32 : Dunia Mimpi

369 40 8
                                        

ー Saran dan kritik diperbolehkan dengan syarat gunakan bahasa yang sopan.

ー Tidak ada karya yang sempurna, tetapi setidaknya kita mau berusaha mencoba agar lebih baik🌷✨

ー Happy enjoy it!





◥◤◥◤◥◤




Semilir angin lembut menerpa wajah Narenーmembuat kedua kelopak mata bocah itu terbuka. "Ini dimana?" gumamnya.

Naren mengedarkan pandangannya ke sekitar, berharap menemukan seseorang yang dapat ia tanyai. Tapi, tak ada satu pun orang di sana. Tiba-tiba, terdengar suara seseorang dari balik pohon besar yang berada tak jauh dari hadapannya. Seseorang itu berteriak memanggil nama Naren dengan antusias.

"NAREN, AYO KE SINI, SAYANG!"

Naren membeku. Lidahnya terasa kelu. Ia tak salah dengar, kan?

Suara itu, suara yang tak dapat lagi di dengar Naren selama bertahun-tahun. Kemudian, air mata jatuh tanpa seizin pemiliknya.

"Bunda...," Naren bergumam.

"NAREN, AYO KE SINI!"

Di detik itu juga kaki Naren mulai melangkah. Ia berlari menghampiri Rarity yang berada di balik pohon besar tersebut. Namun, saat Naren sudah berada di hadapan pohon besar itu, kakinya mendadak berhenti melangkah. Dari jarak sedekat itu Naren dapat mendengar bukan hanya ada suara Rarity saja, tapi ada suara seorang laki-laki yang sedang tertawa riang.

Naren mulai ragu untuk melanjutkan langkahnya. Sementara itu, suara Rarity masih terus memanggil. Naren terdiam beberapa detik, hingga di detik berikutnya Naren memutuskan untuk kembali melangkah.

"Bang Rama?" Naren terkejut.

Rarity dan Rama menoleh ke arah Naren, keduanya tersenyum hangat dan mempersilakan Naren untuk duduk dan ikut bergabung bersama mereka.

"Naren, Bunda rindu banget sama kamu. Kamu baik-baik aja, kan?" Bunda bertanya, tangannya mengelus punggung tangan Naren dengan lembut, kemudian membawa Naren untuk ikut duduk di sampingnya.

Sentuhan itu benar-benar terasa nyata. Perasaan hangat mulai menjalar ke hati bocah itu. Dan untuk kedua kalinya Naren menitihkan air mata. "Iya, aku baik-baik aja," jawabnya, dengan anggukkan kepala. "Tapi, kenapa ada Bang Rama di sini?" Naren merasa bingung.

Namun, bukannya menjawab pertanyaan sang anak, Rarity dan Rama hanya saling memandang satu sama lain, lalu tersenyum simpul.

"Naren, jangan putus asa, ya? Bunda yakin kamu bisa ngejalani semuanya. Bunda percaya sama kamu! Kamu enggak boleh ngerasa sendiri, oke? Ada banyak orang yang sayang sama kamu, mereka gak mau kehilangan kamu, kamu itu berharga, sayang."

Naren mengerutkan dahinya. "Apa maksudnya ucapan Bunda?"

"Nanti juga kamu tahu sendiri, sayang." Bunda berdiri, kakinya melangkah menjauhi Rama dan Naren.

"Bunda mau pergi ke mana? Bunda jangan tinggalin aku lagi, Bundaaa...," Naren hendak pergi menyusul langkah Rarity, tapi entah mengapa kakinya sulit digerakkan, seperti ada lem perekat yang menempel di sana.

"BUNDA! BUNDA ENGGAK BOLEH PERGI! BUNDA!" Naren berteriak, akan tetapi Rarity terus saja melangkah menjauh. Suasana yang cerah itu dalam sekejap berubah gelap dan berkabut, tubuh Rarity perlahan hilang tersamarkan oleh kabut tersebut.

Why Me? || Zhong ChenleCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang