34. Bertahanlah

1.7K 149 14
                                        

Tameng
—34. Bertahanlah—

------

Kamu tidak sendiri, kamu hidup di tengah-tengah rasa hangat.

------

Kalang kabut, tidak ada yang menyangka kalau mereka akan langsung dihujani oleh peluru setelah pintu berhasil di dobrak paksa. Sontak membuat mereka berhamburan mencari tempat berlindung dengan menutupi kepala masing-masing, takut terkena target tembakan.

Jico menggeram marah, ia melihat sekeliling yang sudah begitu kacau berantakan. Beberapa orang mengikutinya untuk tiarap dilantai, bahkan masih ada yang tidak berani mengangkat kepala.

"BANGUN KALIAN SEMUA!"

Teriakan itu begitu lantang, seseorang dengan baju jas rapi layaknya manusia terpenting itu memperhatikan satu persatu orang disana guna mencari seseorang yang dicari nya.

"Dua kali saya memeriksa tempat ini dan kalian beralasan tidak tau keberadaan nya, dan tadi sudah jelas-jelas kalau dia datang kesini bersama dengan tujuh orang lainnya."

Manik tajam itu melirik sinis Jico, sejenak ia bisa merasakan aura yang begitu mencekam dari pemuda itu.

Padahal Jeo tadi sudah pakai masker dan topi, mungkin memang penyamaran anak-anak tidak berhasil mengelabui orang-orang terlatih itu.

"Dia nggak ada disini, kalian salah lihat." Raymond, ia bangkit dan menepuk bajunya yang kotor terkena debu.

Raymond Wiryamanta, Wakil Ketua sekaligus panglima Wolves itu tanpa gentar menghadap beberapa orang bersenjata itu. Bagaimanapun juga disaat seperti inilah ia harus memasang badan melindungi markas beserta para anggotanya. Karena Jeo sudah menaruh kepercayaan penuh padanya.

"Apa kami terlihat seperti orang yang mudah dibohongi di matamu, nak?"

Raymond menaikkan sebelah alisnya, menatap sebuah nametag yang terpasang pada sisi dada pria di hadapannya.

"Tuan Garda, anda pun juga salah langkah telah memasuki markas kami disaat dua kubu besar tengah berkumpul."

Mendengar hal itu membuat Jico langsung ikut bangkit dan segera menyentuh pundak Raymond untuk memperingatkan anak itu agar tidak memancing amarah para pria itu.

"Kami tidak diperintahkan untuk meladeni kalian, kami hanya harus membawa pulang anak dari tuan besar dengan keadaan hidup atau mati." Garda berujar penuh kesabaran, ia tau jika pemuda di depannya ini hanya ingin mengulur waktu saja.

"Kalau kalian bebal tidak ingin memberi tahu, biar kami cari sendiri ditempat ini."

"Lo nggak berhak mengobrak-abrik markas kami, sialan!" Raymond berujar marah.

Garda tersenyum, bertepuk tangan sendiri. "Saya kagum dengan seberapa keras kamu memperjuangkan teman-teman mu, tapi sayangnya kami masih terlalu mudah untuk menginjak mu."

"Maka lakukanlah!" Raymond langsung memposisikan dirinya dengan memasang kuda-kuda nya.

Jico menghela nafas, mereka akan benar-benar melawan para pasukan terlatih itu. Jico menoleh pada teman-teman nya yang sudah mempersiapkan diri, paham dengan apa yang akan terjadi.

Sedangkan di sisi lain, Yasha benar-benar membawa Jeo melarikan diri. Kemana saja asal tidak tertangkap.

"Tunggu, Yasha tunggu!" Jeo berusaha menghentikan Yasha yang masih aktif menariknya.

Nafas mereka tidak beraturan, terutama Jeo yang sudah engap sendiri. Mereka sudah jauh dari markas, yang mana membuat Jeo khawatir dengan keadaan teman-teman nya. Mereka sempat mendengar suara tembakan beruntun, membuat Yasha langsung menarik Jeo agar segera menjauh dari sana.

TamengCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang