Bab 27 🔞

943 91 14
                                    

Mata Naruto menatap kosong ke arah langit-langit gudang, pikirannya mulai tenggelam dalam fantasi yang perlahan mengambil alih dirinya.

Wajahnya memancarkan obsesi dan keinginan yang mendalam. Napasnya yang awalnya berat kini teratur, tetapi penuh intensitas yang terpendam.

Tangannya yang kokoh terulur menyentuh pipi Hinata. Ibu jarinya mengusap pelan kulit yang halus itu seolah ingin menyimpan setiap detail dalam ingatannya. Jemarinya lantas menyusup ke belakang kepala, membenamkan diri di antara helaian rambut panjang Hinata yang kusut akibat hasrat mereka sebelumnya.

Dengan tekanan lembut, Naruto mendorong kepala Hinata mendekat, memandu gerakan perempuan tersebut seolah segalanya ada dalam kendalinya.

Suaranya rendah—hampir seperti bisikan yang penuh otoritas,  mengarahkan Hinata agar membuka mulutnya lebih lebar.

"Yah Sayang, perlahan ... taruh lidahmu di sana, jangan sampai mengenai gigi, haa ... ahh—"

Hinata mengikuti arahan Naruto, gerakannya masih canggung, membuat sang daimyo tersenyum kecil.

"Haha ... bagus ... seperti itu, mulutmu lembut sekali ...."

Tak cukup hanya dengan membaringkannya di bawahnya, Naruto menekan miliknya ke dalam mulut Hinata secara teratur.

Pilar yang masuk terlalu besar, ditekan ke dalam membuat bibirnya serasa mau robek.

"Hu ... ughh ...."

Batang daging yang tebal dan bergairah dijejalkan langsung ke tenggorokannya. Hinata nyaris tersedak. Organ itu panas dan keras, berkedut kuat di dalam mulutnya.

Naruto melihat setetes air mata jatuh dari sudut pelupuk Hinata, ia tahu, itu bukan air mata tangisan, melainkan rasa nyaman, sebuah penyerahan tanpa syarat yang membuat hatinya semakin membuncah.

Naruto tersenyum, ia mendongakkan kepala, wajahnya diterangi oleh kehangatan yang aneh; sebuah kepuasan mendalam menguasai dirinya.

Seperti hewan buas yang baru menyelesaikan perburuan, lehernya yang tegang; urat-urat terlihat jelas seperti tali yang ditarik terlalu kuat. Garis rahangnya mengeras, ia memiringkan kepalanya ke belakang, membiarkan desahan panjang lolos dari bibirnya.

"Haaa ... Kakak ... mulutmu enak sekali, kau pandai sekali ...."

Naruto menggerakkan pinggulnya perlahan, seirama dengan tarikan napas yang semakin berat.

Setiap gerakan membawa mereka lebih dalam kepada kehangatan yang hanya milik berdua. Naruto suka memandang pipi Hinata yang menggembung karena miliknya, dan matanya yang berkabut diliputi kesenangan tampak sangat cantik.

Semakin dipenuhi hasrat, Naruto bergerak lebih cepat. Senyum di bibirnya lebih layak disebut seringai. Tumpahan air liur yang lebih banyak menetes dari celah bibir Hinata.

"Ini akan terasa sedikit sakit, tapi ... Kakak, maaf ... aku tidak bisa menghentikannya sekarang ...."

Dia menekan tangannya ke leher Hinata, gerakannya seperti mencekik.

Ini adalah pemandangan yang paling indah di dunia. Saat miliknya yang berwarna lebih gelap, menekan masuk ke dalam mulut Hinata yang merah muda dan lembap. Setiap kali ia menyodorkannya, mulut itu akan mengisapnya dengan keras.

Sial ... ia tidak ingin berpindah dari posisi ini, jika perlu, selamanya.

Rasanya begitu nikmat, Naruto memutar pinggulnya, batangnya yang kokoh menyentuh setiap inci tenggorokan Hinata tiap kali ia bergerak.

Rasa geli yang luar biasa merayapi pinggangnya. Ia mendorong lebih kuat, memicu gelombang yang datang deras, serupa pasang di bulan purnama.

"Haah ... Kakak ... Kakak ...."

YOUNG MASTERTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang