"muka gue keliatan panik banget? apa gue keliatan kaya mahan kebelet?"
yeji yang sudah berdandan dengan rapi berbalik menatap suaminya yang tengah duduk memainkan ponselnya di kasur. jeno sudah memakai kemejanya tapi karena dia terlalu lama menunggu yeji untuk siap siap (re: menyiapkan mentalnya)
"udah cantik. tenang aja ngga bakal ada apa-apa"
yeji berbalik. "gimana kalau mereka ngga suka sama gue?"
jeno meletakkan ponselnya. "ngga bakal ada apa apa. udah percaya sama gue asalkan selama disana lo ngga usah ikut campur urusan mereka"
yeji menyipitkan matanya, kedua lengannya di pinggang. "lo masih ada beef sama mereka?"
jeno mengangkat bahu, memutuskan untuk bangun. ia kemudian meraih bahu sang istri. "ayo udah cepetan. anak anak udah siap. kita setor muka aja nanti pulang kalau udah makan siang"
"mau bawa mereka juga? lumayan kalau papa marah mereka bisa gigit" jeno bukannya menenangkan ia malah bercanda sambil menunjuk dua anjing hitam yang tengah diusal usal oleh arkan. ethan juga ada disana, ia tengah duduk berbantalan belle yang anteng anteng saja menjadi bahan leyeh leyeh si kecil.
"ngga usah bikin gue makin panik"
jeno hanya tertawa pelan, bohong kalau ia juga tidak takut dengan reaksi papanya. tapi jeno sudah siap, toh kedatangannya untuk jaehyun. ia tidak peduli dengan keberadaan papanya.
katakanlah jeno durhaka, namun jeno hanya melakukan apa yang menurutnya benar.
perjalanan memakan waktu kurang lebih satu jam dengan jantung keduanya yang saling berdegup kencang. sejak awal pernikahan mereka bukanlah pernikahan yang direstui apalagi setelah kejadian masa lalu pada yeji yang membuat jeno mengambil keputusan besar untuk meninggalkan keluarganya.
"nanti kalian jadi good boy, ya?" keduanya yang tengah duduk di kursi belakang menganggukan kepala. yeji menghela napas gugup.
ia tersenyum tipis ketika jeno menggenggam tangannya.
mereka berempat akhirnya memberanikan diri untuk melangkah ke rumah utama. beberapa orang sudah diganti, jeno paham betul. entah mungkin karena pensiun atau naik jabatan.
"wah mas jeno, udah lama ngga pulang" jeno membalas ajudan lama ayahnya yang ternyata masih bekerja bersama keluarganya. "iya nih, pak" jawabnya apa adanya. "yang lainnya didalam?"
"iya mas, lagi kumpul semuanya" jeno menganggukan kepala. dengan dagunya yang terangkat tinggi serta tubuh tegap tanpa rasa takut sementara istrinya mencoba menenangkan diri sembari memegang tangan si sulung.
jeno mengetuk sebanyak tiga kali dan jackpotnya, ayahnya yang membukakan pintu.
dua orang berbeda usia itu saling tatap, mereka tanpa berbicara hanya menatap dengan tajam satu sama lain sebelum sang ayah mengalihkan pandangannya ke..
pria yang usianya sudah menyentuh kepala enam itu berkedip ketika melihat sebuah anak kecil, dengan kaus berwarna maroon serta celana jeans. tangannya dipegang dengan mata tajam yang melihat dirinya.
"sst, dedek, ga boleh gitu" yeji menegur anak bungsunya, satu satunya diantara keempat anggota keluarga mereka yang berani dengan terang-terangan menatap kakeknya, bahkan arkan saja memilih menunduk.
"dedek ga suka" kedua tangannya terlipat di depan dada. "muka kakek nya judes ke papa. dedek ngga suka! kita pulang aja!" ujarnya frontal.
belum sempat kakeknya mengangkat suara, suara perempuan menyahut dari belakang. "wah udah sampai ya? ayo ayo masuk. kita makan siang dulu"
KAMU SEDANG MEMBACA
Little Family
Fiksi Penggemar"mama ku besok yang bakal masakin nasi kuning buat ulang tahun" "wah enak dong besok aku mau datang" "mama ku kalau masak ikan kakap sama kerang enak banget. kalian harus coba" "udah jelas mama mu kan buka usaha warung makan" "mama mu gimana?" "ma...
