Di aula besar Kastel Omi, suasana dipenuhi kehangatan. Sebuah meja panjang membentang di tengah ruangan, penuh dengan hidangan yang menggugah selera—nasi putih hangat, sup miso yang mengepul, ikan bakar yang mengeluarkan aroma harum, serta beragam lauk pauk yang disusun rapi. Pelayan berlalu-lalang, memastikan setiap anak mendapat porsi mereka.
Naruto duduk di tengah-tengah dengan tubuhnya yang tegap namun canggung, tampak seperti batu karang yang dikelilingi gelombang anak-anak yang riuh. Hinata, dengan senyum lembut, berdiri di dekat tumpukan nasi, membantu beberapa anak yang kesulitan membawa piring mereka. Di sudut ruangan, Neji menyandarkan punggungnya ke kusen pintu, memperhatikan dari jauh dengan tangan terlipat di dada.
"Daimyo-sama!" Seru seorang anak lelaki dengan mulut kecil yang nyaris penuh nasi. "Apakah kau makan seperti ini setiap hari?"
Naruto melirik anak itu dengan alis terangkat, lalu menjawab singkat, "Tidak. Biasanya aku makan sendiri. Tidak seramai ini." Suaranya terdengar datar, tapi anak-anak justru tertawa—entah apa yang mereka anggap lucu.
"Kalau begitu, apakah Daimyo suka memasak?" tanya seorang anak perempuan dengan pipi merah karena dingin.
"Mengapa aku harus memasak kalau ada pelayan?" jawab Naruto lagi, setengah mendengus, namun rona samar di pipinya menunjukkan bahwa ia sedikit salah tingkah.
Seorang anak lain menyela, suaranya keras dan penuh semangat. "Aku tahu! Daimyo pasti makan banyak daging, 'kan? Supaya kuat seperti samurai!"
Naruto berhenti menyuap nasi sejenak, memutar matanya. "Kuat bukan karena makan daging. Kau harus berlatih keras kalau mau jadi kuat."
Anak-anak itu langsung ribut, saling berceloteh bahwa mereka juga ingin menjadi sekuat daimyo. Salah satu bocah lelaki berdiri dari tempat duduknya, mengacungkan sendok nasi ke udara seperti pedang. "Kalau begitu, Daimyo-sama, ajari aku berlatih! Aku mau jadi sekuat dirimu dan melindungi orang-orang!"
Hinata menahan tawa di balik tangannya, sementara Naruto hanya mendesah panjang, menatap bocah itu dengan ekspresi tak percaya. "Makan dulu, baru bicara soal latihan. Kau tidak bisa melindungi siapa pun dengan perut kosong."
Anak-anak tertawa lagi, lalu kembali mengunyah makanan mereka. Namun, kebisingan belum berakhir.
"Daimyo-sama, mengapa kau belum menikah?" tanya seorang anak perempuan polos, sambil memandang Naruto dengan mata besar dan penuh rasa ingin tahu.
Naruto yang sedang meminum teh hampir tersedak. Ia menatap anak itu dengan wajah merah padam, sementara Neji yang mengamati dari jauh ikut menutupi senyumnya dengan tangan. Hinata yang tengah menuangkan sup untuk anak lain juga tampak terkejut, tapi buru-buru mengalihkan pandangannya, pura-pura sibuk.
"Apa pedulimu soal itu?" Naruto akhirnya menjawab dengan nada datar, tapi, wajahnya masih memerah.
"Kalau Daimyo menikah, apakah dia akan menikahi Kakak Cantik itu?" seru bocah yang lain sambil menunjuk ke arah Hinata.
"..."
Hinata hampir menjatuhkan sendok sup yang dipegangnya, sementara Naruto menatap anak-anak itu dengan ekspresi campuran antara kaget dan frustrasi. "Tentu saja." Batinnya.
"A-aku hanya akan menikah kalau kalian berhenti ribut." Serunya, meski nadanya tidak terdengar benar-benar marah.
Anak-anak itu justru tertawa semakin keras. Hinata pun akhirnya ikut tertawa kecil, meskipun, tak dapat disembunyikan wajahnya juga turut memerah.
Naruto hanya menghela napas panjang, lalu kembali menyuap makanannya, berusaha mengabaikan kekacauan kecil di sekitarnya—tanpa ia sadari, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis.

KAMU SEDANG MEMBACA
YOUNG MASTER
FanfictionSetelah perang terjadi, konflik yang lebih besar melebar di seluruh wilayah. Para Daimyo saling melakukan ekspansi, dan Kaisar tidak lagi memiliki kekuatan mutlak. 10 tahun berlalu, Hinata dipanggil kembali ke Kastel Uzumaki untuk mengobati sang tua...