jfw

453 78 1
                                        

"kita mau kemanaah?" ethan melihat sekeliling, mereka baru landing dari pesawat. ethan dan arkan berdiri dengan mama yang menggandengnya sementara jeno tengah mengambil koper.

"jogja sayang" tadinya mereka hendak berlibur cukup lama di tempat ini namun pekerjaan jeno membuat mereka tidak bisa berlibur.

"kok dedek ngga pernah kesini?? mamas pernah?" arkan yang masih mengantuk menggelengkan kepala, ia memeluk pinggang mamanya berusaha memejamkan matanya kembali.

"kita besok pagi pulang ke rumah oma. nanti sore mama mau kerja dulu. dedek sama mamas di hotel sama papa ya?"

si bungsu membulatkan matanya. "mamah mau bikin kue dimanah?" tanyanya dengan kepala miring miring.

yeji tertawa, mengusap bahu arkan yang sebentar lagi terlelap sambil berdiri jika saja suaminya tidak datang. "tidur dia?" jeno berbisik. yeji menganggukan kepala sambil mengusap rambut arkan.

"tiket kereta nya nih" yeji menerima tiket yang diberikan jeno beserta dompet dan ponsel agar jeno tidak ribet karena kemudian ia membawa arkan yang mengantuk itu ke dalam gendongannya.

"dedek mau jalan apa pakai stroller?" karena memang yeji sengaja membawa stroller milik anaknya, ia menawarkan si bungsu yang tentu saja memilih untuk naik, terlalu malas untuk berjalan di pagi buta seperti ini. yeji mengangkat ethan ke dalam stroller dan meletakkan tas berisi pakaian ganti anak anak di bawah stroller sementara jeno menggendong arkan dan membawa koper.

"nanti aku bawa anak anak ke kebun binatang aja. kamu biar ke venue dulu ngga papa biar nanti malam anak anak bisa tidur soalnya besok kita harus pindahan" ujar jeno kepada istrinya yang cemberut karena harus membatalkan rencana liburan keluarga mereka.

"jangan cemberut gitu" jeno mengusap pipi istrinya sambil tersenyum tipis. mereka menyewa mobil untuk seharian di jogja karena tidak mungkin mereka mengenakan ojek online untuk berkeliling.

"nanti kalau minta dijemput, telepon aku ya?" jeno berujar ketika mereka sudah sampai ke tempat dimana yeji akan bekerja.  "ngga usah, nanti nebeng aja. soalnya anak anak udah pasti tidur jam segitu" yeji melirik anak anaknya yang sudah tertidur di kursi belakang.

ia turun dari mobil kemudian membuka pintu belakang dan memberikan kecupan di masing masing dahi sang putra membuat ethan mengerang. "udah sampai yah?"

"mama mau kerja dulu ya? hari ini dedek sama mamas bareng sama papa dulu. oke?" ethan menganggukan kepala, menguap. "pulangnya beli marltabak ya, mamah?"

yeji mengusap rambut si bungsu yang mulai terlelap. "iya boleh"

jeno yang mengeluarkan barang bawaan milik yeji menggelengkan kepala. "udah sana kerja. tenang aja. i can handle both of them kok"

"gugup nih. gimana kalau gue gagal? masalahnya udah bertahun tahun gue ngga jalan di runway" yeji mengutarakan kekhawatirannya.

jeno meletakkan tas milik yeji kemudian memeluknya. "gue tau lo bisa handle semua ini. in case you need something, gue ngga bakal tidur sampai lo pulang nanti jadi gue bisa datang kalau lo telepon gue" ia melepas topi yang ia pakai kemudian memakaikannya kepada sang istri.

"sana masuk, kejar lagi mimpi lo"

***

"Yah.. hujan" kini, tiga orang beda usia itu berdiri di lobi hotel menatap sedih jogja yang tiba tiba turun hujan padahal dari tadi pagi cuacanya terang benderang.

"kita benar mau ke zoo, papa?" arkan bertanya kebingungan karena tentu saja zoo tidak terlalu menyenangkan jika hujan turun dengan derasnya.  bibirnya sudah manyun dengan tangan yang menggandeng sang papa.

"AHH MAU KE ZOO PAPAA" kali ini ethan yang merengek sambil menarik narik celana papanya. untung saja celana papanya tidak melorot karena sudah dipakaikan sabuk.

jeno memutar otak sebelum anak anaknua semakin merengek karena bosan.

"gimana kalau kita ke cafe aja?" kedua anaknya mendongak dengan mata yang menyipit tajam. "mau makan? dedek mau ke zoo papa!" protes ethan.

"papa tau tempat dimana kalian bisa main sama hewan!" jeno berujar. ia kemudian membuka payung. "mamas, nanti pegang payung ya? papa gendong kalian"

anggukan setuju diberikan oleh arkan sebelum satu persatu dari mereka naik ke dalam gendongan papanya. arkan di kanan, ethan di kiri. "pegang payungnya erat-erat biar ngga terbang"

keduanya memegang payung erat erat saat langkah panjang papanya sudah menembus hujan untuk menyeberangi jalan. "kita mau main sama kodok, papa?" ethan kembali bertanya sambil memejamkan matanya ketika percikan air mengenai wajahnya. 

"kita ke cafe kucing. nanti dedek bisa main kucing disana" ujar jeno sambil berbelok menuju sebuah cat cafe yang berada tidak jauh dari hotel.

"woaa" kedua bersaudara itu membulatkan mata dan mulutnya begitu melihat kucing-kucing sudah berjejer dari  balik kaca besar. jeno menggandeng kedua anaknya untung masuk ke dalam cafe.

sambutan dari lonceng bel dan ucapan selamat datang disambut ramah oleh jeno. jeno menundukkan tubuh, melepas gandengannya dari kedua anaknya kemudian berbisik. "main kucingnya hati hati. ekor kucingnya jangan ditarik ya. kalau kalian jadi baik ke kucing, kalian ngga akan dicakar sama kucingnya. oke? papa pesan makan dulu nanti cari tempat duduk. oke?"

keduanya menganggukan kepala dan melangkah penuh hati hati mendekati kucing kucing yang berkeliaran oh tentu saja itu bagi arkan kalau ethan sekarang sudah berlari mengelilingi cafe. jeno menggelengkan kepala melihat kelakuan anak bungsunya.

"ngapain dia disini?" jeno mengerutkan dahi ketika selesai membuat pesanan ia melihat seseorang yang familiar tengah duduk di salah satu kursi nampak asik dengan ponsel miliknya seolah tidak memedulikan lingkungannya.

jeno melangkah mendekati dan duduk di depan pria bertubuh besar yang familiar olehnya. "ngapain lo di jogja bang?" tanyanya sambil duduk kepada pria yang terlonjak kaget, hampir saja ia menjatuhkan gelas kopi di meja. "kaget gue" ia mengusap dadanya.

"lo yang ngapain disini? sendirian?" jeno mengangkat bahu. menunjuk dua anaknya yang tengah bermain dengan kucing. "tuh sama mereka. nganterin istri kerja soalnya. terus lo sendiri ngapain? ngga kerja, bang?"

pria di depannya menggelengkan kepala. "cewe gue ngambek. kaburnya kesini. gue kejar diem diem taunya selingkuh. anjing lah" bukannya prihatin, jeno malah tertawa melihat johnny, pria yang akan menjadi rekan setimnya nanti malah sambat.

"sabar ya, bang. emang kadang hidup ada ada aja ujiannya" jeno berujar sambil menertawakan nasib pria yang beberapa tahun lebih tua dari dirinya.  "emang anjing"  gumam johnny sambil menyeruput kopinya.

jeno tersenyum miring. "gue tau lo ngga mungkin tiba tiba dateng ke jogja dengan alasan ngejar cewe lo, bang" jeno langsung bertanya tepat dengan sasaran membuat johnny menurunkan gelas kopi di tangannya.

ia kemudian memberi sebuah map kecil dari balik jaket yang dia pakai. "kabar dari atasan. mereka tau kalau istri lo ada job disini jadi disinilah gue walau bonus patah hati"

jeno membuka map tanpa alamat yang memang biasa sekali diberikan oleh atasan mereka sebagai penyambung informas yang bersifat rahasia. jeno membacanya dengan saksama poin poin yang tertulis di dalamnya.

"gue harus setim sama taeyong?" jeno menatap horror pria di depannya. jo mengangguk. "ya, welcome to the club adik bontot" ia meledek jeno yang menyandarkan kepalanya lemas karena tau sifat sifat orang yang tertulis pada surat di tangannya.

jo tersenyum lebar. "siapa tau lo mau ketemu sama 'mereka', jen. masih ada dua yang sekarat di ruang bawah, lagi rebutan makan temannya"

—————

jangan lupa untuk tinggalkan jejak disini ya bestie! thank you for reading💗

Little FamilyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang