintu meninggalkan ruang keluarga.

"mamas ngga papa?" arkan mengusap dahi yang masih terasa sakit dan mengusap air mata yang ada di sudut matanya.

"mas?" bisik yeji memastikan si sulung baik baik saja. arkan tersenyum, merapikan kembali beberapa lembar tugas tugas miliknya yang sudah dicoret coret sang adik sebelum melangkah keluar dari rumah karena kamar mereka pasti dikunci oleh ethan.

ia hendak mengerjakan ulang tugasnya diluar rumah.

"kamu ke mamas. aku ke dedek. dedek pasti ngga mau liat kamu" ujar yeji sambil mengusap wajahnya membiarkan jeno terduduk sambil menghela napas. "sorry aku kelewatan"

yeji mengusap bahu suaminya. ia memang tahu betul jeno maupun dirinya tidak mau mengungkit status arkan setelah mereka menyadari kalau arkan pernah dijenguk oleh ibu jeno.

"jangan marahin dedek" jeno berbisik pelan, sedikit menyesal karena menaikkan nada suaranya kepada anak anaknya. yeji mengangguk pelan kemudian mengecup pipi suaminya yang melangkah ke kamad untuk mendinginkan kepala.

yeji mengambil beberapa potong bolu kesukaan ethan sebelum melangkah kakinya ke kamar anak anak.

pintunya tertutup namun tidak dikunci. ia bisa melihat anak bungsunya tengah menangis di kursi belajar membelakangi dirinya. "dek, mama masuk ya?" izinnya mamun ethan tidak merespon. ia masih menangis sambil mencoret coret kertas di tangannya.

"dedek, dedek lagi apa?" yeji meletakkan bolu buatannya di hadapan ethan yang menghapus air matanya namun masih ada isakan yang tersisa. "gambar" ujarnya terbata-bata.

"gambar? gambar apa?" yeji melipat kedua tangannya di atas meja belajar sebelum meletakan kepalanya memiringkan kepada si bungsu. "dedek sobek tugas mamas. dedek salah huwaaaaa" ujarnya terbata-bata sambil menangis mengingat kesalahannya.

yeji tersenyum tipis kemudian membawa si bungsu ke dalam gendongannya. ia menepuk nepuk pelan punggung ethan yang menangis di dadanya. "iya, adek boleg nangis. mama temani dedek nangis ya? nanti kalau sudah selesai menangis, mama boleh bicara ya sama dedek?"

ethan menganggukan kepala, ia masih menangis di pelukan mamanya selama lima menit sebelum perlahan mulai redam ketika tenggorokannya sakit. yeji memberikannya minum. "dedek sudah bisa bicara sama mama?"

ethan menganggukan kepala. "tadi dedek sama mamas kenapa? kok dedek sama mamas bertengkar padahal tadi waktu makan malam dedek sama mamas baik baik saja"

"dedek mau main sama mamas" ethan menjelaskan dengan terbata. yeji menganggukan kepala. "dedek mau main sama mamas" ulangnya memastikan. ethN menganggukan kepala.

Little FamilyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang