tamu

498 84 5
                                        

"mamah, kita ga sekolah?" ethan keluar dari kamarnya sambil menyeret ransel miliknya sementara arkan ada di gendongan sang papa dengan mata yang berat karena dibangunkan paksa untuk sarapan.

"kalian libur dulu sekolahnya ya. besok kamu kalau udah dapaat sekolah baru bisa ketemu teman teman lagi" ethan mendesah lemas. tasnya terjatuh lemas di sisi tubuhnya dengan dramatis.

jeno yang sudah memakai pakaian dinasnya hanya bisa menggeleng melihat kelakuan si bungsu. "ayo makan dulu. papa udah bikin nasi goreng katsu lagi. kemarin kan ngga jadi makan" jeno berujar sambil memasang alat bantu dengar milik anak sulungnya yang terkadang dilepas ketika tidur.

"terus mama mau bikin apa? kok 'putar' nya dikeluarkan?" ethan bertanya saat melihat mixer milik mamanya sudah keluar dari tempatnya. "oh ini mau ada tamu kesini. nanti diajak main sama mamas sama dedek juga, ya" yeji mulai membuat bolu membiarkan anak anaknya sarapan bersama suaminya.

"makan dulu"  arkan menepuk bahu mamanya yang sedang mulai memasak. yeji tersenyum. "udah duluan tuh" ia menunjuk piring yang ada di atas meja dapur dekat wastafel, menunjukkan bahwa ia sudah sarapan.

melihat mamanya sudah makan, arkan kemudian melanjutkan sarapannya dengan tenang bersama sang adik. ia sesekali memberikan katsu miliknya kepada ethan karena ethan terlihat menyukai menu pagi ini.

"papa berangkat kerja dulu, ya. nanti papa pulang cepet" jeno berpamitan kepada tiga orang yang ada di rumah. "jangan main jauh jauh, nanti ajakin om nya kalau main ya?" ia berujar sambil mengecup rambut ethan.

dahi ethan berkerut. "om san mau kesini?" tanyanya antusias.

jeno tersenyum. "iya sama om lainnya. dedek bantu mama ya biar kue nya matang waktu om om pada kesini. oke?" ethan mrnganggukan kepalanya antusias. ia kemudian duduk di depan loyang, mengambil mentega dan mengoles loyang tersebut dengan mentega seolah itu jobdesk tetap yang mamanya berikan kepada dirinya.

yeji dan jeno tertawa melihat kelakuan si bungsu. "aku kerja dulu, nanti balik agak awal kalau ngga ada keributan" ia mengecup bibir dan mata istrinya yang masih terlihat bengkak.

***

"SEBENTARRRR" ethan yang sedang menyusun rumah miliknya menoleh ke arah pintu. pasti itu om san!

mamasnya mengamati adiknya yang begitu antusias sambil membantu memasukkan kue kering di toples. ethan sudah berhenti sejak satu jam lalu karena bosan menunggu bolu buatan mamanya belum matang dan memutuskan untuk bermain sendiri.

"OM SANN-eh?" ethan mendongak saat tubuhnya menabrak sepasang kaki yang menurut ethan sangat panjang. ia mendongak dengan mulut terbuka sambil melihat siapa yang datang.

om didepannya tersenyum dan melambaikan tangan. "halo"

"MAMAAAA ADA OM TILEXX DISINIII" mendengar teriakan dari ethan, tiga orang pria dibelakang pria yang diberi julukan tilex oleh ethan tertawa terbahak bahak.

"emang lo mirip tirex si yun" ethan melotot ketika melihat ada satu om lagi yang berbicara. om ini tubuhnya besar, lebih besar dari om tilex, bahkan suaranya seram.  "MAMA ADA OM UWOO JUGAAA"

pria berambut blonde itu melotot saat ditertawakan teman temamnya. "u-uwo?"

"lo keliatan kaya genderuwo kali gi" ethan menutup pintu dengan keras kemudian berlari ke dalam rumah dengan wajah serius melapor kepada mamanya. "mama ada om uwo sama om tilexx di depan" ujarnya serius tanpa menyadari kalau pintu sudah dibuka dari luar oleh san yang masih tertawa.

"ohya? dimana?" yeji bertanya sambil menahan tawa karena sudah tahu siapa yang dimaksud anaknya. siapa lagi kalau bukan teman teman kakaknya yang memang sedang libur dan diajak kesini untuk gantian menyetir karena mereka hanya satu hari disini.

