ー Saran dan kritik diperbolehkan dengan syarat gunakan bahasa yang sopan.
ー Tidak ada karya yang sempurna, tetapi setidaknya kita mau berusaha mencoba agar lebih baik🌷✨
ー Happy enjoy it!
◥◤◥◤◥◤
Setibanya di rumah sakit, Naren langsung di bawa ke ruang periksa oleh beberapa perawat. Sementara itu Pradipta dan Dirga menunggu di depan pintu ruang periksa dengan harap-harap cemas.
Beberapa saat berlalu, pintu yang terbuat dari kaca itu mulai terbuka oleh seorang Dokter laki-laki.
"Dimana wali pasien atas nama Narendra Aftakala Rezi?" tanya Dokter, kepada mereka berdua.
Pradipta maju selangkah menghampiri sang Dokter. "Saya, Dok!"
"Kalau gitu bisa ikut ke ruang saya, Pak? Dan pasien atas nama Narendra Aftakala Rezi sudah bisa dilihat keadaannya." Ucapan Dokter diangguki oleh Pradipta. Lalu, Dokter memimpin jalan lebih dulu.
"Ga, saya titip Naren, ya?"
Dirga mengangguk, ia menepuk pundak Pradipta sekali. "Iya, biar Naren sama saya, kamu gak usah khawatir, Dip!"
Merasa aman karena Naren ada yang menjaga, Pradipta kemudian mengikuti langkah sang Dokter meninggalkan Dirga yang kini sudah masuk ke ruang periksa.
Dirga dapat melihat tubuh Naren terbaring tak berdaya di atas brankar, tangannya terpasang infus, beberapa perawat mulai pergi keluar setelah menyelesaikan tugasnya.
"Naren, kamu udah sadar?" tanya Dirga sedikit terkejut. Ia pikir Naren masih tidak sadarkan diri.
Naren mengangguk lemah. "O-om, Papa mana?" Suara yang terdengar pelan namun serak itu bertanya.
"Papa kamu lagi bicara sama Dokter, mungkin sebentar lagi juga ke sini. Kamu jangan banyak gerak, istirahat yang cukup, Ren!" cetus Dirga. Pria itu merasa kasihan pada Naren, ia tak tega melihat wajah Naren yang tirus, pun ia baru menyadari kalau Naren sudah tidak seperti dulu.
Mata Dirga seolah menolak bahwa yang ada di hadapannya ini bukanlah Naren sang keponakannya. Kemana perginya Naren yang ceria dengan pipi gembul itu?
Tubuh yang kurus, pipi tirus dan bibir yang pucat sama sekali bukan sosok Naren yang asli. "Ren, apa akhir-akhir ini kamu jarang makan? Badan kamu kurus, pipi kamu juga udah gak gembul lagi. Sebenarnya Papa kamu itu benar enggak sih ngurus anaknya?" Dirga bertanya, ia jadi merasa kesal sendiri pada Pradipta.
Namun, bukannya menjawab pertanyaan Dirga, Naren justru terdiam, entah apa yang sedang berkecamuk di dalam kepalanya, yang pasti hal tersebut tidak boleh ada orang yang tahu.
Kemudian, pintu dibuka oleh Pradipta. Pria itu menghampiri Naren juga Dirga.
"Gimana, Dip? Apa kata Dokter?" tanya Dirga.
"Dokter bilang Naren cuma kecapekan aja, dia butuh istirahat lebih," jawab Pradipta.
"Hah? Masa cuma kecapekan aja, Naren tadi keluar mimisan banyak lho, Dip!" balas Dirga, pria itu merasa ada yang ganjal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Why Me? || Zhong Chenle
Novela Juvenil(BROTHERSHIP + FAMILY) Jika mendengar kata rumah, apa yang langsung terlintas dipikiran? Mungkin orang akan berkata; itu seperti sebuah bangunan hangat, yang setiap kita datang membuka pintu, akan selalu ada orang-orang yang menyambut kita dengan s...
