ー Saran dan kritik diperbolehkan dengan syarat gunakan bahasa yang sopan.
ー Tidak ada karya yang sempurna, tetapi setidaknya kita mau berusaha mencoba agar lebih baik🌷✨
ー Happy enjoy it!
◥◤◥◤◥◤
Hari yang ditunggu-tunggu kini telah tiba. Rumah yang tadinya hanya berisi dua orang, kini tampak terasa ramai sejak kemarin lantaran beberapa kerabat jauh datang.
"Pradipta, saya ikut senang dengan pernikahanmu ini. Dulu, saya sempat khawatir karena beberapa tahun lalu kamu masih belum bisa membuka lembaran baru selepas kepergian Rarity," ucap Dirga, salah satu sepupu dari keluarga Pradipta. Sekarang ini mereka sedang berada di ruang tengah, sedangkan yang lain, mereka sudah di berada di luar rumah.
Pradipta terkekeh. "Iya, beberapa tahun lalu memang terasa berat bagi saya, tapi sekarang saya sudah bisa merelakan Rarity."
"Betul itu, Dip! Kamu harus lepas dari masa lalu, kasihan Naren kalau kamu terus-terusan larut dalam bayang-banyang mendiang istri kamu," timpa Rose, istri dari Dirga.
"Ngomong-ngomong Naren, dia kemana, ya?" Dirga bertanya.
"Di kamar mungkin," ucap Pradipta sembari membenari kerah kemeja putihnya.
"Masih di kamar? Ini bukannya udah jam tujuh, kok, masih di kamar sih. Kalau gitu aku susul dia aja ya, Dip." Rose meninggalkan mereka berdua setelah mendapatkan anggukkan kepala dari Pradipta dan Dirga.
Saat Rose sudah berada di depan pintu kamar Naren, wanita itu mulai mengetuk. "Naren, ini Tante. Tante masuk ya."
Ketika Rose sudah masuk, terlihat Naren sedang mengobrak-abrik lemari pakaiannya dengan raut wajah panik.
"Naren, kenapa semua pakaiannya berantakan gini? Kamu nyari apa sih?" tanya Rose.
"I-itu Tante..."
"Itu apa? Ngomong yang jelas, Ren!"
"Ja-jas! Jas yang dipesan Papa buat aku hilang!"
Raut wajah Rose seketika panik. "Gimana bisa hilang? Terakhir kali kamu nyimpan jas itu dimana?" tanya Rose, yang ikut menggeledah isi lemari.
"Aku lupa, Tante! Akhir-akhir ini aku sibuk bimbingan untuk olimpiade," jawab Naren.
"Kamu udah ngambil belum di butiknya?" Rose bertanya sekali lagi.
"Ngambil di butik? Aku rasa... enggak deh..." Naren menjawabnya dengan ragu-ragu.
"Kalau gitu Tante coba hubungi pihak butiknya dulu." Rose mengeluarkan ponsel dari tas handbag-nya, lalu mulai menelpon pihak butik.
Setelah beberapa saat, sambungan telepon itu berhenti. Rose menghela napas. "Jas itu masih ada di butik, dan pihak butik gak bisa bawa jas itu ke sini sekarang juga karena sibuk. Jadi kita ke sana sekarang!"
Keduanya lantas keluar dari dalam kamar milik Narenーmereka menuruni anak tangga hingga tiba di ruang tengah.
"Lho... Narennya, kok, belum siap, Ros?" tanya Dirga. Dirga spotan langsung bangun ketika melihat keberadaan Rose dan Naren. "Ini kita udah mau berangkat, Pradipta juga udah duluan ke mobil."
KAMU SEDANG MEMBACA
Why Me? || Zhong Chenle
Teen Fiction(BROTHERSHIP + FAMILY) Jika mendengar kata rumah, apa yang langsung terlintas dipikiran? Mungkin orang akan berkata; itu seperti sebuah bangunan hangat, yang setiap kita datang membuka pintu, akan selalu ada orang-orang yang menyambut kita dengan s...
