ー Saran dan kritik diperbolehkan dengan syarat gunakan bahasa yang sopan.
ー Tidak ada karya yang sempurna, tetapi setidaknya kita mau berusaha mencoba agar lebih baik🌷✨
ー Happy enjoy it!
◥◤◥◤◥◤
Sudah satu minggu ini Al berdiam diri di kamar, rutinitasnya hanya pergi ke sekolah lalu pulang tanpa bermain bersama teman satu tongkrongannya karena larangan dari Kalandra, ponsel laki-laki itu juga di sita oleh sang Abang.
"Gue nyesel banget nurutin omongannya si Harsa!" Al berdecak, ingatannya kembali flashback ke kejadian seminggu yang lalu dimana ia tengah menyelinap ke ruang kerja Kalandra untuk menggali informasi tentang Naren, tapi sayangnya aksi itu dipergoki oleh sang pemilik ruang kerja.
Kalandra benar-benar marah melihat Al yang terlalu kepo dengan informasi pribadi pasiennya, maka, Kalandra memberinya hukuman agar Al merasa kapok, yaitu dengan menyita ponselnya dan tidak boleh bermain selama dua minggu.
Al awalnya menolak, namun sikap Kalandra yang tegas membuat laki-laki itu tak bisa berkutik dan hanya pasrah menjalani hukuman tersebut. Al kemudian keluar dari dalam kamar, kakinya menuruni tangga dan berjalan menuju ke dapur untuk makan malam.
Rupanya, ada Kalandra di sana yang baru saja membersihkan alat masak. Al duduk di kursi, tangannya bertumpu pada meja makan, sementara sorot matanya memperhatikan Kalandra yang mulai duduk berseberangan dengannya.
Kalandra mengambil secentong nasi, disusul dengan menyendok lauk yang masih mengepul di atas meja makan. Meski di hadapannya ada Al, Kalandra sama sekali tak mau berbicara pada adiknya itu karena rasa kesalnya masih ada.
Al yang tak tahan dengan keheningan itu pun langsung membuka suara. "Bang, gue minta maaf. Gue janji gak akan ngelakuin hal-hal kayak gitu lagi," tutur Al. Ia benar-benar merasa bersalah.
Kalandra tak menggubris, ia hanya sibuk dengan aktivitas makannya, dan itu membuat Al menghela napas.
Beberapa saat kemudian, setelah Kalandra menghabiskan makanannya, mulut pria itu bersuara. "Gue kecewa sama lo, Al. Bener-bener kecewa!" Perkataan itu langsung menghentikan pergerakan tangan Al.
Al menatap Kalandra, dari sorot matanya terlihat bentuk penyesalan. "Gue minta maaf, Bang."
Kalandra menarik napas, lalu menghembuskannya perlahan. "Hukuman segini aja belum ada apa-apanya, Al. Lo tahu? Privasi seorang pasien itu sangat penting bagi gue, dan orang lain gak boleh tahu tanpa seizin gue dan pasien tersebut. Apa yang ada dipikirkan lo saat itu?" tanya Kalandra.
"Gue ... gue cuma kepo, Bang." Al menjawab.
Mendeng itu, Kalandra berdecih. "Hanya karena kepo? Al, umur lo bukan tergolong anak-anak lagi, lo udah dewasa! Harusnya lo paham hal-hal dasar kayak gini, bukannya jadi kekanak-kanakan. Kalau keadaannya dibalik, lo mau privasi lo kesebar? Enggak, kan?" Kalandra bertanya lagi, namun kali ini Al tak menjawab, dia hanya merespon dengan gelengan kepala.
"Walaupun lo udah sadar sama kesalahan lo, hukuman tetap hukuman!" Setelah mengakatan kalimat itu, Kalandra bangun dari kursi dan membawa piring kotor miliknya ke wastafel, lalu, ia kembali melangkah menaiki tangga menuju ke kamarnya.
- 🐬 -
Di sisi lain, tepatnya di kamar Naren, bocah itu tengah terbaring meringkuk di atas kasur. Keadaan Naren terlihat tidak baik-baik saja, sedari tadi Naren mengalami mual dan muntah, bibirnya pucat, dan keringat dingin membanjiri tubuhnya yang terasa berat digerakkan.
Suara derit pintu kamar terdengar, namun Naren sama sekali tak bisa menoleh ke sumber suara. Perlahan suara langkah kaki mendekat, di detik berikutnya Naren merasakan seseorang sedang duduk di pinggir kasurnya. Ia tak tahu siapa itu lantaran posisi mereka tidak saling berhadapan, orang itu duduk menghadap belakang punggung Naren.
