"kan gue udah bilang kalau umur lo udah ngga muda, jeno. jangan kebanyakan tingkah deh" yeji memijat kaki dan pinggang jeno yang mengeluh pegal pegal.
jeno hanya pasrah mendengar keluhan dari istrinya yang seolah menembus gendang telinganya. "aduh sakit" keluhnya saat yeji memijat pelan kakinya.
nah ada lagi yang berubah setelah hampir sepuluh tahun menikah, istrinya sekarang bisa dijadikan tukang pijit dadakan walau biayanya mahal karena harus ditransfer dan diberi sesajen makanan titipan kesukaannya.
"anak anak mantep banget sekarang aktifnya buset. mamas juga semenjak ikut ekskul malah ikutan aktif kaya dedek" jeno berkata kepada istrinya, melaporkan sifat dua anak mereka yang semakin hari bertambah aktif.
yeji tersenyum lebar kemudian menepuk pelan kaki suaminya pertanda ia sudah selesai memijat. "ngerti kan kenapa gue ragu buat kerja? luar biasa banget sekarang. mau dititip mama papa kasian, dititip san san udah nikah" ia berujar apa adanya. "gue turun bentar ambil minum. mau ambil susu hangat ga?"
jeno bergumam sebagai jawaban membiarkan yeji keluar dari kamar.
yeji kembali kurang dari lima belas menit dengan segelas susu hangat di tangan kanan sementara di tangan kirinya dia membawa salad buah yang ia buat tadi ketika makan malam. "anak anak dah tidur. tadi gue cek udah tepar semua. pr nya semua udah dikerjain. tadi gue liat punya adek nilainya ada yang jelek di matematika"
jeno mengambil gelas dan meminumnya sambil duduk. "halah mana ada anak yang pinter matematika. sepinter pinternya orang pinter matematikanya kalau ngitung duit. udahlah biarin aja. jangan dipaksa adek harus bisa ini itu"
yeji mengangguk setuju. ia kemudian duduk sambil memakan salad buahnya. jeno menunjuk salad buah di tangan istrinya dengan dagu. "awas kalau ada tumpahan di kasur"
"iyaaaaa. udah sana lo tidur"
jeno berdehem kemudian menarik selimut membiarkan istrinya menyelesaikan drama koreanya sambil memakan saladnya. namun sepertinya tubuhnya tidak bisa mengikuti pikirannya yang lelah karena terus terusan bergerak gelisah.
yeji yang sedari tadi menyaksikan tubuh suaminya yang guling kesana kemari, menarik narik selimut tapi matanya terpejam akhirnya memutuskan untuk menyelesaikan tontonannya. ia melangkah keluar untuk mengembalikan sendok dan mangkuk ke dapur, menggosok giginya, kemudian bergabung dengan suaminya setelah mematikan lampu.
"lo kenapa deh? ada masalah?" jeno membuka matanya kembali saat istrinya menepuk lengan miliknya.
"kecapean kerja" jawabnya apa adanya. yeji mengangkat alis. ia merebahkan diri dengan berbantalan bisep suaminya kemudian memeluk badan besar sang suami. "kalau awal nikah lo ngomong gini, gue percaya. tapi kalau sekarang ngga bakal gue percaya, jeno"
jeno hanya tersenyum tipis. "padahal yang intel gue kenapa lo yang jadi jago gini sih?"
"ngga tau ya, kebiasaan sama lo soalnya" yeji menjawab asal. "jadi, ada masalah apaa?"
"jaehyun nikah" jeno menjawab apa adanya. karena jeno hanya berkata satu kalimat yang ambigu juga di pendengaran yeji. "selamat?"
jeno menggelengkan kepala, ia tersenyum tipis. "bukan itu yang jadi masalahnya. kalau jaehyun nikah, kita bakal kesana. kalian sudah siap emang buat ketemu papa?"
yeji terdiam, benar juga.
mertuanya saja masih tidak suka dengan dirinya. ya kalau bisa sih yeji juga ogah cuma kan ini pernikahan kakak iparnya, masa iya dia ngga datang?
"ya ngga papa. nanti biar aku sama mba ital aja. nemuin papa sebentar aja" ujar yeji menenangkan suaminya yang keliatan sekali enggan membawa mereka bertemu ayahnya.
ketika hendak membuka mulut untuk menyanggah ucapan yeji, mereka menoleh ke arah pintu yang terbuka. yeji dan jeno memang jarang mengunci pintu jika mereka tidak melakukan hubungan suami istri.
