22 : Seperti Apa Tempat Bersandar?

335 28 3
                                        

ー Saran dan kritik diperbolehkan dengan syarat gunakan bahasa yang sopan.

ー Tidak ada karya yang sempurna, tetapi setidaknya kita mau berusaha mencoba agar lebih baik🌷✨

ー  Happy enjoy it!







◥◤◥◤◥◤








Jarum jam di dinding kelas menunjukkan pukul empat lewat limabelas menit, dimana para murid-murid SHS sudah pulang sejak pukul tiga sore yang lalu. Yang tersisa di sekolah hanyalah beberapa murid yang memang sedang ada kepentingan di sekolah, misalnya sedang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Tapi, ada juga sebagian murid yang terpilih tetap berada di sekolah karena sedang ada bimbingan khusus untuk mengikuti kegiatan Olimpiade sains.

Contohnya Naren, bocah itu berada di ruang kelas bersama dengan Bu Nisaーguru pembimbingnya.

"Kemungkinan soal nomor tigapuluh dua ini akan muncul lagi, jadi tolong kamu ingat-ingat ya, Naren," kata Bu Nisa, sembari menyibak lembaran selanjutnya.

Naren mengangguk paham. Sama halnya dengan Bu Nisa, Naren juga menyibak lembaran soal berikutnya. "Bu, kalau soal nomor limapuluh dua ini akan keluar enggak, ya? Saya agak sulit untuk mengerjakannya," ucap Naren.

Bu Nisa segera mengidentifikasi soal yang dimaksud Naren itu, matanya menyipit, dahinya pun mengerut. "Mungkin akan keluar, Ren. Bukannya soal ini udah pernah kamu pelajari, ya?" tanya Bu Nisa.

"Iya Bu, pernah. Itu pun saya kesusahan dan hasilnya gak maksimal," jawab Naren.

"Kalau gitu Ibu coba jelasin lagi, ya? Kalau kamu masih belum paham, coba tanyain sama Harsa. Dia itu jago banget di bidang hitung-mengitung, cuma sangat disayangkan dia gak bisa kepilih jadi kandidat tahun ini karena sikapnya. Oh, iya! Ibu dengar, Papa kamu mau menikah sama Mamanya Harsa?"

Naren mengangguk. "Iya, Bu."

"Nah, bagus itu! Kamu bisa bebas tanya sama Harsa dan belajar bareng dia. Ngomong-ngomong, kapan acara pernikahannya, Ren? Ibu belum dapet undangannya nih, Papa kamu lagi sibuk ngurus acaranya, ya?" tanya Bu Nisa sekali lagi.

"Sabtu besok, Bu. Undangannya emang belum disebar, mungkin besok akan disebar." Naren menjawab dengan suara pelan. Entah kenapa suasana hatinya jadi tidak enak, mungkin karena Naren sangat sensitif dengan acara pernikahan papanya.

"Oh, gitu. Acaranya cepat juga, ya." Bu Nisa mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian topik pembicaraan beralih kembali ke soal Olimpiade.

Meski Bu Nisa menjelaskan dengan panjang lebar tentang soal-soal tersebut, nyatanya Naren sama sekali tidak mendengarkan suara Bu Nisa karena kini pikirannya sedang melayang jauh.

"Ini beneran Papa jadi nikah sama orang itu?" Naren membatin. Perasaan tak suka dan tak rela memenuhi hati Naren, ingin sekali Naren mengungkapkan isi hatinya, namun, Naren sadar bahwa mau segimanapun ia bersuara, Pradipta tetap tidak akan mau mendengarkan suaranya.

Kemudian saat jarum jam menunjukkan pukul lima sore, Bu Nisa mengakhiri sesi bimbingannya, Bu Nisa berpamitan untuk pulang lebih dulu karena sedang ada urusan mendesak. Di dalam ruang kelas, hanya tersisa Naren seorang, bocah itu masih sibuk mengemasi alat tulis. Saat semuanya sudah beres, Naren menggendong tas ranselnya dan keluar dari dalam ruang kelas dengan perasaan sesak memenuhi dada.

Why Me? || Zhong ChenleCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang