ayah

443 69 9
                                        

arkan terus terusan berlari. entah kemana kakinya melangkah tapi ia hanya ingin berlari sejauh mungkin dari rumah kakeknya setelah mengetahui sebuah rahasia yang baru ia ketahui.

rahasia bahwa ia bukanlah anak papanya.

tidak ada yang pernah memberi tahu kalau dia bukan anak papanya tapi ethan anak papa. arkan tidak tahu. sebenarnya dia ini anak siapa?

ia mengatur napasnya yang tersengal sengal, rasanya seolah ada yang meledak di dadanya karena ia tidak pernah melakukan usaha berlari seperti ini.

ia berhasil melewati gerbang penuh penjagaan karena berkata ingin membeli es krim di minimarket, ia menulis di selembar kertas kalau dia tahu dimana minimarketnya berada padahal ia sendiri tidak tahu.

langkah kecilnya semakin cepat ketika mendung semakin terlihat. awan gelap juga  sudah mulai terlihat. arkan tidak tahu kemana karena sepertinya ia sudah pergi jauh dari rumah kakeknya.

arkan melipir pada suatu ruko karena hujan turun dengan derasnya hingga membuat badannya menggigil bahkan ia hampir terhuyung dan terjatuh jika tidak ada orang yang menahannya.

arkan berkedip pelan melihat seorang pria dengan payung berwarna biru muda menahan tubuhnya. karena alat bantu dengarnya sengaja ia lepas, ia tidak bisa mendengar apa yang pria di depannya katakan.

arkan segera mengambil alat bantu dengar yang ia letakkan di saku kemudian memakainya dengan gemetar karena kedinginan sehingga pria di depannya terpaksa menggendong tubuh arkan yang menggigil dan mengangkatnya ke ruko terdekat.

"kamu ngga apa apa?" arkan mengusap rambutnya yang basah dan menganggukan kepala. ia mengeluarkan note kecil yang selalu ia bawa kemana mana. ia kemudian menuliskan kata. "dingin"

"tunggu sebentar, aku punya selimut di dalam. mau disini aja apa ikut masuk?" arkan menggelengkan kepala pertanda dia memilih untuk tetap diluar ruko membiarkan pria dengan rambut gondrong itu masuk ke dalam ruko.

tidak butuh waktu lebih dari lima menit, pria itu kembali dengan selimut berwarna biru polos yang sudah agak pudar. "dipakai biar ngga dingin. kebetulan ini toko punya om jadi kamu ngga perlu khawatir"

arkan membungkukan kepala tanda ia mengucapkan terima kasih sebelum memakai selimut yang dibawakan. mereka berdua terduduk di depan ruko. "kalau mau masuk, biar om buka"

arkan menggelengkan kepala, ia kemudian menulis sesuatu. "disini sudah cukup"

anggukan diberikan membuat arkan menatap lurus kedepan. ia sekarang tidak tahu dimana. ia juga tidak tahu kemana dia harus bertemu mama papa dan adiknya.

"nama kamu siapa? nama om, hyunjin" pria disampingnya bertanya dengan mata yang lurus ke depan. ia menyodorkan ponselnya memberi kesempatan anak dengan keistimewaan yang luar biasa di sampingnya menjawab pertanyaanya dengan ponsel tanpa perlu menulis karena bukunya pun sudah basah.

"arkan. aku udah sd" untungnya arkan memang lebih cerdas diusianya, ia bisa dengan mudah berinteraksi melalui tulisan di usianya yang begitu muda.

"mama sama papamu dimana?" arkan kemudian menghapus tulisan di ponsel yang ia pegang kemudian mengetik sesuatu. "di rumah kakek"

hyunjin mengerutkan dahinya. kenapa bisa orang tua anak di depannya ini ada di rumah kakeknya sementara anak  sd ini malah berkeliaran sendirian hujan hujan begini?

"kamu mau om antar pulang? ingat rumah kakek dimana?" arkan menggelengkan kepala. ia sendiri tidak tahu rumah kakeknya dimana bahkan dia hanya ingat rumah kakeknya sangat besar dengan paman-paman penjaga yang berjaga di gerbang.

"arkan mau pergi" hyunjin mengerutkan dahinya tidak mengerti. "kenapa? kenapa mau pergi? papa mu galak ya?"

arkan menggelengkan kepala. "papa baik. arkan jahat"

Little FamilyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang