pulang

541 81 8
                                        

“arkan, mau ikut main bola?” arkan yang duduk sendiri di kursi paling ujung menggelengkan kepala. dia menunjukkan bukunya sambil tersenyum memberi tahu kalau dia sedang asik mengerjakan soal yang ada di bukunya.

arkan melanjutkan menulis sesuatu pada buku tebal miliknya. sebentar lagi tes kenaikan kelas tapi dia belum bisa menguasai materi ini walau dia sudah diajarkan di les. kalau kata yeji mah anak kelas satu susahnya apa sih?

cuma nyatanya bagi arkan yang harus berlari mengejar ketertinggalannya adalah hal yang sulit. walaupun semua orang mengira dirinya sudah cukup sibuk, dia sendiri tidak tahu apa dia sudah cukup layak bersanding dengan teman temannya yang normal.

ia mengerjakan soalnya sesekali menggigit roti yang tadi pagi ia beli di minimarket. papanya tidak pulang sudah dua hari karena katanya sedang sibuk bekerja jadi mamanya mengajak mereka bertiga untuk makan diluar dan membeli beberapa roti untuk bekal. nanti mereka bisa beli di kantin kalau ingin makan yang lebih berat.

“MAMAS”  arkan yang sedang mengunyah menoleh ke arah suara cempreng yang tentu saja mengganggu telinga teman teman sekelasnya tapi tidak ada yang berani menegur karena mereka tahu kelakuan adiknya ini luar biasa.

“jangan berisik” tegur arkan. ethan menyengir. “nanti, dedek mau main dulu sama teman teman pulang sekolah. mamas mau tunggu?” arkan menganggukan kepala. “nanti mamas tunggu. mainnya di sekolah?”

ethan mengangguk. “mau main jaga benteng. dedek pulang lebih awal jadi sambil nunggu mama jemput dedek mau main. mamas mau tunggu?”

arkan mengangguk. “iya nanti mamas tunggu”

“oke, dedek mau masuk dulu. sebentar lagi miss datang. bye bye” arkan menggelengkan kepala, membiarkan adiknya keluar kelas bersama dengan teman temannya.

begitu adiknya keluar kelas, arkan melepas alat bantu dengar yang ia pakai. walau ia kesulitan untuk fokus mengerjakan apa yang ada pada bukunya, menurutnya ini yang terbaik daripada harus mendengar teman temannya berbicara.

sesuai dengan kemauan adiknya, kini arkan duduk di dekat pos satpam sambil memegangi tas milik adiknya. ia menyipitkan matanya saat melihat ada penjual bakpao di depan sekolah.

arkan menulis sesuatu pada catatan kecil miliknya sebelum berlari mendekati satpam. ia menepuk nepuk punggung tangan satpam sekolah sambil menunjukkan tulisan yang ada pada catatan miliknya bahwa dia akan membeli bakpao.

untungnya pak satpam itu mengerti. “boleh, tapi jangan terlalu jauh dari sini ya biar bapak tau” arkan mengangguk antusias. ia meletakkan tas miliknya dan milik sang adik di pos sebelum melangkah keluar dengan sangat gembira.

“adek, mau beli berapa?” arkan menunjukkan dua tangannya sebelum menunjuk dua varian rasa yang berbeda. untuknya yang kacang hijau sementara untuk ethan yang coklat.

“jadi tiga ribu aja dek” arkan mengeluarkan selembar uang sepuluh ribu dari sakunya. ia tersenyum ketika bapaknya hendak mengambil kembalian. arkan menggelengkan kepala dan melambai sopan sambil melangkah  kembali ke pos satpam.

“ARKAN”

arkan menoleh ke arah sumber suara. ia tersenyum lebar kemudian berlari menuju siapa yang memanggilnya. om hyunjin.

“hap. hati hati” hyunjin mengangkat tubuh anak di depannya tinggi tinggi dan memeluknya ketika anak itu berlari memeluknya dengan antusias. “kok belum pulang? tunggu jemputan?”

arkan mengangguk. melingkarkan pelukannya kepada pria tinggi di depannya. pelukannya hangat. lebih hangat dari papa padahal suasana cukup dingin siang ini.

“kok cuma beli dua, ngga kurang?” arkan menggelengkan kepala. ia menulis sesuatu di note miliknya. “satu buat dedek”

“mau om beliin lagi? om habis dapet uang nih” arkan menggelengkan kepala. ia menunjuk mobil putih yang masuk milik om san bahkan om san turun dari mobil.

Little FamilyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang