high school

399 62 7
                                        

arkan menghela napas begitu pekerjaannya berakhir. sebenarnya  dia bukanlah orang yang bertugas untuk menjadi operator bahkan menjadi tukang kabel ketika ospek siswa baru. dia biasanya akan menjadi seseorang yang berada di balik akun instagram organisasi  alias siswa  yang bertugas pada seksi dokumentasi yang sering arkan lakukan dalam diam.

arkan masih tidak suka menjadi seorang pusat perhatian.

namun kini, karena temannya yang bertugas mengalami kecelakaan  pagi tadi, ia terpaksa harus menggantikan pekerjaannya untuk menata sound serta berada di depan laptop untuk mengganti slide  presentasi oleh narasumber selama acara yang berarti dia harus ada disana selama acara berlangsung.

"kan, lo ngga ganti baju dulu?" arkan menoleh ke arah seorang teman perempuan yang menghampirinya. arkan menggelengkan kepala. "bukannya anak taekwondo bakal tampil ya? lo ngga ikut mereka? atau mau ikut basket?"

arkan menggelengkan kepala, ia hendak mengeluarkan ponselnya untuk menjawab pertanyaan teman perempuannya jika saja seseorang yang menyebut namanya membuat perhatiannya teralih. "arkan, dicari nih"

dua  orang yang masih ada di lapangan itu menoleh ke arah seseorang yang memanggilnya. arkan mengerutkan keningnya melihat ada seorang gadis yang tersenyum lebar. "MAS ARKAN!"

teriakan dari cecil membuat para panitia yang masih bersliweran menoleh kepada arkan. "mas arkan? cie mas  arkan baru hari pertama loh ini udah ada yang dapet aja"

arkan menggelengkan kepala kepada teman-temannya yang meledek dirinya. ia bangkit dari tempat duduk dan menghampiri anak dari teman papanya yang ternyata masuk di sekolah ini bersama ethan. ia sempat diberi tahu kalau cecil akan bersekolah di sekolah yang sama bersama dirinya oleh papa karena tante xiyeon resmi pindah ke tempat ini.

"mas arkan, aku bawa katsu" cecil dengan antusias memberikan sebuah kotak makan berisi katsu. "aku masak sendiri loh"

arkan mengeluarkan ponselnya. ethan ngga dikasih?

cecil menggelengkan kepala. "mana aku tahu ethan masuk sini. kalau tahu pasti mama minta bikin dua" arkan menganggukan kepala sembari menerima katsu dari gadis yang sudah lama ia anggap adik itu. tangannya terulur untuk mengacak rambut dari cecil sambil tersenyum dan menoleh ketika namanya dipanggil.

arkan mengetik lagi. mamas pergi dulu

cecil yang masih setengah sadar kemudian menganggukan kepalanya dengan pipi yang merona merah muda, senada dengan liptint  yang ia pakai.

"pacar lo, kan?" arkan menggelengkan kepala saat ia ditanya temannya yang datang dengan merangkul tubuhnya. ia mengambil ponselnya. adik

"lo punya adek cewe? setahu gue adek lo cowo deh" arkan mengangkat bahu, tidak ingin untuk menjelaskan lebih jauh silsilah dia dan cecil maupun arkan yang merupakan anak dari mantan pacar papanya  yang  kadang mamanya masih suka cemburu kalau bertemu.

"kan, adek lo sekolah disini kah? ada anak yang marganya sama kaya lo deh"  arkan mengangggukan kepala. "kok gue  ngga liat adek lo ya?"

arkan mengedarkan kepalanya ke sekeliling halaman sekolah, tangannya terulur untuk menunjuk beberapa anak yang melangkah dengan guru bk di belakangnya. arkan hanya bisa menghela napas melihat kalau adiknya berada  di barisan paling depan, masih sambil tertawa entah menertawakan apa sebelum mulai melepas kemeja dan jas nya untuk  sikap push up.

melihat mamasnya berada tidak jauh dari dia, ethan tersenyum lebar sambil melambaikan satu tangan. "mamas,  hai"

semua mata memandang arkan hingga arkan terpaksa harus  menutup wajahnya dengan kotak nasi berisi katsu dan melangkah pergi karena tiba-tiba dia menjadi pusat perhatian gara gara ethan. menyebalkan.

***

"mamas, hi" ethan langsung duduk di samping mamasnya yang  duduk sendiri di kursi kantin. mamasnya tengah menikmati siomay miliknya dengan  kedua headphone yang ada di pada telinganya. headphone itu sebenarnya tidak memutar lagu apapun, hanya sebagai formalitas agar  tidak ada yang menyapa arkan sehinga arkan tidak harus repot-repot ada dalam sebuah perbincangan.

"bagi dong" arkan pasrah saja ketika piringnya ditarik oleh ethan. bukan hanya itu, ethan juga menarik botol minuman dingin yang berada di sebelahnya dan meneguknya  hingga tandas. "lega" ujarnya sambil menghela napas dan menyandarkan tubuhnya di kursi.

arkan tidak protes walaupun sebenarnya ia kesal karena ethan menghabiskan siomay dan minum miliknya karena ia sudah  terbiasa dengan kelakuan adiknya yang memang terkadang benar benar menyebalkan. ia juga tidak bisa marah karena biasanya ethan akan menggantinya dengan yang lebih baru karena dia memang tidak habis untuk memakan satu porsi.

seperti sekarang, adiknya sudah berdiri di depan penjual siomay untuk membeli siomay baru yang digunakan untuk mengganti milik kakaknya  yang sudah ia makan. "tau ngga, tadi di kelasku ada cewe cantik"

arkan yang mulai mengunyah kemudian menoleh dengan alis kanan yang terangkat. "kenapa  ya orang cantik tuh udah punya pacar. kan gue juga mau punya  pacar juga"

tangan kiri arkan bergerak untuk meraup wajah adiknya. "kamu aja baru mau lima belas. ngga usah ngide  pacaran"

ethan menyengir. "kalau mamas? pacar mamas yang mana? adek mau kenalan dong!"

arkan menggelengkan kepala pertanda kalau dia memang tidak dekat dengan siapapun. bahkan untuk tertarik dengan  lawan jenis saja dia tidak pernah. "udah sana masuk kelas. temennya nungguin tuh"

ethan memajukan bibirnya sekilas, ia kemudian mendekat dan mengambil garpu milik mamas nya lengkap dengan siomay yang hampir saja masuk mulut mamasnya sebelum berlari pergi menjauh beriringan dengan teman teman barunya mengabaikan mamasnya yang hanya bisa menggelengkan kepala pasrah.

"itu tadi siapa? kok lo kenal sama kakak kelas?"

ethan menoleh sambil menelan siomay yang ada di mulutnya. "oh mamas gue. kakak gue itu"

"ganteng ya, pasti banyak yang naksir" ethan mengangkat bahu memilih untuk tidak menjawab. ia meneguk air minum dari tumblr berwarna biru muda (ini punya mamas yang ia ambil tanpa izin).

"sst" ethan menoleh ke arah seseorang yang berada di bangku belakang. "kenapa?"

"lo nanti malam turun ke arena?"

ethan menganggukan kepala. remaja berusia lima belas tahun itu memberi jawaban tanpa perlu mempertimbangkan lagi. "nanti jam satu malam paling. nunggu nyokap tidur dulu lo jemput gue di rumah ya"

"bokap lo gimana?"

ethan terdiam lama. "alah. dia kayanya lagi ada tugas jadi ngga ada di rumah. tenang aja. aman. selama lo jangan bersuara depan rumah dan jauh dari cctv rumah gue bisa kabur dan balik tanpa kena omelan mama"

—————

jangan lupa untuk tinggalkan jejak disini ya bestie! thank you for reading💗

Little FamilyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang