Di malam yang membisu itu, dua sosok berkuda muncul dari balik bayangan gelap. Derap langkah kaki kuda terdengar menginjak kerikil jalanan. Mereka bergerak perlahan, melintasi setapak berbatu yang mengarah ke gerbang utama kastel.
Topi bambu lebar dengan kain transparan berwarna hitam yang menjuntai lembut di sekelilingnya menyembunyikan wajah keduanya. Salah satu dari mereka, dengan gerakan tenang menuntun kendali kuda yang berjalan di depan.
Malam telah menelan Kastel Omi dalam keheningan. Angin dingin akhir musim ini berbisik lembut di antara tiang-tiang tinggi yang menopang gerbang besar kastel. Lambang Uchiha terlihat merah menyala dengan bentuk kipas yang khas, berkibar di atas pagar-pagar tinggi yang mengelilingi tempat itu.
Neji memelankan laju kudanya. Ia menyampaikan pada sang Daimyo, jika mereka telah sampai.
"Selamat datang kembali, Tuan Muda." Bisiknya.
Para penjaga di gerbang yang mengenakan seragam Uchiha langsung menghampiri mereka. Seorang pria bertubuh kekar dengan tangan menggenggam gagang pedang di pinggangnya, memasang raut penuh kecurigaan.
"Siapa kalian? Ada keperluan apa di sini?"
Neji melompat turun dari kudanya, gerakannya tenang mendekati pria itu. Tanpa menjawab, tangan kanannya meluncur dengan kecepatan yang mematikan, pedangnya melesat keluar dari sarung—memotong udara dingin sebelum menembus dada penjaga tersebut.
"Ugh!" Suara pendek terdengar dari pria itu, matanya membelalak—ekspresi ngeri terpatri di wajahnya, kemudian ia tersungkur di atas tanah berbatu.
Darah segar mengalir dari luka di dadanya, menodai salju putih, membuat genangan merah yang terlihat kontras.
Dua penjaga lain yang berada di belakangnya kontan mundur selangkah. Wajah mereka berubah pucat, terguncang atas kejadian yang begitu mendadak.
Salah satu mencoba meraih pedangnya, tetapi sebelum ia sempat menghunusnya, Neji sudah berdiri di hadapan mereka.
Angin perlahan menggoyang kain hitam yang menggantung di sekeliling topi bambunya, memperlihatkan wajahnya yang dingin dan dihiasi senyum penuh ejekan.
"Apakah kami perlu izin untuk masuk ke rumah sendiri?"
Salah satu penjaga yang mengenalinya tergagap, tubuhnya mendadak gemetar, "Di-dia ... kau—"
Kata-katanya tak pernah selesai. Dengan kilatan dingin, pedang yang hampir tak terlihat dalam kegelapan membantai ketiga penjaga itu dalam hitungan detik. Tubuh mereka jatuh berserakan, darah terciprat di mana-mana menciptakan pemandangan yang mengerikan di bawah cahaya bulan.
Neji menyarungkan kembali pedangnya, lalu melangkah ke arah gerbang yang tertutup rapat. Dengan dorongan kuat, ia membuka pintu kayu besar tersebut hingga berderit, memperlihatkan jalan masuk ke kastel yang dipenuhi cahaya temaram.
.
"Horaaaa!"
Sorak-sorai menggema di halaman utama Kastel Omi. Para prajurit berbaris rapi, wajah mereka memancarkan kegembiraan bercampur tekad.
Sang Daimyo telah kembali. Pria berambut pirang itu tampak berdiri tegak di atas panggung kecil di tengah area itu.
Di sana, para prajurit Owari yang tertangkap juga sudah dikumpulkan. Mereka dipaksa berlutut dengan tangan terikat di belakang punggung, dan, para prajurit Omi yang berjaga mengancam orang-orang itu dengan pedang yang siap terhunus ke mata mereka.
"Dengar baik-baik!" Suara Naruto menggelegar, iris birunya yang dingin menyapu seluruh prajuritnya, "Tidak ada satupun klan yang dapat menandingi Uzumaki, dan Owari? Mereka hanyalah debu di bawah langkah kita—mudah disingkirkan. Pengambil alihan kastel ini telah mencoreng kehormatan kita sebagai klan yang besar. Balas! Ratakan Owari hingga tidak ada lagi yang mengenal nama wilayah itu!"

KAMU SEDANG MEMBACA
YOUNG MASTER
FanfictionSetelah perang terjadi, konflik yang lebih besar melebar di seluruh wilayah. Para Daimyo saling melakukan ekspansi, dan Kaisar tidak lagi memiliki kekuatan mutlak. 10 tahun berlalu, Hinata dipanggil kembali ke Kastel Uzumaki untuk mengobati sang tua...