sambungan telepon
"kami sudah menemukan nya bos " ujar salah satu bodyguard joong
" bagus, siapa dia?" tanya joong
" nyonya jane tuan " ujarnya
" jane ? aku sudah menduganya , bawa dia ke markasku ,jangan biarkan dia masuk ke kantor polisi aku tidak ingin polisi yang menangani nya , biar tanganku sendiri yg menyelesaikan nya " ujar joong mengepalkan tangannya
"siap tuan laksanakan sesuai perintah "
sambungan telepon berakhir
" aku tak akan mengampuni mu jane " ujar joong dengan tatapan marah
.
.
.
" dimana phi dunk , aku ingin bertemu ?" ujar phuwin terbangun dari sadarnya
" phuwin sayang , phuwin harus pulih dulu nanti kita , ketemu phi dunknya " ujar joong tersenyum disamping phuwin
" tapi phi dunk tidak papa kan ? jawab achennn " ujar phuwin berusaha menggerakkan tubuhnya
" sayang... nanti " omongan joong terputus karena suara pintu yg terbuka
CEKLEK
" selamat pagi tuan , saya membawakan bayinya, sehat dan lucu , saya akan kembali lagi nanti , biar bayinya bertemu ibunya " ujar suster memberikan bayi itu kepada joong
" iya suster, terimakasih " jawab phuwin
" lucu sekalii " ujar joong tak berhenti mengecup bayi mungil itu
" sekarang beralih ya ? tidak mencintai ku tapi mencintai dia hiksss hiksss...." ujar phuwin mulai menangis
" ya ampun aku lupa jika yg melahirkan bayi masih bayi " batin joong
" tidak sayang ? apa yg kau katakan kau tetep number one cup " ujar joong juga mengecup phuwin
" lihatlah ia imut sekali " ujar joong memberikan bayi itu kepada phuwin
" aku tidak melihat kakak dia dimana?" ujar phuwin menatap bayi yg terdiam masih tidur
" pond membeli sarapan tadi tapi entah belum kembali " ujar joong tersenyum
" mau memberikan nama siapa ?" tanya joong pada phuwin
" emmm tidak tau siapa ya ? huft leon bagaimana? aku menyukainya " ujar phuwin tersenyum
" boleh itu bagus , leon berarti pemberani dan tidak takut pada apapun, leon naravit letratkosum bagaimana?" ujar joong mengelus rambut phuwin
" naravit letratkosum? tidak , kenapa tidak ada nama achen ? kenapa ada nama kakak ? itu tidak adil " ujar phuwin polos
" astaga, tidak begitu sayang , apapun keadaan nya pond adalah ayah biologis nya , aku bukan siapa siapa , nama pond lebih berhak berada dinamanya " ujar joong menjelaskan dengan lembut
" hak ? jika menyangkut hak bukankah lebih berhak achen ? achen ingat tidak saat dirumah sakit , saat itu adalah saat pertama aku tau ada kehidupan lain ditubuhku , aku menolak takdir itu , kak pond menyuruh ku menggugurkannya dan saat kak pond mendorong ku achenn yg menyelamatkan bayi itu dan membela diriku padahal waktu itu kita belum saling kenal " ujar phuwin menatap bayi tak berdosa itu
" saat duniaku benar benar hancur, benar benar tak ada yg membelaku bahkan diriku sendiri sudah menyerah dengan semua keadaan , hanya ada achen disampingku , merawatku dan bayi ini dengan tulus , menuruti permintaan ku segala kekurangan ku , apa itu tidak cukup? dari pada hanya menyetubuhi ku dan menanam benih nya dirahimku namun nama orang lain yg berada dalam bayangan nya ? setelah benih itu hadir tak ada pertanggungjawaban bahkan dengan mudahnya ingin membunuh bayi tak berdosa itu? achen jawab !? " ujar phuwin penuh rasa sakit , airmata mata perlahan mengalir
KAMU SEDANG MEMBACA
MASA LALU
Fanfiction" aku membencimu " -phuwin " maaf kan kakak phu , ini salah kakak " - pond " apa maksudmu ? aku kecewa dunk " - joong " joongie dengarkan aku bisa jelaskan hiks..." - dunk " semua tak ada yg bahagia, tak ada yang baik baik saja aku benci takdir...
