"dedek, ayo bangun. katanya hari ini kamu sekolah bareng sama mamas" yeji di pagi hari yang cerah ini sudah mengeluarkan suara merdunya karena si bungsu tidak kunjung erbangun dari tidurnya yang nyenyak.
seperti biasa, jeno yang bertugas di dapur hanya bisa menggelengkan kepalanya ketika suara istrinya selalu menjadi alarm bagi anak anaknya untuk terbangun di pagi hari.
"oh mamas udah bangun nih, dedek tinggal ya" yeji kembali berrteriak saat melihat seorang remaja dengan earphone yang melingkar di lehernya turun dari kamar dengan senyuman yang lebar.
"TUNGGU DEDEK! DEDEK JANGAN DITINGGAL!" yeji hanya bisa menggelengkan kepala mendengar suara anak bungsunya yang terdengar dari lantai dua rumah mereka.
sudah lebih dari sepuluh tahun merreka menetap di kota. yeji benar benar berhenti dari dunia hiburan setelah mempertimbangkan kalau anak anaknya masih membutuhkan dirinya untuk tumbuh, namun beberrapa kali ia ikut dalam projek projek kecil yang dilaksanakan di agensi maminya. ya walaupun sekarang ia lebuih sering berada di balik layar karena ikut bekerja menjadi tim directing bagi model dan aktris aktris baru, sebuah pekerjaan yang ditekuni ketika anak anaknya sudah masuk smp.
ya, waktu berjalan sangat cepat layaknya cahaya yang bahkan tidak bisa yeji tatap.
baru kemarin ia menolah kehadiran arkan di dunia ini, sekarang arkan berrhasil tumbuh menjadi remaja yang tampan dan kuat dibalik keterbatasan yang ia miliki.
arkan tumbuh sangat pesat. tubuhnya tinggi dan besar, walau tidak sebesar adiknya yang memang hobi nge gym bersama sang papa, namun berterimakasihlah kepada ekskul ekskul olahraga yang ia ikuti sehingga dia bisa tumbuh dengan tubuh yang proporsional.
"mamas, mau makan sama nasi goreng sama ayam apa sama telor?" jeno menawarkan kepada anak sulungnya yang sudah duduk manis dengan memeluk mangkuk berisi potongan apel dan mangga. "mau telor, pa" ujarnya sambil menunjuk telur mata sapi yang ada di depan jeno.
"ethan belum turun juga?" kali ini kesabaran yeji berakhir, dengan kedua tangan di pinggang dia bersiap untuk menarik suara. "ETHAN DALAM HITUNGAN KETIGA KALAU KAMU BELUM TURUN, BIAR MAMA SAMA MAMAS TINGGAL. KAMU BERANGKAT SAMA PAPA"
"SATU"
"DUA"
"TI--"
"INI UDAH TURUN MAMAHH" tidak lama muncul seorang remaja lainnya dengan kemeja yang berantakan turun dari lantai dua. jika mamasnya dengan tenang menuruni tangga, ethan melompat dari anak tangga kelima dari bawah membuat papanya hanya bisa menggelengan kepala melihat kelakuan anak bungsunya yang semakin hari terkadang semakin diluar nalar.
"mamah ngga boleh marah-marah, nanti mamah keriputnya makin banyak" bukannya menenangkan mamanya yang sudah berasap, ethan malah menyiram api hingga membuat mamanya terbakar jiika saja papanya tidak menengahi.
"udah sarapan dulu dek, biar ngga telat" jeno menengahi perdebatan yang sebenarnya sudah ia anggap sebagai rutinitas apalagi sekarang anak anaknya kembali satu sekolah.
iya, satu sekolah sejak mereka sd.
ketika mereka smp, ethan baru saja menginjak kelas tujuh tapi arkan lulus dan ethan tidak suka dengan itu sehingga dia mempercepat pendidikannya satu tahun sehingga dia bisa sekolah dengan mamasnya lebih lama.
"papa, nanti kerja dimana? masih di warnet?" jeno menganggukan kepala, pekerjaannya belum berubah rubah. masih seorang polisi yang bekerja entah dimana, anak anaknya bahkan tidak tahu dia bekerja dimana seminggu yang akan datang maupun seminggu yang lalu.
"udah sana berangkat sama mama" kedua anaknya menganggukan kepala sebelum menyelesaikan sarapannya dengan cepat.
"adek, mama ngga mau ada insiden mama dipanggil ke ruang bk di hari pertama sekolah, ya" yeji memperingati si bungsu yang duduk di sampingnya sementara arkan duduk di kursi belakang sendiri, mengenakan headphone miliknya sembari menatap jendela.
ethan memajukan bibirnya. "itu kan cuma sekali" bela nya yang dibalas dengan lirikan dari sang mama. "sekali tapi kamu langsung kena skors gara gara nonjok anak kepala sekolah"
ethan mengangkat bahu. "bukan salahku kalau dia nyebelin ke mamas. ya nggak, mas?"
arkan yang disebut namanya hanya memutar bola matanya malas, ada saja alasan yang adiknya gunakan untuk mengenakan kekerasan padahal dia hobi berkelahi dan arkan yang harus menanggung akibatnya karena uang jajannya ikut dipotong. memang ethan benar-benar menyebalkan.
"dah sampai. kalian nanti pulang tepat waktu jangan ada yang pulang telat tanpa izin dari mama. oke?" karena tahu kelakuan anak-anaknya, yeji memperingati kedua remaja lelaki yang sekarang tumbuh lebih tinggi dari dirinya , terutama arkan yang bahkan lebih tinggi dari papanya. arkan menjadi orang yang paling tinggi di rumah.
"oke. bye mama" ethan mengecup pipi mama nya sekilas kemudian menoleh ke arah mamasnya dengan senyuman lebar yang tercetak di wajahnya. "it's gonna be lit!" ujarnya riang dengan senyuman lebar yang dibalas dengusan oleh arkan.
arkan hanya menggelengkan kepalanya ketika melihat adiknya mulai berlari menuju rombongan siswa baru yang sudah mulai berbaris di lapangan. ia menghela napas. ia tahu betul alasan adiknya mengapa ingin satu sekolah yaitu karena ethan tidak mau orang tuanya tahu kelakuan luar biasanya di sekolah dan membiarkan arkan menjadi walinya di sekolah.
arkan memasang headphone miliknya sebelum berjalan berputar menjauhi kerumunan. semoga ethan tidak berbuat ulah di hari pertamanya sekolah.
***
"kok lo sekolah disini?" ethan bertanya kepada seorang gadis dengan seragam yang sama dengan dia tengah berdiri di bawah pohon sambil mengipas ngipas wajahnya. gadis itu menatap arkan dari atas ke bawah. "kok lo udah sma? kan lo umurnya lebih muda dari gue"
"kalian saling kenal?" teman baru arkan, abraham, bertanya sambil melihat kedua orang di depannya bergantian.
keduanya saling tatap. "ngga" "ngga" jawabnya bersamaan sembari mengalihkan pandangan.
abra melihat keduanya bergantian. "masa?"
"udah udah. sono baris yuk udah mulai" ethan cepat cepat berbicara kepada teman barunya untuk mengabaikan mereka berdua. ketika hendak berjalan meliwati cecil, ethan menoleh. "jangan bilang apapun ke tante, ngerti!"
dan cecil menjawabnya dengan juluran lidah mengejek.
"cewe lo cakep amat, than" ethan menggelengjkan kepalanya cepat. "bukan cewe gue" ujarnya sambl bergidik ngeri melihat cecil yang berdiri di barisan paling belakang agar dapat terlindungi dari bayang-bayang pohon. gadis dengan rambut panjang itu berdiri dengan tegap sambil menatap seseorang yang sudah duduk di depan dengan mata berbinar.
arkan.
—————
jangan lupa untuk tinggalkan jejak disini ya bestie! thank you for reading💗
KAMU SEDANG MEMBACA
Little Family
Fanfiction"mama ku besok yang bakal masakin nasi kuning buat ulang tahun" "wah enak dong besok aku mau datang" "mama ku kalau masak ikan kakap sama kerang enak banget. kalian harus coba" "udah jelas mama mu kan buka usaha warung makan" "mama mu gimana?" "ma...