"mamas, kenapa?" yeji langsung buru buru bangun dan bertanya. arkan berkedip pelan kemudian mengangkat telunjuk ke arah telinganya menandakan kalau dia melepas alat bantu dengar nya.
yeji kembali mengulang pertanyaannya. kali ini menggunakan bahasa isyarat. "mamas ada apa malam malam datang ke kamar papa mama? lapar?"
arkan menggelengkan kepala, ia meremas selimutnya dengan wajah yang berubah menjadi pucat "mimpi buruk. mamas mimpi buruk dikejar hantu"
jeno langsung turun dari kasur, ia dengan mudah mengangkat tubuh arkan dan menepuk nepuk punggung anak sulungnya yang kini meremas kaosnya. "sshh ngga papa, hantunya ngga ada" gumam jeno walau arkan tidak mendengar ucapannya.
"adek nih kayanya dateng kesini" gumam yeji mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke dalam kamar. benar saja, pintu kamar terbuka menunjukkan ethan dengan piyama dino favoritnya. "mamas kok disini? tadi dedek cari ngga ada"
gumamnya sambil menutup pintu. ia kemudian melangkah menuju kasur kamar utama dengan kaki kecilnya sebelum meembanting tubuhnya di kasur orang tuanya. "mamas mimpi buruk. dedek sendiri kenapa bangun?"
"haus" jawabnya sambil tengkurap, ia memejamkan mata saat mamanya mengusap usap punggungnya. "udah minum?" karena matanya kembali berat akibat usapan yang diberikan mamanya, ethan kembali terpejam dan memberikan deheman sebagai jawaban.
"kayanya anak anak tidur sini deh" yeji bergumam melihat arkan sudah mulai terpejam di gendongan jeno. jeno menganggukan kepala. "iya tidur sini aja. kalau dipindahin lagi pasti bangun adek" jeno menepuk nepuk punggung arkan.
"mamas mantep ya sekarang. dia udah tinggi banget" jeno berkata setelah meletakkan arkan ditengah tengah bersama ethan yang tidur memeluk mamanya.
yeji tersenyum. "mamanya bahkan udah ngga kuat bawa dia. bisa tinggi gitu dari mana"
"efek basket kali ya" gumam jeno. "eh mamas masih seneng ikut ekskul basket kan?"
"kayanya dia mulai seneng sama aktivitas luar. kemarin minta les renang soalnya dedek bisa berenang tapi mamas ngga bisa" yeji mengusap dahi ethan yang berkerut. "kalau yang ini semuanya dicoba. kemarin ada simulasi bencana di sekolah, dedek berani pegang selang air sama pak damkar"
"ngga nyangka ya anak anak segede ini sekarang" jeno bergumam pelan, membiarkan arkan memeluk dirinya erat seolah jeno akan pergi.
"kayanya gue mau ambil job yang ringan ringan aja deh jen" gumam yeji mengutarakan keinginannya. "kenapa? lo ngga nyaman kerja? ada masalah?"
"gue ngga rela kalau harus ninggalin waktu bareng mereka. gue mau di rumah aja, paling ambil job sebulan sekali atau dua kali. terus paling ambil endorse aja biar kerja dari rumah. gue nge skip jemput mamas seminggu aja ngerasa gue ketinggalan banget"
jeno hanya diam, membiarkan istrinya bercerita. "ya kalau itu yang lo mau ya gue sih ngga masalah. toh lo ambil buat anak anak bukan karena kepaksa keadaan"
yeji tersenyum lega mendengar suaminya yang selalu mendukung apapun keputusan yang ia ambil. karirnya memang bagus. berada disini adalah salah satu impiannya. namun menjadi ibu adalah hal yang luar biasa bagi yeji yang nantinya akan ia sesali jika ia lewatkan begitu saja.
karena anak anaknya akan terus tumbuh dan yeji hanya punya sekali kesempatan untuk melihat pertumbuhan anaknya yang tidak mau dia lewatkan begitu saja.
-----
jangan lupa untuk tinggalkan jejak disini ya bestie! thank you for reading💗
KAMU SEDANG MEMBACA
Little Family
Fanfictie"mama ku besok yang bakal masakin nasi kuning buat ulang tahun" "wah enak dong besok aku mau datang" "mama ku kalau masak ikan kakap sama kerang enak banget. kalian harus coba" "udah jelas mama mu kan buka usaha warung makan" "mama mu gimana?" "ma...