Diusapnya punggung bocah itu dengan pelan, disusul suara lembut dari seorang wanita. "Naren, Tante udah buatin kamu bubur, ayo makan." Naren tahu pasti siapa orang itu, yang tak lain adalah Linda.
Usapan itu kini beralih naik ke atas kepala. "Masih mual?" Tanpa sadar, Naren mengangguk. "Kalau gitu makan dulu, ya? Biar bisa minum obat."
Meski tubuhnya terasa berat digerakkan, namun bocah itu merasa ada sedikit dorongan dalam hatinya untuk menuruti ucapan Linda. Maka, dengan tenaga yang ekstra; Naren mencoba bangkit dengan dibantu oleh Linda.
Kemudian, Linda memberikan segelas air hangat untuk Naren. Jiwa keibuan Linda benar-benar keluar, wanita itu berusaha merawat Naren dengan baik. Tak hanya itu, Linda juga berkenan menyuapi Naren yang memang masih lemah. Lalu, setelah Naren menghabiskan separuh buburnya, Naren mulai meminum obat yang diberikan oleh Linda.
"Abis ini kamu langsung istirahat ya, Ren? Tante ke dapur dulu sebentar."
Naren bergegas membaringkan tubuhnya, sedangkan Linda mulai membenarkan posisi selimut Naren agar bocah itu merasa tetap hangat. Baru setelahnya Linda keluar dari dalam kamar Naren tanpa meninggalkan suara bising.
Saat Linda sedang membersihkan mangkuk kotor bekas bubur, dari arah belakang muncul Pradipta.
"Naren gimana? Apa dia udah bisa makan?" tanya pria itu.
Linda mengangguk, senyumnya mengembang. "Udah, Mas. Walaupun gak habis, yang penting dia udah mau makan."
"Syukurlah kalau gitu. Sekarang kamu istirahat aja di kamar, biar cucian piringnya aku yang beresin," ucap Pradipta.
Linda menggelengkan kepala. "Enggak usah, ini udah mau selesai, kok. Kamu duluan aja, Mas, aku mau nemenin Naren, dia masih butuh aku."
Mendengar perkataan Linda, hati Pradipta terenyuh. "Lin, makasih, ya, karena mau ngerawat Naren."
"Kamu ngomong apa sih? Udah seharusnya aku ngerawat Naren, dia juga anakku." Linda tak berbohong, buktinya memang ia sudah menganggap Naren layaknya anak sediri jauh sebelum Pradipta mempertemukannya dengan Naren.
Jika Linda mencintai Pradipta dengan sepenuh hati, maka Linda harus bisa menerima dan mencintai Naren dengan sepenuh hati juga. Rasanya tidak adil kalau ia hanya mencintai Pradipta dan malah mengesampingkan Naren.
"Kalau gitu aku ke kamar Naren dulu ya, Mas," kata Linda, sambil membawa air hangat dalam baskom dan satu handuk kecil. Wanita itu terniat untuk mengompres Naren agar demam bocah itu turun.
Pradipta mengangguk, pria itu berpesan agar Linda juga menjaga pola tidurnya, pesan itu diterima dengan baik oleh Linda. Kemudian setelahnya, Linda berjalan menaiki tangga untuk kembali ke kamar Naren.
Saat wanita itu memasuki kamar Naren, Linda dapat melihat Naren yang sedang tertidur pulas. Wajah Naren sangat tirus, bibirnya pucat dan kering, Linda tak tahu pasti apa yang membuat Naren kehilangan berat badannya.
Linda merasa kasihan melihat keadaan Naren yang seperti itu. "Hal berat apa yang udah kamu lalui sendirian, Ren? Apa saat itu ada tangan yang bersedia menawarkan pelukan?" Linda mengusap-usap puncak kepala Naren dengan lembut, namun tangannya malah mendapati rontokan rambut.
ー TBC ー
©hwanaa / yellowna_ | Part 31| Published, 03 Juni 2025| Silakan vote dan follow jika kalian menyukai cerita ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Why Me? || Zhong Chenle
Fiksi Remaja(BROTHERSHIP + FAMILY) Jika mendengar kata rumah, apa yang langsung terlintas dipikiran? Mungkin orang akan berkata; itu seperti sebuah bangunan hangat, yang setiap kita datang membuka pintu, akan selalu ada orang-orang yang menyambut kita dengan s...
