semuanya tidak ada yang berubah, kata jeno. mereka semua beraktivitas seperti biasa. jeno memasak, yeji membereskan rumah dan mengantar jemput anak-anak. bahkan yeji tidak masuk kerja, ia memutuskan untuk tetap di rumah beberapa hari belakangan.
tapi itu bagi jeno.
beda lagi dengan yeji.
sudah lebih dari tiga hari suaminya berubah.
tidak ada lagi seorang abimanyu jeno yang hangat dengan dirinya. yeji tau suaminya adalah pria pendiam, namun belakangan pria itu menjadi lebih diam seolah eksistensi istrinya tidak terlihat.
seperti pagi ini, suaminya baru pulang ketika jam menunjukkan pukul satu dan tidur memunggungi istrinya.
“jeno, mau bikin sarap..an?” yeji menutup mulut ketika suaminya melewati dirinya yang berdiri di pintu dapur.
jeno menguap kemudian mengeluarkan bahan untuk membuat sarapan. jeno membiarkan istrinya membantu dirinya dalam diam. tidak tahu mengapa rasa lelahnya sedang ada di puncak kepala sehingga lebih baik dia diam daripada ia harus tarik urat.
tadinya ia ingin pergi sejauh mungkin untuk menenangkan diri, tapi ia sadar kalau dia punya dua anak yang harus dijaga kalau kalau terjadi hal yang seperti kemarin. tapi kalau bertemu istrinya rasa lelahnya sepertinya benar benar ada di puncaknya karena bertahun tahun dia bahkan tidak pernah meledak hingga selama ini.
jeno hanya ingin waktu sendiri.
sebagai seorang laki laki, egonya sedikit terluka ketika istrinya bahkan tidak menyebutkan status pernikahan mereka dan melupakan kedua anak mereka. jeno tahu rasanya menjadi seorang anak yang ditelantarkan orang tua, dia tahu. jadi dia tidak mau anak anaknya merasa sama seperti yang dia rasakan.
jeno tidak tahu apa yang dia lakukan itu benar atau salah. tapi rasa di dadanya benar benar ingin ia luapkan tapi tidak tahu bagaimana karena dia terbiasa menahannya. “nanti bawa mobil aja, aku ngga kemana mana. aku bisa jemput anak anak pakai motor” ujar yeji sambil menata sarapan di meja makan.
jeno menggelengkan kepala. “gue yang jemput”
“kan lo lagi kerja. ngga papa gue aja yang jemput adek. nanti lo jemput mamas aja pulang ekskul” mendengar itu jeno menganggukan kepala, ia melangkah kembali menuju kamarnya dengan melewati istrinya begitu saja untuk masuk ke kamar.
yeji hanya bisa menghela napas sebelum menjalankan rutinitasnya seperti biasa. ia membangunkan anak anaknya, membantu menyiapkan peralatan sekolah hingga mengantar ketiganya di depan rumah.
***
“MAMA, DEDEK DAPAT A” ethan yang digendong san merosot turun di gendongan om nya. ia hari ini di jemput om san karena katanya om san mau ke rumah jadi sekalian saja.
tadinya san ingin menjemput arkan sekalian, tapi arkan lagi ekskul jadi dia hanya menjemput ethan sekaligus mengantar makan siang bagi arkan dari oma nya.
“great job. sekarang dedek ganti baju terus?”
“tidur siang!” ethan menjawab antusias. ia memberikan lembar kerja kepada mamanya sebelum melangkah dengan menyeret tasnya.
yeji menggelengkan kepala. “energinya abis. nanti bangun tidur dia aktif lagi” ujarnya melihat kepergian si bungsu.
“nih makanan. gue tau lo belum masak” san berujar sambil melepas jaket miliknya. ia merebahkan tubuhnya di sofa.
“si arkan sibuk amat. gue tadi kesana dia udah ganti pakai seragam taekwondo” yeji yang baru datang dengan membawa dua piring mengangguk setuju.
KAMU SEDANG MEMBACA
Little Family
Hayran Kurgu"mama ku besok yang bakal masakin nasi kuning buat ulang tahun" "wah enak dong besok aku mau datang" "mama ku kalau masak ikan kakap sama kerang enak banget. kalian harus coba" "udah jelas mama mu kan buka usaha warung makan" "mama mu gimana?" "ma...