"woaah" lagi dan lagi, anak yeji yang lainnya terperangah melihat dua orang pria yang tinggi menjulang berada di depannya. "haloo" ujarnya sambil berlutut dan mengusap rambut arkan sementara ethan masih melakukan observasi terhadap manusia manusia tinggi yang main ke rumahnya.

papanya juga tinggi sih tapi ngga setinggi om om ini!

om om ini tinggi kaya pohon kelapa!

"itu temen temen om san" san akhirnya bersuara setelah mengakhiri tawanya bersama wooyoung yang bahkan memegangi perut saking kerasnya tertawa.

"nama om, yunho. kalau ini om mingi" yunho mengenalkan dirinya kepada keponakan dari temannya. arkan tersenyum malu malu dan bersembunyi dibalik kaki san sementara ethan menatap keduanya bergantian. anak empat tahun itu kemudian mengangkat telunjuk kanannya dan bergantian menunjuk om di depannya. "om uwo dan om tilex. itu om kun"

wooyoung yang sedamg tertawa langsung melotot ketika namanya disebut secara asal. yeji menegur anak bungsunya. "dek"

"GUE MAU MARAH. SINI KAMUUUUU RAWRR" ethan tertawa terbahak bahak ketika wooyoung menggendongnya ke udara sambil mencium perutnya. "HAHAHAHA AMPUUUN OM"

"SINIIII KAMUUU"

***

"om, ambilin mangga dong" ethan kini berjalan diantara kebun bersama dengan mamas dan om om tinggi yang mengekor di belakangnya membiarkan om san dan mamanya berbicara.

"mangga yang mana? emang ini udah mateng?" om tilex menatap pohon mamgga yang sebenarnya tidak terlalu tinggi. ya kisaran dua sampai tiga meter dari atas tanah. ia bahkan bisa mengambilnya tanpa harus naik ke pohon.

"gue baru tau ada mangga sependek ini. inimah gue loncat juga dapat" wooyoung mengoceh sambil menopang kedua tangannya di pinggang. "kaya lo tinggi aja" mingi yang menggendong arkan menyindir.

"udah, itu yang itu matang" ethan menunjuk  buah yang sudah menguning. yunho mengangguk. "dedek geser" ethan menurut, ia sekarang berdiri disamping wooyoung, ikut menopang kedua tangannya di pinggang sambil menyemangati om tilex yang hendak melompat.

hap!

"YEY DAPAT MANGGA" soraknya sambil bertepuk tangan ketika buah mangga sudah ada di tangannya. yunho membolak balikkan buah yg ada di genggamamnya. "belum matang banget ngga sih?" tanyanya ragu kepada dua temannya.

"gue taunya mangga tinggal makan udah dikupas emak gue" mingi menjawab apa adanya. ia kemudian menurunkan tubuh arkan ketika arkan menepuk nepuk ingin diturunkan.

"biar aku yang ambil pisau"  ujarnya sambil melangkah kembali ke rumah meninggaljan tiga om yang kebingungan. "apa katanya?" bisik wooyoung.

yunho mengangkat bahu. "manjat aja kita daripada gue harus lompat"

***

arkan menghentikan langkahnya ketika samar sama ia mendengar suara tangisan dari mamanya di ruang makan. ia mengintip dan melihat mamanya sedang menangis sementara om san hanya diam sesekali menepuk kepala mamanya.

arkan ragu. kalau dia balik badan, nanti mereka ngga dapat pisau buat makan mangga. kalau dia lewat, pasti mama dan om nya berhenti berbicara padahal sepertinya mereka bicara hal penting. kan arkan jadi bimbang.

"mamas, cari apa?" arkan terkejut ketika om nya menyadari keberadaan dirinya. arkan mendekat dengan pelan sementara yeji cepat cepat menghapus air matanya dengan siku. "cari pisau buat mangga. om lagi ambil mangga"

"biar mama ambil sebentar" yeji langsung bangkit dan berbalik ke dapur. san yang ditatap keponakannya tersenyum sambil mengacak rambut legam milik arkan, tidak mengatakan apapun.

"ini, hati-hati pegangnya. nanti mama sama om san kesana" arkan menganggukan kepala, ia menerima pisau itu dengan sangat hati hati sebelum berlari menuju ruang tengah.

ia meletakkan pisaunya di meja kemudian mengambil beberapa lembar tisu dan berlari menghampiri mamanya.

ia membuka tangan mama dan om nya, meletakkan tisu disana sambil tersenyum lebar. "mama cantik kalau senyum. jangan nangis, ya, mama?"

—————

jangan lupa untuk tinggalkan jejak disini ya bestie! thank you for reading💗





Little FamilyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang