"AWAS" ethan menyingkir ketika teman sekelasnya berlari dengan tanduk buatan di kepala. tanduk buatan itu terbuat dari kertas yang digulung seperti bungkus kacang rebus dan dipegangi pada dua sisi dan berlari mengitari kelas. ethan menyingkir, mengamankan bekal miliknya karena ini makanan yang ia suka, nasi goreng dengan ayam katsu buatan papanya jadi ethan tidak mau ikut membuat kerusuhan. kan ethan anak baik, ya kan?
"kamu mam sama siapa?" teman sebangku ethan, kepin, memiringkan kepala sebelum mengusap hidungnya yang berair karena pilek.
"mamas. mau ikut?" ethan bersiap untuk bangkit dari tempat duduknya kemudian berlari keluar dari kelas tk a menuju tk b bersama dengan kepin. iya, kepin pakai huruf p kalau kata ethan. ia mengintip melalui sela-sela pintu, kelas b masih sibuk membuat mozaik dari kapas sementara dia sudah kelaparan. "masih lama ya?" ia kembali mengintip, melihat dimana mamasnya duduk.
tapi kosong, tempat duduk mamasnya yang biasa duduk tidak ada mamas. adanya teman mamas yang lain. mamas kemana ya?
"kepin, mamasku dimana?" ethan yang memang tidak tinggi berusaha berjinjit walau itu sia sia karena bakhkan jendela kelas saja ia dan kepin tidak sampai. "liat aja ah" kepin melangkah mendekati pintu, ia membuka sedikit pintu kelas kemudian memasukkan kepalanya membiarkan kepalanya masuk sementara badannya tetap ada diluar. melihat kepin seperti itu, ethan tentu saja mencontoh, ia kemudian ikut memasukkan kepalanya di bawah kepala kepin karena dia lebih pendek untuk memindai dimana mamasnya berada.
disana!
"kok sendilri?" ethan berbisik bingung melihat mamasnya hanya sendiri padahal teman-teman lainnya membuat mozaik berkelompok. mamasnya duduk di kursi paling belakang, sibuk dengan karyanya sendiri tanpa ada teman teman yang menemani.
"siapa itu?" ethan dan kepin membulatkan matanya ketahuan ketika seorang guru memanggil nama mereka. mereka buru buru keluar dari pintu kemudian berlari menuju terowongan yang ada pada perosotan. tentu saja belum ramai karena masih ada anak-anak yang dikelas sementara yang sudah istirahat hanya kelas tk a.
"kenapa tk b selalu keluar siang?" kepin duduk di terowongan, ia membuka bekal nasi uduk miliknya sementara ethan membuka bekal yang menjadi makanan favoritnya.
"aku mau makan sama mamas tapi mamas lama. aku laper" ethan berkata dengan mulut yang sudah mengunyah katsu miliknya.
"aku bingung kenapa tk b belajarnya beda sama kita? kan kita sama sama anak tk" dengan polosnya, kepin bertanya. ethan mengangkat bahu. "mamas juga banyak banget tugasnya. suruh menebali, suruh menulis nama keluarga, suruh bikin rumah dari setik es krim"
"itu aku mau sosis boleh?" ethan menganggukan kepala. "boleh"
"makasih ethan" ethan lagi lagi mengangguk. ia kemudian berhenti mengunyah ketika melihat tk b sudah selesai belajar. satu per satu keluar dari kelas, pun dengan mamasnya yang melangkah dengan berhati-hati sambil membawa kotak bekal miliknya.
mata si bontot melotot kesal ketika tubuh kakaknya terhempas ketika ia ditabrak dari belakang membuat tubuhnya jatuh ke depan serta kotak bekal yang berhamburan.
"mamas mu jatuh" ethan langsung mengelap bibir berminyaknya dengan seragam miliknya. ia cepat cepat menutup bekal miliknya kemudian berlari menghampiri mamas nya yang sedang mengambil sisa sisa nasi yang terlempar begitu saja di lantai, bahkan terinjak injak oleh anak anak yang berlarian.
"lain kali jalannya minggir! denger ibu ngga?"
wah, mata ethan makin melotot ketika mamasnya dicubit oleh gurunya. kan mamasnya ngga salah kenapa dia dicubit? seharusnya yang tabrak mamas yang disalahkan!
"eh eh jangan"
telat.
si bungsu yang emosi sekarang mengayunkan tempat makannya ke wajah anak yang menubruk mamasnya, tidak hanya sekali. tiga kali!
grauk
"AAAAAA" tidak tanggung tanggung, ethan menggigit guru dari mamasnya hingga guru wanita itu menjerit kesakitan. tidak hanya itu, dengan kepalanya ethan menyeruduk perut wanita yang umurnya berkali kali lipat dari usianya. arkan mencoba menahan adiknya yang semakin beringas walau harus menyerahkan wajah tampannya terkena pukulan sang adik.
