meledak

430 71 14
                                        

"eh mau nambah kopi ngga? gue mau pesen sekalian soalnya gue kok udah laper" yeji menoleh ke arah teman perempuannya yang menawarkan dirinya untuk memesan pesanan yang ketiga kalinya. "gue udah kenyang banget gila. mana udah sore banget. kayanya gue balik duluan deh"

"eh emang udah jam berapa sih sekarang?"

"jam tiga lebih empat lima. hampir jam empat" yeji yang sedang menghabiskan jus nya langsung tersedak. "hampir jam empat?" tanyanya panik sambil meraih beberapa lembar tipis.

heeseung yang berada di depannya menganggukan kepala. "iya. udah hampir jam empat. kenapa emangnya? ada sesuatu?" jawabnya setelah melihat jam tangan yang melingkar indah di pergelangan tangan kirinya.

"sorry sorry gue balik duluan, gue lupa belum jemput anak anak" yeji langsung bangkit mengabaikan teman temannya. ia berlari menuju mobil yang sialnya terparkir cukup jauh sambil melihat ponsel miliknya. kenapa tidak ada yang menelepon dirinya?

"sial" yeji baru menyadari kalau dia mematikan ponselnya. dengan gugup dia menyalakan kembali ponselnya sambil masuk ke dalam mobil.

ia menggigit bibir ketika ia harus terjebak kemacetan sementara anak anaknya pasti menunggu dia menjemput. ponselnya juga kenapa lama sekali menyala sih?

ketika akhirnya ponselnya menyala, ada dua  puluh lima panggilan dari san, enam dari miss yang mengajar ethan, serta sepuluh kali dari maminya.

ia mengecek ponselnya dengan seksama untuk melihat apakah suaminya menelepon atau sekedar menghubungi ternyata tidak ada satupun pesan yang masuk ataupun panggilan dari suaminya.

bukannya makin tenang, malah makin panik dia.

ponsel miliknya berdering lagi dan ia cepat cepat menyambar ponselnya, ternyata san yang menelepon. cepat cepat ia mengangkat ponsel miliknya. "halo"

"kamu darimana aja, yeji? kok bisa hp dimatiin" san langsung mengomel. yeji meringis, menekan klakson tidak sabar. "sorry banget. gue ngga sengaja matiin hp" yeji menjawab apa adanya.

"pulang sekarang! bisa bisanya lupa waktu! anak sama suamimu ada di rumah mama. kamu tuh kenapa sih?" san lagi lagi mengomel dengan suara seraknya. ia bahkan belum sembuh seratus persen sekarang. "kalau jeno ngga larang gue buat susul lo, gue seret balik beneran deh" tambahnya.

mendengar adiknya yang terdiam ketika san mengomel, san akhirnya menghela napas. "buruan. kita tunggu di rumah"

yeji mengangguk pelan walau kakaknya tidak bisa melihatnya. "iya. gue lagi balik"

san berdehem. "bagus" ujarnya langsung menutup telepon meninggalkan perasaan yeji yang campur aduk antara lega kalau anak anaknya sudah pulang atau takut karena sudah jelas suaminya marah besar sekarang.

yeji sampai rumah ayah ibunya tiga puluh menit kemudian, ada san berdiri di dekat pintu masuk. san berdiri, menurunkan tangannya dari saku saat melihat adiknya datang dengan terburu buru.

"mana jeno sama anak anak?" yeji bertanya dengan terengah. san menunjuk di dalam ruangan. "di dalam" jawabnya apa adanya.

ia menghela napas, membenarkan rambut kusut sang adik. "lain kali jangan gini ya? kamu ngga tau apa yang terjadi hari ini bikin kita semua panik"

"apa aja yang terjadi hari ini?" san menggelengkan kepala. "masuk, yeji. hadapi suami kamu. hadapi resiko dari kecerobohan kamu. jangan lari dari masalah ya?"

yeji semakin tidak mengerti ucapan kakaknya. namun san menurunkan tangannya dari rambut sang adik "masuk. gue nunggu arin lagi beli obat di apotek"

yeji akhirnya menurut, dengan penuh rasa takut ia melangkah masuk ke dalam rumah.

Little FamilyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang