33 : Ada Apa dengan Al?

143 27 7
                                        

ー Saran dan kritik diperbolehkan dengan syarat gunakan bahasa yang sopan.

ー Tidak ada karya yang sempurna, tetapi setidaknya kita mau berusaha mencoba agar lebih baik🌷✨

ー Happy enjoy it!

◥◤◥◤◥◤


Kemudian, suara derap langkah kaki terdengar dari arah tangga, keduanya sontak langsung mengalihkan pandangan ke sumber suara. Rupanya, itu suara langkah kaki dari Pradipta dan Harsa.

"Abang udah bangun? Perasaan tadi masih gulir-gulir di kasur, deh." Linda sedikit mengejek kebiasaan tidur Harsa.

Mendengar hal tersebut, Harsa menggembungkan pipinya, ia terlihat merajuk. "Mama jangan gitu, ah!"

Pradipta tertawa. "Yah, siapa sangka anak sekeren ini banyak plot twistnya." Perkataan Pradipta diiringi gelak tawa dari Linda, sedangkan Harsa hanya menampilkan deret giginya dengan canggung.

Melihat pemandangan di depan mata itu, membuat hati Naren sesak. Mungkin, memang sudah seharusnya ia mulai kembali membuka hati, menata ulang ruang yang berantakan untuk kembali ditempati orang baru. Tidak ada gunanya jika masih terus terjebak di dalam kubangan luka lama, karena dunia tidak akan berhenti berputar hanya karena seseorang terluka, sebab, di dunia ini penghuninya bukan cuman kita seorang.

"Enggak apa-apa, tiap orang punya kebiasaan uniknya masing-masing," celetuk Naren.

Celetukan itu membuat ketiga orang tadi terdiam dan langsung menoleh ke arah Naren. Terlihat kedua sudut bibir Linda terangkat.

"Iya, betul banget, Ren!" kata Linda. "Sekarang kita sarapan aja, ayo! Keburu dingin rotinya."

Setelah sarapan tadi, Pradipta mengantar Harsa dan Naren ke sekolah. Mobil sedan hitam milik Pradipta berhenti di depan pintu gerbang sekolah, tak lama Harsa dan Naren keluar dari dalam mobil.

Kaca mobil terbuka, "Harsa inget pesan Mama tadi, kan?" ucap Pradipta.

Harsa mengangguk. "Iya, Pa. Enggak boleh main ponsel kalau lagi belajar."

"Bagus." Sorot mata Pradipta beralih ke Naren. "Naren..." Pradipta memanggil.

"Iya, Pa?" sahut bocah itu.

"Belajar yang serius. Kalau capek, istirahat."

Meski nada bicara Pradipta terdengar datar, namun tersirat sedikit rasa khawatir, itu membuat hati Naren menghangat. Senyumnya mengembang, matanya menyipit, rona merah sedikit muncul di wajah Naren.

"Iya, makasih, Pa."

Percakapan itu diakhiri dengan anggukan kepala dari Pradipta. Tak lama, mobil sedan hitam milik pria itu mulai menjauhi area sekolah, sementara Harsa dan Naren sudah masuk ke dalam.

"Apapun tindakan Mama ke lo, jangan harap bisa masuk ke keluarga gue! Gue gak sudi punya adik kayak lo, bisanya nyusahin orang! Bikin sial! Pantes bunda lo mati, dia pasti sial punya anak kayak lo." Perkataan Harsa benar-benar menyinggung perasaan Naren.

"Apa gak cukup selama ini kamu sakitin aku? Kenapa harus bawa-bawa bunda?" Naren mengepalkan tangannya.

Harsa tak peduli, laki-laki itu malah meninggalkan Naren begitu saja tanpa merasa bersalah sedikit pun.

Naren memejamkan mata, berusaha merendam emosinya yang bergejolak. Setelah dirasa mulai mereda, kedua matanya berbuka, lalu satu tepukan pelan terasa di pundak kirinya.

"Naren! Kamu kenapa diem aja di sini?" Itu suara Idan.

Naren menoleh, ia sedikit tersenyum pada sahabatnya itu. "Enggak apa-apa, tadi aku kepikiran sesuatu."

"Apa itu?"

"Bukan hal yang penting, kok. Kita ke kelas aja, ayo."

Idan mengangguk. "Okee!"

Dari jarak yang tidak terlalu jauh, Al memperhatikan semuanya. Laki-laki itu duduk di atas motor dengan helm full face yang masih terpasang di kepalanya. "Harsa bener-bener keterlaluan!" gumamnya.

ー 🐬 ー

Atas rooftop, ada Harsa yang tengah merokok bersama Al. "Lo yakin gak mau nyebat?" tanya Harsa, namun mendapat gelengan kepala dari Al.

Setelah itu, keduanya sama-sama terdiam, hanyut pada pikirannya masing-masing. Tapi tak lama suara Al memecah keheningan.

"Sa, semua perlakuan kita ke Naren keknya bener-bener udah di luar batas. Gue ... gak bisa lanjutin lagi," kata Al.

Mendengar itu Harsa tersulut emosi. Ia membanting rokok yang sedari tadi di hisap olehnya. "Apa maksud lo? Lo gak inget Al? Gara-gara dia, kita hampir aja di D.O! Udah sewajarnya kita balas dendam ke dia!"

"Itu bukan salah dia, Sa! Kitanya aja yang emang udah keterlaluan, tidakan dia yang ngelaporin kita itu udah bener, harusnya kita sadar! Lagipun sekarang dia udah jadi adik lo!" balas Al.

Harsa terdiam, rahangnya mengeras, terlihat jelas ada amarah yang terpancar di sorot mata laki-laki itu.

"Sa, pikirin respon nyokap lo kalau sampai dia tahu anaknya jadi pembully, apalagi yang jadi korbannya itu Naren, dia pasti sedih. Dan gue juga gak mau nambah masalah, keluarga gue udah berantakan Sa, gue numpang di rumah Bang Alan, gue gak mau buat dia kecewa dengan kelakuan gue yang kayak gini," ucap Al.

Harsa menunjuk wajah Al, dengan emosi yang memuncak ia berkata, "Lo ... enggak usah ikut campur urusan keluarga gue!" Harsa berkata dengan nada penuh penekanan. Kemudian, laki-laki itu turun dari rooftop dengan perasaan campur aduk.

Al memandang punggung Harsa yang perlahan menghilang dibalik tembok, sorot matanya terlihat sedih. "Lo bener-bener buta, Sa. Gue gak mau di masa depan lo terlambat buat minta maaf."

ー TBC ー

ー Halooo.... Ada yang masih kangen Naren ga, yaaa? Sini absen dulu (≧∇≦)/




©hwanaa / yellowna_ | Part 33 | Published, 20 Feb 2026| Silakan vote dan follow jika kalian menyukai cerita ini.

Why Me? || Zhong ChenleCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang