(BROTHERSHIP + FAMILY)
Jika mendengar kata rumah, apa yang langsung terlintas dipikiran?
Mungkin orang akan berkata; itu seperti sebuah bangunan hangat, yang setiap kita datang membuka pintu, akan selalu ada orang-orang yang menyambut kita dengan s...
ー Saran dan kritik diperbolehkan dengan syarat gunakan bahasa yang sopan.
ー Tidak ada karya yang sempurna, tetapi setidaknya kita mau berusaha mencoba agar lebih baik🌷✨
ー Happy enjoy it!
◥◤◥◤◥◤
Meski Frederick dan para bodyguardnya telah pergi, tapi amarah dalam diri Kalandra masih belum padam. "Bajingan! Bisa-bisanya om Frederick seenaknya ngomong kayak gitu, mana bawa-bawa mendiang ayah lagi."
Masih dengan dada yang kembang kempis dan tangan yang mengepal sempurna di atas brankar, Al dengan sengaja menyentuh punggung tangan abangnya.
"Baang..." Suara parau Al menyadarkan Kalandra yang tengah menyumpah serapahi Frederick.
"Al? Lo udah sadar?" Dengan sigap Kalandra membantu tubuh Al untuk duduk.
"Tadi papa ke sini, ya?" Al bertanya. Tapi, Kalandra tak langsung menjawab hingga suara Al kembali terdengar. "Gue udah tahu, kok, semua percakapan antara Bang Alan sama papa. Bang... gue minta maaf, ya? Selama ini gue banyak ngerepotin elo. Karena gue, papa jadi ngungkit-ngungkit masalah ayah dulu."
Tangan Kalandra terangkat ke udara lalu mendarat di bahu Al. "Ngomong apa sih! Udah seharusnya gue jagain lo, Al. Kalau gue gak jagain lo, yang ada gue di gentayanganin sama ayah..." Kalandra sedikit tertawa karena ucapannya barusan.
Sudut bibir Al terangkat, menciptakan garis lengkung. "Ayah gak sejahat itu sama anaknya sendiri kali."
"Kalau ingat dulu, gue pasti selalu ngomong ke ayah kalau gue itu anak kandungnya, tapi kenapa yang paling disayang cuma lo? Sumpah deh, gue benci banget!" kata Kalandra.
"Iya juga, apalagi waktu itu ayah beliin gue mainan baru, sementara lo gak dibeliin apa-apa ahahaha..." Al tertawa, sementara Kalandra menunjukkan raut wajah masam.
"Itu salah satu momen yang paling bikin gue gedeg sama elo sampai detik ini!" Lain di mulut, lain di hati. Meski terkadang Kalandra kesal dan merasa benci pada Al, namun tak dapat dipungkiri bahwa rasa sayangnya pada Al tidak pernah luntur. "Lo emang adek gue yang paling nyebelin!" Kalandra menjitak kepala Al dengan kuat, hingga membuat sang empu mengadu kesakitan, sementara si pelaku tertawa bahagia.
"Al, lo istirahat di sini aja, ya? Pulangnya nanti malam sama gue. Hari ini gue ada jadwal mau temanin seseorang konsultasi." Kalandra sudah bersiap hendak pergi, tapi Al malah mengajukan satu pertanyaan untuk laki-laki itu.
"Pasiennya Bang Alan, kah?"
Kalandra menggelengkan kepala. "Bukan. Lo gak perlu tahu deh... ini rahasia." Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Kalandra keluar dari ruang rawat Al sambil mengetik beberapa pesan di ponselnya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.