Tameng
—35. Deklarasi—
------
Selamanya, kita melalui lika liku ini selamanya. Menjadikannya bukti kalau sampai sejauh ini, kita belum berhenti melangkah.
------
Perkelahian dadakan mereka berakhir setelah Garda menggertak dengan tembakan peringatan, dengan angat sangat terpaksa ia harus mundur dan mengalah sejenak dikarenakan banyak pasukannya yang gugur. Garda tidak menyangka sama sekali kalau ternyata anak-anak berandalan itu lebih brutal dari yang ia bayangkan sebelumnya.
Keadaan markas Wolves tengah kacau balau, namun tidak ada yang memperdulikannya. Semuanya sama tengah terduduk dan berbaring diatas lantai, kelelahan setelah melawan orang-orang terlatih yang sejujurnya bukan tandingan mereka. Namun setidaknya mereka berhasil memukul mundur.
Raymond tersentak saat ponselnya berbunyi ribut, rupanya Yasha yang menghubungi nya. Dengan cepat ia menjawab, Raymond pun ingin tau keadaan mereka berdua.
"Lo dan yang lain nggak apa-apa kan? aman kan?"
Sejenak Raymond memperhatikan satu persatu teman-teman nya disana. "Aman, luka ringan dan nggak ada yang parah. Lo sama Jeo sekarang dimana?"
"Syukurlah, Jeo lagi ada di rumah gue dan dia tadi ketiduran. Nggak apa-apa, dia aman disini."
Raymond ikut bernafas lega. "Tolong jangan bolehkan dia pergi sendiri lagi, kita harus buktiin kalo kita pun bisa melindungi dia."
"Iya, gue paham. Udah dulu ya, nanti pagi gue ke markas buat bantu beres-beres."
Raymond hanya menggumam, kembali mengantungi ponselnya setelah Yasha mematikan sambungan mereka. Raymond lalu bangkit dengan tertatih, sial sekali Garda sempat menendang tulang kering nya tadi.
Raymond mendatangi Jico yang tengah duduk bersandar di tembok, pemuda itu memejamkan matanya seolah tengah tertidur.
"Bang, gue mau mengucapkan—"
"Nggak usah!"
Bibir Raymond terkatup kembali, tidak jadi melanjutkan ucapannya karena Jico sudah lebih dahulu memotong nya.
"Kalian udah setuju bekerjasama dengan Suarga, itu berarti kita harus tolong menolong." Jico berujar, membuka sedikit matanya guna melirik Raymond.
Kagum, Raymond menjadi sangat kagum dengan Jico. Kepemimpinan Jico memang tidak bisa di remehkan lagi, dia benar-benar begitu bijaksana.
Raymond mengulurkan tangannya yang mana langsung disambut baik oleh Jico, tak disangka Raymond malah menarik tangan Jico hingga si empunya bangkit dengan tidak siap.
"Berantakan banget lo!" Ejek Raymond setelah melihat penampilan Jico.
"Lo juga, sialan!" Umpat Jico.
Raymond terkekeh, ia beralih menatap Shankara yang tengah melamun. Dibalik punggungnya ada Wilard yang bersandar, nyaris tertidur. Mungkin memang kebiasaan Wilard ketika kelelahan adalah langsung jatuh tertidur tidak mengenal tempat.
Raymond merendahkan tubuhnya, ia menggerakkan tangannya guna menarik perhatian Shankara. Dan nyatanya berhasil, Shankara tersadar dan menatap nya dengan penuh tanya.
"Lo inget gue?"
Shankara tentu saja ingat, Raymond adalah satu-satunya orang yang berani menghadangnya waktu itu. Dan Shankara yang tidak kenal bulu pun turut mengamuk pada Raymond.
"Gue minta maaf yang sebesar-besarnya atas kejadian dulu, gue harap lo bisa berdamai dan ikhlas sepenuhnya. Sama seperti kami, yang berusaha bangkit lagi pelan-pelan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Tameng
Teen Fiction"Lo adek gue yang nakal, Wilard." ------ Wilard itu anak tunggal, namun sejak kedatangan Shankara ia harus menerima kenyataan bahwa ia menjadi si bungsu di rumahnya. Dan Shankara tidak pernah membayangkan akan memiliki seorang adik yang hanya berjar...