"JANGAN CUBIT MAMASNYA DEDEK! SAKIT TAU! DAN KAMU JANGAN LALI LALI. MAMASNYA DEDEK JADI NGGA BISA MAKAN, KAN?"
***
jeno mengusap wajahnya begitu ia keluar dari ruang guru. yeji disebelahnya hanya mengusap lengan miliknya mencoba menenangkan dirinya. paham kenapa suaminya sekarang begitu marah apalagi kabar kalau anak sulungnya jadi korban berkali kali tanpa ada yang memberi tahu kepada dirinya.
"mamah, dedek sama mamas laper. kita belum makan" yeji yang pertama kali menghampiri anak bungsu yang wajahnya memerah karena terkena tamparan entah dari siapa. "nasi mu kemana?"
"punya mamas jatuh ke lantai punya dedek juga jatuh tapi habis dipukul ke orang" yeji bisa melihat jeno menghela napas. "ya udah kita pulang"
kakak beradik itu berjalan dengan langkak pelan sambil menundukkan kepala.
"TUNGGU" mereka berempat menoleh ke arah sumber suara dimana ada seorang anak kecil dengan rambut berminyak dan hidung penuh ingus berlari sambil membawa dua bungkusan kecil. "hah hah ini tadi aku minta bawa nasi uduk. buat kamu satu, buat mamas satu"
kepin, membagi dua bungkusan tersebut yang ternyata isinya nasi uduk buatan mamanya. mama kepin memang berjualan nasi uduk dan nasi kuning di dekat sini bahkan yeji kalau malas masak juga sering beli ke mama kepin.
yeji tersenyum. ia mengusap rambut kepin. "terima kasih, ya, kepin" kepin mengangguk malu malu. "punya mamas ngga pake orek tempe kata mama" tambahnya lagi sebelum melangkah menjauh. "dadah! besok kita main gundu yah"
kakak beradik itu melambaikan tangan sebagai balasan. "mamah, gundu itu apa?"
"kelereng" yeji melangkah sambil meletakkan tangannya di kepala anak-anaknya. mereka bertiga melangkah bersamaan membiarkan suaminya melangkah terlebih dahulu sampai rumah. bahkan mereka tidak bisa melihat jeno sepanjang jalan.
"apa papa marah?" arkan bertanya kepada mamanya. yeji tersenyum. "papa marah sdikit. ngga apa apa. nanti sudah baikan biar mama yang bilang sama papa"
"gara gara aku ya?" yeji menggelengkan kepala. "bukan kok. bukan karena dedek juga" yeji menjawab sambil mengajak anaknya duduk di sofa ruang tengah, ia membiarkan jeno duduk di ruang tamu mendengarkan pembicarannya dengan anak anak dengan mata yang sengaja ditutup
"dedek, tadi dedek ngapain pukul bu guru?" yeji mulai bertanya kepada anaknya yang bungsu. yeji tau ethan ini tidak akan tanggung tanggung main fisik kalau ada yang membuatnya marah.
"dia cubit mamas, dorong dorong mamas suruh minggir padahal mamas lagi ambilin nasi biar ngga keinjek temen. kan mamas jatuh" arkan memang ada masalah pada keseimbangan, jadi dia memang sangat berhati hati dalam berjalan. arkan akan memilih pulang paling akhir atau berangkat paling awal yang membuatnya tidak bertemu dengan anak anak lain yang membuatnya oleng hingga terjatuh.
"padahal aku ngga papa"
"bohong! coba mamah liat tuh lengan mamas. merlah merlah" yeji langsung membuka lengan baju milik si sulung dan benar, bahkan lukanya hampir membiru. bayangkan saja cubitan orang dewasa ke anak enam tahun yang bahkan tidak bisa melawan sama sekali. "sakit mas?"
arkan menggelengkan kepala. "udah ngga apa apa, mama"
"bentar mama ambil salep di depan ya. mamas sama dedek makan dulu"
yeji melangkah meninggalkan kedua anaknya menuju ruang tamu dimana ada kotak p3k yang memang yeji letakkan di laci. ia berjongkok cukup lama sambil mengusap air matanya. "aku mau pindah, jen. ayo pergi dari sini" bisiknya yang jelas didengar suaminya.
keduanya masih berada di posisi masing masing, saling membelakangi dengan mata jeno yang masih tertutup agar anak anak tidak melihat maupun mendengar apa yang mereka bicarakan.
"ya, nanti aku cari sekolah yang bagus. untuk sementara, aku udah narik semua berkas milik anak anak dan mereka ngga boleh sekolah dulu sampai kita dapat sekolah baru"
—————
december is so busy:(
jangan lupa untuk tinggalkan jejak disini ya bestie! thank you for reading💗
KAMU SEDANG MEMBACA
Little Family
Fanfiction"mama ku besok yang bakal masakin nasi kuning buat ulang tahun" "wah enak dong besok aku mau datang" "mama ku kalau masak ikan kakap sama kerang enak banget. kalian harus coba" "udah jelas mama mu kan buka usaha warung makan" "mama mu gimana?" "ma...
