hukuman

350 61 4
                                        

“than, gue duluan ya” ethan yang duduk di depan seorang polisi menganggukan kepala setelah satu persatu teman temannya sudah dijemput oleh orang tua mereka sementara dia harus berada di kantor polisi sepanjang malam.  bahkan papanya membiarkan ethan untuk tidur di sel sembari menunggu orang tua menjemputnya. ethan mendengus kesal, kan papa juga orang tuanya kenapa harus menunggu mama menjemput ethan?

kan bisa diem diem aja gitu loh soalnya punya privilege dari anak polisi, eh papanya nggak mau jadi backingannya dia jadi dia mau tidak mau harus menunggu mamanya mengangkat telepon dan datang ke tempat ini, menjemput dirinya.

demi apapun,  ethan tidak pernah membenci kantor polisi sebelum ini dan setelah ini mungking kantor polisi adalah tempat yang ia benci.

“pak, mama saya belum angkat teleponnya juga?” ethan kembali bertanya yang dibalas dengan gelengan kepala melihat anak dari seniornya yang sedari tadi duduk melihat temannya satu persatu kembali dijemput oleh orang tua mereka karena memang mereka yang ditangkap tidak  melakukan kejahatan apapun termasuk dengan penggunaan narkotika, maka mereka akan dikembalikan ke orang tuanya dengan catatan orang tuanya langsung yang datang ke kantor polisi.

“papa dimana?” ethan kembali bertanya, dia mencoba untuk melobi papanya agar dia bisa keluar dari tempat ini.

“kata pak jeno ‘ethan harus hadapi sendiri mamanya ethan, pak jeno ngga mau ikut-ikutan’” ethan mendengus, papanya kalau sudah berkata seperti itu berarti dia tidak ingin ikut campur dengan ethan yang akan dimarahi habis-habisan oleh mamanya. ethan meletakkan  kepalanya di meja membayangkan apa hukuman yang akan dia dapatkan karena ulahnya kali ini.

ketika dia sedang merenungkan nasibnya,  ia bisa mendengar ponselnya berdering. matanya membelalak saat menyadari kalau yang menelepon itu sudah pasti mamanya.

“selamat pagi bu yeji, ini dari kantor polisi”

“oh pak jeno ngga papa, bu. bapak aman. ini saya mau bicara tentang ethan” ethan manyun ketika ia akhirnya diperbolehkan menjawab telepon mamanya.

“halo ma–”

“BAGUS YA KABUR DARI RUMAH BEGITU? BIKIN ULAH APALAGI KAMU HAH?”

ethan menjauhkan telepon secara spontan karena teriakan mamanya. “dek, itu dimatiin dulu speakernya”

ethan meringis. “ini ngga pake speaker pak, volumenya juga udah saya kecilkan” ethan menatap polisi di depannya dengan tidak enak.

“mah, jangan marah marah dulu. ini ada pak polisi, mah. malu” bisik ethan kepada mamanya yang jelas tidak mempan karena semua orang disini sudah tahu bagaimana kelakuan istri pak jeno kalau marah. wah, jangankan polisi muda, suaminya sendiri aja yang pangkatnya udah lumayan harus tutup mulut kalau istrinya sudah protes.

“GA PEDULI MAMAH. BAGUS BANGET KAMU YA JADI ANAK BISA BISANYA KABUR DARI RUMAH DAN SEKARANG MASUK KANTOR POLISI? BILANG SAMA MAMA KENA KASUS APA SAMPAI KAMU DITANGKAP? NARKOBA? PROSTITUSI?”

“IH ENGGA YA, AKU NGGA SENAKAL ITU” ethan protes. walaupun ya tadi dia juga dites narkoba itu pun hasilnya negatif karena ya ngapain juga dia konsumsi narkoba ya kan? prostitusi? yang bener aja. bisa digorok habis habisan dia kalau ketahuan jajan sembarangan. lagipula ethan tuh pria waras dia masih lima belas tahun dia belum boleh pacaran tau!

“terus kamu ngapain ethan? ngga mungkin kamu dengan senang hati nyamperin tempat kerja papamu”

“anu mah.. balapan liar”

ethan meringis sudah siap menghitung mundur amarah mamanya yang meledak dalam hitungan detik namun saat ia menghitung sampai hitungan ketiga, bukannya suara tinggi dari mamanya yang ia dengar melainkan helaan napas. “mamah?”

Little FamilyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang